Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya

Saat Dunia Ada di Genggaman, Tapi Hati Terasa Kosong

Redaksi by Redaksi
Juli 21, 2025 3:45 pm
in Tugu Sehat
Membandingkan diri di Media sosial

Ilustrasi:foto/freepik

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id-Pernah nggak sih, kamu baru saja menikmati momen bahagia-nonton film favorit, ngobrol bareng teman, atau menyelesaikan tugas penting-tapi begitu buka Instagram atau TikTok, tiba-tiba ngerasa kurang? Kayak hidup orang lain jauh lebih keren, lebih sukses, lebih ‘wah’ daripada kita.

Fenomena ini nggak datang begitu saja. Secara psikologis, otak kita memang punya mekanisme alami untuk merasa “cukup.” Tapi di era media sosial, standar ‘cukup’ itu sering kali bukan berasal dari dalam diri, melainkan dari apa yang kita lihat di layar. Dan yang kita lihat? Biasanya cuma potongan-potongan terbaik dari hidup orang lain.

READ ALSO

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Media sosial, yang awalnya jadi tempat terhubung dan hiburan, malah berubah jadi cermin pembanding. Kita buka HP buat santai, tapi malah pulang dengan rasa hampa. Kenapa bisa begitu?

Social Comparison Theory: Saat Otak Selalu Cari Cermin

Dunia ada di genggaman
Saat Dunia Ada di Genggaman, Tapi Hati Terasa Kosong. Ilustrasi:foto/freepik

Menurut Leon Festinger, seorang psikolog sosial, manusia punya kecenderungan alami untuk mengevaluasi diri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory.

Baca juga: Brain Rot: Ketika Otak Lelah karena Media Sosial

Sebenarnya, membandingkan diri itu bisa positif—kalau tujuannya untuk berkembang. Tapi di media sosial, kita nggak cuma membandingkan diri dengan teman sekolah atau rekan kerja, tapi juga dengan selebgram, influencer, dan orang-orang yang bahkan nggak kita kenal. Mereka tampil dengan gaya hidup sempurna, wajah glowing, prestasi segudang, dan liburan mewah. Akibatnya, kita mulai merasa tertinggal, tidak cukup, bahkan gagal.

Self-Esteem yang Tergantung Like dan Views

Harga diri
Ilustrasi:foto/freepik

Harga diri (self-esteem) seharusnya datang dari dalam diri—dari rasa bahwa kita berharga hanya karena kita ada. Tapi menurut Jennifer Crocker dan Connie T. Wolfe, saat ini kita cenderung mengalami yang disebut contingent self-esteem, yaitu harga diri yang bergantung pada faktor eksternal seperti jumlah likes, views, atau komentar.

Masalahnya, validasi digital ini sifatnya sangat rapuh. Satu komentar negatif bisa menghancurkan kepercayaan diri. Satu unggahan yang sepi respons bisa bikin kita merasa nggak dianggap. Padahal, angka-angka itu sama sekali bukan penentu nilai hidup kita. Ada orang yang luar biasa inspiratif tapi nggak viral. Sebaliknya, ada juga yang ‘biasa saja’ tapi jago membangun citra menarik di media sosial.

Citra Diri: Siapa Kita Saat Kamera Mati?

Donald Winnicott, seorang psikoanalis, memperkenalkan konsep false self, yaitu versi diri yang dibentuk untuk memenuhi harapan orang lain. Di media sosial, kita cenderung menampilkan versi ideal diri: selalu bahagia, produktif, cantik, dan sukses.

Tapi kalau setiap unggahan hanya tentang pencitraan, kita bisa kehilangan jati diri. Lama-lama kita takut terlihat “biasa,” takut jujur, bahkan takut mengenal diri sendiri lebih dalam. Kita sibuk memoles citra, sampai lupa siapa sebenarnya kita ketika kamera mati.

Jadi, Media Sosial Itu Jahat? Belum Tentu

Marah
Ilustrasi:foto/freepik

Media sosial bukan musuh. Ia cuma alat. Bisa jadi sumber inspirasi, hiburan, bahkan tempat membangun komunitas positif. Tapi ia juga bisa menjadi jebakan, kalau kita kehilangan kesadaran saat menggunakannya.

Baca juga: Ramai jadi Perbincangan di Media Sosial, Berikut Penjelasan Istilah Tone Deaf

Yang penting adalah: jangan biarkan kehidupan digital mengaburkan realita personal. Tetap terhubung dengan diri sendiri. Sadari kapan harus berhenti scrolling dan mulai mendengarkan hati.

Kesimpulan: Keseimbangan Adalah Kunci

Membandingkan diri di media sosial adalah hal yang wajar, tapi perlu disadari dampaknya. Dengan memahami proses psikologis di baliknya, kita bisa lebih bijak menggunakan media sosial-bukan sebagai tolok ukur nilai diri, tapi sebagai sarana koneksi, ekspresi, dan inspirasi.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: citra diricontingent self-esteemDampak Media Sosialharga diriKesehatan MentalMedia SosialMental Healthperbandingan sosialpsikologi media sosialself-esteemsocial comparisonsocial comparison theory

Related Posts

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit
Tugu Sehat

8 Manfaat Kimpul untuk Kesehatan, dari Pencernaan hingga Kulit

Rabu, 14 Okt 2026
Akademisi UMM Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru
Tugu Sehat

Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-Paru, Akademisi UMM Ungkap Risikonya

Senin, 31 Agu 2026
Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat Jadi Kunci Hidup Sehat
Advertorial

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Jumat, 14 Agu 2026
Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Tugu Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Jumat, 14 Agu 2026
7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C
Tugu Sehat

7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C

Senin, 10 Agu 2026
Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi
Tugu Sehat

Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Rabu, 5 Agu 2026
Next Post
ITN Malang kunjungan ke Kementerian PUPR

Studi Ekskursi PWK ITN Malang: Jelajah Transportasi Publik, Aviary Irfan Hakim, hingga Gedung Hijau Kementerian PU

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.