Malang – Ribuan warga Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, tumpah ruah meramaikan peringatan Haul ke-184 Mbah Sogol, tokoh yang dikenal sebagai pembabat alas pertama wilayah tersebut. Acara yang berlangsung pada Senin (7/7/2025) ini menjadi tradisi tahunan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
Peringatan haul dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dengan kirab budaya yang diikuti lebih dari 1.000 peserta. Rombongan kirab bergerak dari Kantor Kecamatan Gondanglegi menuju makam lama Mbah Sogol di area eks Terminal Gondanglegi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke makam baru di Jalan Hayam Wuruk, Desa Gondanglegi Wetan—tepatnya di pemakaman umum di sebelah utara RSI Gondanglegi.
Sesampainya di makam baru, warga bersama para tokoh masyarakat menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Mbah Sogol yang berjasa dalam membuka kawasan Gondanglegi pada masa lampau.

Baca juga: Haul Mbah Sogol, Warga Gondanglegi Gelar Kirab Tumpeng dan Makan Bersama
Tradisi Tumpeng dan Kirab Meriahkan Acara
Menurut Muhammad Mansyur, salah satu panitia penyelenggara grebeg Haul ke-184 Mbah Sogol, kirab diikuti oleh 20 kelompok warga dari berbagai kampung di seluruh Kecamatan Gondanglegi. Masing-masing kelompok membawa tumpeng kecil sebagai simbol sodakoh dan ungkapan syukur.
“Tumpeng ini akan dimakan bersama-sama usai kirab. Sementara tumpeng raksasa disiapkan untuk masyarakat umum yang ingin ikut menikmati,” jelas Mansyur.
Dalam kirab tersebut, warga mengarak tiga tumpeng raksasa. Dua di antaranya berisi kerupuk dan makanan ringan, sedangkan satu tumpeng berisi nasi sogol dan aneka sayur mayur, sesuai dengan nama sang tokoh yang dikenang.
Warga Antusias Berebut Berkah dari Tumpeng Raksasa
Sesampainya di area pemakaman, warga yang telah menunggu dengan antusias langsung berebut isi tumpeng raksasa. Beberapa warga bahkan rela memanjat gunungan makanan demi mendapatkan bagian dari puncak tumpeng, yang diyakini membawa berkah.
Baca juga: Ratusan Warga Gondanglegi Berebut Nasi Mbah Sogol
Mansyur menjelaskan, nasi sogol yang diperebutkan warga merupakan nasi yang dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam bambu. Konon, ini merupakan cara Mbah Sogol menanak nasi.
“Cara menanak nasinya menggunakan bambu. Dulu pada zamannya Mbah Sogol belum ada panci, jadi menggunakan bambu,” terang Mansyur.
Haul Mbah Sogol mulai diperingati besar-besaran di tahun 2015. Ini merupakan cara warga Gondanglegi memberikan penghormatan bagi sosok yang dulunya pernah menjadi bagian dari laskar Pangeran Diponegoro tersebut.
“Haul ini artinya selamatan, kami mengirim doa untuk Mbah Sogol,” kata Mansyur.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Purwoto mengatakan, peringatan yang dilaksanakan setiap tahun ini memiliki potensi menjadi daya tarik wisata di Gondanglegi. Apabila didokumentasikan dan dipromosikan dengan baik, Haul Mbah Sogol bisa menjadi populer seperti Pesona Gondanglegi.
“Kegiatan ini bisa lebih ditingkatkan lagi sehingga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan,” kata Purwoto.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























