Oleh: Didit Saleh*
Tugumalang.id – Sepuluh hari, belum cukup lama untuk benar-benar mengenal sebuah negeri, belum cukup waktu untuk merasa betah, tapi sudah lumayan untuk mulai merasakan bahwa hidup di Jerman adalah sesuatu yang nyata dan bukan sekadar rencana di atas kertas.
Saya masih dalam tahap penyesuaian yang sesungguhnya, masih mengeja nama-nama jalan, masih belajar membedakan mana antrean yang harus diikuti dan mana yang boleh dilalui, masih membiasakan telinga dengan bahasa yang bunyinya tegas dan indah sekaligus.
Di tengah semua itu, sebuah pesan masuk dari seorang kawan yang sudah menghubungi saya bahkan sebelum saya tiba di Jerman, jauh-jauh hari ketika kepergian saya masih berbentuk persiapan dan kecemasan yang bercampur aduk.

Ia mengundang saya untuk berbicara dalam sebuah konferensi tentang hak asasi manusia dan keadilan global, terutama dalam isu ekonomi politik perburuhan. Ia meminta perspektif dari seseorang yang datang dari Global South.
Baca Juga: Mazhab Frankfurt, Ketika Catatan Kaki Menjadi Nyata
Saya menyanggupi karena topik itu bukan sesuatu yang asing bagi saya, dan ada sesuatu dalam undangan itu yang terasa seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Kemudian, kawan saya menyebut di mana acara itu akan dilangsungkan, dan di sanalah saya terdiam sejenak, membaca ulang pesannya satu kali lagi untuk memastikan saya tidak salah baca, yaitu di Rosa Luxemburg Stiftung, Berlin.
Ada nama-nama yang tidak pernah benar-benar terasa seperti nama biasa. Nama-nama yang sejak pertama kali kita dengar sudah membawa bobot sejarah dan semangat tertentu, seolah orang yang menyandang nama itu masih hadir dalam percakapan kita hari ini.
Rosa Luxemburg adalah salah satu dari nama-nama itu. Kini saya diundang untuk berbicara di sebuah yayasan yang didirikan untuk merawat dan melanjutkan warisan pemikirannya.
Perjalanan dari Kassel ke Berlin saya tempuh dengan kereta cepat dan isi kepala yang sudah mulai berputar, bukan terutama memikirkan apa yang akan saya sampaikan, melainkan memikirkan perempuan yang namanya pernah saya jumpai di buku dan ruang diskusi.

Saya sudah membaca beberapa tulisannya, cukup untuk memahami mengapa ia begitu teguh dalam keyakinannya dan begitu berbahaya bagi mereka yang berkuasa. Ia lahir di Zamość, di wilayah Polandia yang saat itu berada di bawah Kekaisaran Rusia.
Sejak muda ia terlibat dalam gerakan bawah tanah melawan rezim Tsar, dan ketika ia kemudian berkiprah di Jerman, ia membawa serta keberanian itu ke dalam gerakan sosialis yang sedang bergolak di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Baca Juga: Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Buku dan Filsafat
Hal yang membuat Luxemburg berbeda dari banyak pemikir kiri sezamannya bukan hanya ketajaman analisisnya, melainkan penolakannya untuk berkompromi dengan kenyamanan. Ia bukan hanya seorang pemikir, tetapi juga seorang orator yang mampu menggugah.
Dalam perdebatan dengan para pemimpin Partai Sosial Demokratis di Jerman yang semakin condong pada jalur parlementer yang gradual, Luxemburg tidak pernah menyembunyikan kritiknya.
Ketika partai-partai kiri mendukung pendanaan perang pada 1914, ia termasuk di antara suara paling keras yang menolak dan memilih dipenjara daripada mengkhianati prinsip bahwa perang antarbangsa hanya melayani kepentingan kelas berkuasa.
Salah satu karyanya yang pernah saya baca dengan tekun adalah The Mass Strike, the Political Party, and the Trade Unions (1906) yang ia tulis setelah menyaksikan gelombang revolusi di Rusia.
Di sana ia berargumen bahwa pemogokan massal bukan sekadar alat taktis yang bisa dihidupkan atau dimatikan oleh keputusan partai atau pimpinan serikat buruh, melainkan ekspresi organik dari kesadaran kelas yang sedang tumbuh, sesuatu yang hidup dan tidak bisa sepenuhnya dikendalikan dari atas.
Dalam hal ini ia juga berseberangan dengan sebagian pemimpin serikat buruh pada zamannya yang dianggap terlalu berhati-hati dan terlalu terikat pada kompromi institusional. Bagi Luxemburg, perjuangan buruh bukan sekadar soal upah dan jam kerja, tetapi bagian dari proyek emansipasi manusia yang lebih luas.
Tulisannya tentang akumulasi kapital juga memperluas analisis Marx dengan cara yang penting. Ia melihat bahwa kapitalisme tidak bisa bertahan hanya dari dirinya sendiri.
Kapitalisme membutuhkan wilayah-wilayah di luarnya untuk terus berekspansi dan menyerap sumber daya serta memperluas pasar. Wilayah-wilayah itu kemudian kita kenal sebagai dunia kolonial, dan dalam istilah kontemporer, Global South.
Dalam tesis itu, terdapat kejelasan yang tidak nyaman bahwa ketimpangan global bukan semata hasil kegagalan internal suatu negara, tetapi juga bagian dari struktur ekonomi kapitalisme global yang lebih luas.
Rosa Luxemburg dibunuh pada Januari 1919, dalam konteks penumpasan Spartacist Uprising, oleh pasukan paramiliter Freikorps. Operasi ini berlangsung dengan dukungan dari pemerintah yang saat itu dipimpin oleh kaum sosial-demokrat, termasuk tokoh seperti Gustav Noske.
Tubuhnya dipukuli, ditembak, dan dibuang ke kanal di Berlin. Kematiannya sering dibaca sebagai salah satu tragedi paling pahit dalam sejarah gerakan kiri Eropa bukan hanya karena kekerasannya, tetapi juga karena terjadi dalam konflik internal di dalam spektrum politik kiri itu sendiri.
Ia tidak sempat melihat banyak dari apa yang ia perjuangkan terwujud. Namun pemikirannya bertahan, melampaui kematiannya, melampaui perang dan perubahan rezim, hingga akhirnya diabadikan dalam sebuah yayasan yang hari ini terus membuka ruang bagi pendidikan politik kritis dan dukungan terhadap gerakan sosial.
Ketika kereta akhirnya membawa saya masuk ke Berlin dan saya berjalan menuju kantor yayasan itu, saya menemukan sebuah bangunan bata merah yang bersih dan hidup, modern tetapi tetap berkarakter. Namun sebelum mencapai pintu masuk, saya berhenti.
Di depan gedung itu berdiri sebuah patung perunggu seorang perempuan, yang tidak megah dalam arti monumental, tetapi terasa hidup. Tubuhnya seolah sedang bergerak, wajahnya menghadap ke depan tanpa ragu, tangannya terbuka seperti sedang berbicara.
Di bawahnya tertulis nama Rosa Luxemburg. Saya berdiri di depannya lebih lama dari yang saya rencanakan, membiarkan momen itu bekerja dengan caranya sendiri antara teks yang pernah saya baca dan patung yang kini berdiri nyata di depan saya, antara sejarah yang tertulis dan sejarah yang masih berdenyut di kota ini.
Di dalam, diskusi berlangsung dengan hangat dan hidup, dengan peserta dari berbagai negara yang membawa perspektif yang beragam. Ketika acara selesai dan orang-orang mulai beranjak, saya memilih untuk tinggal sejenak, membiarkan keheningan yang datang setelah diskusi panjang mengisi ruang dengan caranya sendiri.
Dalam sebuah surat dari penjara, Luxemburg pernah menulis tentang ketenangan yang ia rasakan di tengah badai, bukan karena ia tidak peduli, tetapi justru karena ia peduli begitu dalam hingga ketakutan tidak lagi punya tempat untuk bersembunyi.
Saya tidak tahu apakah saya bisa memahami sepenuhnya keberanian semacam itu. Tapi berada di ruang yang menyandang namanya, di kota tempat ia berjuang dan akhirnya dibunuh, membuat perasaan dan keberanian itu terasa lebih dekat, bukan sebagai sesuatu yang mitologis, tetapi sebagai sesuatu yang sangat manusiawi.
Saya keluar dari pintu merah itu dengan perasaan yang berat dengan cara yang menyenangkan, berat karena terlalu banyak yang harus dipikirkan, dan menyenangkan karena itu adalah tanda bahwa tempat ini benar-benar telah bekerja pada diri saya, bukan sekadar disinggahi.
Kantor Rosa Luxemburg Stiftung dan patung perempuan yang berdiri dalam perunggu di depannya mengajarkan saya bahwa bertanya saja tidak cukup jika kita tidak bersedia menanggung konsekuensi dari pertanyaan itu.
*Penulis adalah alumni Unisma Malang dan sedang studi di Universität Kassel, Jerman
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News


























