Oleh: Prof. Dr. HM. Zainuddin, MA*
Tugumalang.id – Santri berperan besar dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam peran sosial-kemasyarakatan, lembaga pendidikan pesantren membimbing masyarakat dengan mempertimbangkan maqashid syariah, yakni mashlahah (kebaikan dan harmoni hidup bersama).
Dalam peran kenegaraan, santri membebaskan negeri dari segala bentuk penjajahan dan penindasan dengan kokoh memegang komitmen demi perkembangan dunia yang terus berubah.
Dalam peran reformasi, santri turut serta mengawal pemerintahan, melalui lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif (tauhid al-ummah dan tauhid al-hukumah).
Peran lain yang tak kalah pentingnya dari masa ke masa adalah: Pertama, pada era Pra Kemerdekaan, yaitu fase embrio lahirnya pesantren dimulai zaman Wali Songo, sekitar abad 15-16.
Baca Juga: Pesantren Hijau, Jalan Baru Peradaban Santri
Kehidupan para santri sejak Pra Kemerdekaan selalu berhadapan dengan masalah eksistensi bangsa. Di antaranya adalah perlawanan santri menghadapi penjajah di Sumatera Barat (1821-1828), Perang Jawa (1825-1830), Perlawanan di Barat Laut Jawa pada 1840 dan 1880, serta Perang Aceh pada 1873-1903.
Sementara di Jawa Barat, ada Perang Kedongdong (1808-1819). Perang yang terjadi di Cirebon ini melibatkan ribuan santri dalam pertempurannya.
Kedua, era Kemerdekaan, di mana para ulama dan santri berperan untuk menggalang kekuatan dalam rangka merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.
Paling tidak sejarah “Resolusi Jihad” pada Oktober 1945 menjadi bukti kontribusi nyata kaum santri dalam merebut kemerdekaan.
Kita juga diingatkan sejarah bagaimana dahulu Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah di bawah komando dan barisan KH Zainul Arifin, KH Masjkur dan KH. Wahab Hasbullah telah menjadi kekuatan juang kemerdekaan saat itu, dan yang hari ini telah bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Baca Juga: Wali Kota Batu Nurochman Dorong Santri Jadi Pelopor Kemajuan Peradaban Dunia
Bersama KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah (1888-1971) juga berkontribusi besar dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dengan mempelopori semangat nasionalisme melalui pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dan Lembaga Pendidikan Pesantren (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) serta pelopor perjuangan fisik melawan penjajah melalui Laskar Hizbullah.
Beliau juga merupakan penggagas konsep Halal Bihalal sebagai sarana rekonsiliasi politik, serta mempromosikan kebebasan berpikir dan dialog melalui kelompok diskusi Tashwirul Afkar, yang semuanya berkontribusi pada pembentukan identitas dan kemerdekaan Indonesia (M. Zainuddin, 2024: 65).
Bersama KH. Hasyim Asy’ari dan Mas Mansoer, K.H. Wahab Hasbullah juga mendirikan koperasi sebagai badan usaha yang menggerakkan ekonomi rakyat, jauh sebelum koperasi menjadi salah satu bentuk Badan Usaha Mandiri Nasional (BUMN era itu).
Dengan demikian, koperasi yang menjadi soko guru perekonomian nasional yang tercantum dalam UUD1945 bukanlah cita-cita yang lepas dari akar sejarahnya (a historis).
Namun secara empirik pernah dilakukan oleh para santri sebelumnya, yang dikomandani langsung oleh dua tokoh legendaris (guru dan murid) yaitu, KH Hasyim Asy’ari (pendiri pesantren Tebuireng) dan KH Wahab Hasbullah pendiri pesantren Bahrul Ulum Tambakberas (keduanya di Jombang) yang sangat terkenal di tanah air.
Bahrul Ulum adalah pondok pesantren yang sudah berusia dua abad menjelang tiga abad ini sudah berkembang sedemikian pesat dengan jenjang pendidikannya yang komplet, mulai dari dasar, menengah hingga perguruan tinggi, dan sudah menghasilkan para kader pejuang dan alumni yang tersebar di seluruh tanah air mengikuti para pendahulunya.
Bahrul Ulum sendiri merupakan nama besar dan penuh optimisme yang berarti “lautan ilmu”. Dengan harapan pesantren ini menjadi lautan yang luas dan dalam bagi orang-orang yang haus mencari ilmu yang tiada habisnya, sebagaimana motto dalam logonya:
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا (الكهف ١.٩)
Transformasi Pesantren
Kini upaya transformasi sistem pendidikan pesantren (pengembangan dan pembaharuannya) sudah banyak dilakukan. Upaya pembenahan tidaklah mudah, sebab seperti yang dikatakan oleh A. Mukti Ali, pesantren adalah milik pribadi kiai.
Oleh karena itu, wajarlah jika masih ada pesantren yang tetap bertahan dengan tradisi lamanya dan tidak mau menerima pembaruan. Mukti Ali juga mengapresiasi model “madrasah dalam pesantren”, yang dinilainya sebagai sistem pendidikan yang paling baik.
Oleh karena itu pesantren seharusnya dilengkapi dengan pendidikan ketrampilan, pertanian, pertukangan, kepramukaan, seni dan olahraga. Dengan demikian dalam pendidikan madrasah pesantren akan terhimpun tiga komponen: seni, ilmu, dan agama (Pesantren, 2/1987).
Dewasa ini pesantren sudah banyak yang memiliki sekolah atau madrasah negeri. MTsN, dan MAN, SMP, SMA dan SMK. Begitu pula sudah bermunculan perguruan tinggi.
Statistik Pendidikan Islam Kementerian Agama 2020/2021 melaporkan, bahwa jumlah madrasah di Indonesia saat ini sekitar 83.391 lembaga, terdiri dari jenjang madrasah terbanyak berada pada jenjang Raudlatul Athfal (RA) yakni sebanyak 30.148 RA atau setara dengan 36.08%.
Berikutnya, jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebanyak 25.840 MI (30,92%), Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebanyak 18.380 MTs (21,99%) dan sisanya Madrasah Aliyah (MA) sebanyak 9.150 MA (11,01%). Jika ditambah pondok pesantren menjadi 113.886 lembaga.
Jika dipersentasekan, jumlah pondok pesantren dengan pendidikan keagamaan menjadi 26,77%. Persebaran pesantren di Jawa Timur sebanyak 5,121 lembaga dengan jumlah santri mencapai 970.541 santri.
Sementara itu jumlah ustadz yang mengabdi di pesantren seluruh Jawa Timur mencapai 95,681 orang. Inilah kekuatan besar santri sebagai modal dan prisai NKRI.
Pesantren memang perlu sistem pendidikan yang terbuka, memenuhi tuntutan zaman, namun tidak boleh kehilangan eksistensi dan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan agama.
Orientasi keilmuannya pun jangan terpaku pada PTKIN. Modal yang sudah mapan di pesantren tidak perlu terkikis oleh arus modernisasi dan globalisasi.
Suatu optimisme dalam dunia pesantren, namun di sisi lain pesantren juga perlu melihat kelemahan-kelemahannya. Kelemahan pesantren memang bukan tidak ada, misalnya soal manajemen, kepedulian terhadap eko-sistem dan proses kaderisasi yang lamban.
Beberapa kelebihan pendidikan di pesantren antara lain adalah, terbentuknya karakter yang tidak dapat diragukan lagi. Melalui role model para kiai, mereka diajarkan bagaimana menjadi manusia yang berakhlak mulia.
Kompetensi bahasa Arab dan dan khazanah kita turats juga diakui, dengan tradisi baca kitab kuning dan penguasaan ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf, Balaghah dan seterusnya.
Hanya yang perlu ditambahkan di era digital ini adalah perlunya pengelolaan lembaga secara managerial dan professional, serta kompetensi bahasa Inggris dan ICT pada setiap jenjang pendidikan formalnya.
Jika tiga hal ini dapat dipenuhi, maka pendidikan peantren menjadi pola pendidikan yang menjanjikan masa depan dan tetap menjadi kiblat pendidikan di era modern dan global.
*Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Rektor Periode 2021-2025 dan alumni MAN PPBU tahun 1980
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























