Malang – Kompetisi Stand Up Comedy Malang Jeh 2026 kembali digelar sebagai ruang bertumbuh bagi talenta komika Jawa Timur. Memasuki season ketiga, babak semifinal dinilai menjadi fase paling kompetitif sepanjang sejarah penyelenggaraan, dengan kualitas peserta yang semakin merata dan standar penilaian yang kian tinggi.
Penilaian tersebut disampaikan langsung oleh Dewangga, komika nasional yang kembali dipercaya menjadi juri STMJ 2026. Ia mengungkapkan bahwa proses seleksi pada babak semifinal kali ini menghadirkan tantangan tersendiri karena ketatnya persaingan antar peserta.
“Ini ketiga kalinya saya jadi juri kompetisi STMJ dan baru di season 3 ini yang paling sulit menentukan lima besar. Selisih poinnya ketat banget,” ujar Dewangga saat menjadi tim juri babak Semifinal STMJ 2026 di kampus Unikama, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, proses penilaian dilakukan secara komprehensif dengan sejumlah indikator utama, mulai dari respons tawa penonton atau Laugh Per Minute (LPM), kekuatan materi, hingga delivery saat tampil di atas panggung. Ia juga menekankan pentingnya orisinalitas sebagai fondasi utama dalam kompetisi.
“Tadi ada komika yang sebenarnya lucu, tapi pakai materi audisi awal. Itu jadi nggak sah karena aturannya semua harus pakai materi baru,” jelasnya.
Dari sisi atmosfer acara, antusiasme penonton menjadi catatan positif tersendiri. Dewangga menilai STMJ 2026 terasa lebih hidup dengan kehadiran berbagai komunitas stand up comedy dari luar kota yang turut memeriahkan suasana.
“Antusiasnya seru banget. Banyak komunitas luar kota juga, jadi vibes-nya hidup dan menyenangkan,” katanya.
Baca juga: Selamat! 15 Komika Terbaik Berhasil Lolos ke Babak Semifinal Kompetisi Stand Up Comedy STMJ 2026
Kepada para peserta, Dewangga berpesan agar komika yang lolos ke babak final benar-benar mempersiapkan diri secara maksimal. Sementara bagi yang belum beruntung, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam proses bertumbuh.
“Yang lolos, siapkan materi terbaik untuk final. Yang belum lolos, ya kerja yang lebih keras saja,” ucapnya.

Lebih jauh, Dewangga menilai kompetisi seperti STMJ memiliki peran strategis dalam menjaga arah perkembangan komika daerah. Minimnya ruang kompetisi dinilai dapat membuat proses pembinaan talenta berjalan tanpa target yang jelas.
“Kompetisi ini penting untuk menghidupi komika komika daerah yang sedang merintis. Dengan adanya kompetisi rutin skala regional atau provinsi, mereka punya target dan semangat. Ini sangat membantu,” tuturnya.
Ia berharap Stand Up Comedy Malang Jeh 2026 tidak hanya menjadi ajang adu lucu, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran dan penguatan ekosistem stand up comedy di Jawa Timur.
Dewangga turut membagikan pesan sederhana bagi komika yang ingin terus tumbuh dan berkembang.
“Nothing to lose saja, ikhlas. Yang penting mau menerima masukan. Sering sering open mic itu wajib,” tandasnya.
Kompetisi Stand Up Comedy Malang Jeh 2026 ini didedikasikan Tugu Media Group untuk memperingati Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Diketahui, Gus Dur merupakan sosok pluralis yang dicintai rakyat Indonesia. Guru bangsa ini dikenal memiliki selera humor yang tajam namun menyejukkan. Jika diselami, humor Gus Dur mampu merawat kewarasan berpikir.

Event ini menghadirkan nuansa baru dalam merawat pemikiran-pemikiran humanis, kritis, dan humoris Gus Dur, sekaligus membuka ruang ekspresi bagi komika muda Jawa Timur untuk mengembangkan kreativitas mereka.
Animo besar mewarnai kompetisi ini. Tercatat, ratusan komika dari berbagai daerah di Jawa Timur telah mendaftar, mulai dari Malang, Kediri, Jombang, Pasuruan, Mojokerto, Tulungagung, Jember hingga Banyuwangi.
Kompetisi ini didukung oleh Bank BTN, UIN Malang, Project Management Unit (PMU) UIN Malang, MS GLOW FOR MEN, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Agro Mineral Water, Grand Mercure Malang, Kahf, Perum Jasa Tirta I, Malang Strudel, serta community partner Stand Up Indo Malang dan Amazing Malang sebagai media partner.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko


























