Tugumalang.id – Di era digital saat ini, handphone telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengandalkan gadget untuk mencari informasi, berkomunikasi, bahkan mengisi waktu luang.
Namun, jurnalis sekaligus pembuat film Nayeema Raza melihat adanya fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Dalam bincang singkatnya di panggung TED berjudul 3 Habits to Practice Curiosity — and Escape Your Phone, Raza menyoroti sebuah kejadian yang mungkin sering dialami banyak otang.
Terkadang ada orang yang merasa sangat terhubung di dunia maya, namun justru merasa asing dan terdistraksi saat berada di dunia nyata.
Baca Juga: Upgrade Kompetensi Guru, Dinas Pendidikan Kota Batu Perluas Digitalisasi Pendidikan di Jenjang SD
Raza mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada gawai secara perlahan-lahan mengikis kemampuan manusia untuk fokus dan berempati di dunia nyata. Yang lebih penting lagi, orang cenderung menjadi malas berpikir karena segala jawaban seolah sudah tersedia di depan mata.
Untuk itu Raza memaparkan tiga langkah kecil untuk melatih curiosity atau rasa ingin tau dan mengurangi penggunaan gedget yang bisa dipraktikkan setiap hari:
1. Berhenti Sejenak (The Power of Pause)
Kebiasaan pertama adalah melatih jeda. Seringkali, orang membuka ponsel bukan karena butuh, melainkan karena refleks otomatis. Raza menyarankan untuk memberikan waktu atau jeda setidaknya satu detik sebelum memutuskan untuk menyalakan layar.
Satu detik mungkin terdengar sepele, namun jeda singkat ini memberi ruang bagi otak untuk sadar sepenuhnya. Jeda ini akan membantu kita bertanya pada diri sendiri “Apakah aku benar-benar perlu mengecek notifikasi sekarang, atau hanya sedang merasa bosan?” Latihan ini akan perlahan mengambil alih kendali atas perhatian kita sendiri.
2. Rasa Penasaran (Wonder)
Di zaman serba instan, manusia cenderung takut terhadap ketidaktahuan. Saat lupa nama aktor dalam sebuah film atau penasaran tentang suatu fakta sejarah, jempol seketika akan bergerak di mesin pencari. Raza memberikan tantangan untuk melakukan hal sebaliknya yakni dengan menikmati rasa tidak tahu.
Baca Juga: Kuliah Tamu Internasional ITN Malang Bahas Masa Depan AI dan Teknologi Digital
‘Cobalah untuk tidak langsung mencari jawaban di Google’ kata Raza. Biarkan pertanyaan itu menggantung di kepala. Proses menebak-nebak dan membiarkan imajinasi bekerja justru merupakan cara terbaik untuk mengasah kreativitas. Dengan menikmati proses berpikir, seseorang bisa membangun kembali ketajaman mental yang sering tumpul akibat informasi instan.
3. Keberanian untuk Bertanya Langsung (Ask)
Langkah terakhir, kembalilah pada interaksi yang paling dasar yakni bertanya kepada orang lain secara langsung di dunia nyata.
Alih-alih mengandalkan ulasan internet, cobalah untuk berdiskusi langsung. Bertanya kepada teman atau bahkan orang asing bukan hanya soal mendapatkan informasi, tetapi soal membangun koneksi.
Raza menekankan bahwa kehadiran secara utuh dalam sebuah percakapan jauh lebih berharga daripada sekadar data yang akurat. Dengan bertanya langsung akan membuka peluang untuk melihat sudut pandang yang berbeda, merasakan nada bicara, dan memahami emosi lawan bicara. Dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layar ponsel manapun.
Melalui tiga langkah sederhana ini, Raza mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti berani untuk hadir sepenuhnya, berani untuk merasa penasaran, dan berani untuk terhubung secara langung.
Karena kebahagiaan sejati tidak ditemukan di dalam aplikasi, melainkan dalam momen-momen saat seseorang benar-benar hadir di dunia nyata.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
Editor: Herlianto. A
























