Tugumalang.id – Kampung Sanan merupakan sebuah nama kampung yang sudah terkenal hasil produknya, yakni olahan tempe dan keripik tempe khas Kota Malang. Kampung yang berlokasi di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini memiliki lebih dari 500 IKM (Industri Kecil Menengah) atau rumah produksi yang bergerak di bidang industri olahan dan juga keripik tempe.
Jika kita melihat sejarah kampung ini, industri tempe yang telah menjadi mata pencaharian utama dari 80% warga di sana sudah ada sejak abad ke-16.
Baca Juga: Peternak di Kampung Sanan Mengaku Wabah PMK Tak Pengaruhi Penjualan Sapi
Ini diteruskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi hingga berkembang menjadi Kampung Sanan yang dikenal saat ini. Kini, Kampung Sanan memproduksi lebih dari 20 ton kedelai per harinya untuk diolah menjadi produk-produk unggulan dari kampung ini.
Produk inilah yang kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, hingga diekspor ke luar negeri seperti Inggris.
Jumlah pengolahan kedelai yang masif ini tentunya akan menghasilkan jumlah limbah yang besar juga. Untuk mengakali hal tersebut, Kampung Sanan memiliki cara unik tersendiri untuk mengolah limbah sisa dari proses pengolahan tempe di sana.
Pengolahan limbah menjadi sesuatu yang dapat digunakan kembali merupakan visi utama dari Dra. Trinil Sri Wahyuni, yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata Kampung Sanan.

Hasil dari pengolahan limbah tempe yang dihasilkan kampung ini cukup beragam dan kreatif, salah satu limbah yang paling besar adalah limbah tepung goreng gosong (remahan).
“Biasanya kalo sehari produksi tempe sekitar 3,5 kuintal, sisa tepung remahannya bisa hampir setengah kuintal sendiri,” ucap Roisyah, salah satu pemilik IKM di sana.
Baca Juga: Seperti Ini Keseruan Karnaval 17 Agustus di Kampung Tempe, Sanan, Kota Malang
Remahan ini kemudian diolah dan digunakan kembali menjadi beberapa bentuk. Jika sisa remahan masih dalam kondisi baik dan layak makan, remahan ini akan dijual ke pedagang-pedagang pecel setempat.
Namun jika remahan hasil penggorengan sudah dalam kondisi tidak baik atau gosong, maka akan dialihkan untuk dijadikan bahan bakar untuk proses perebusan kedelai.
“Kami para IKM jadinya ga rugi sama sekali, karena sisa dari penggorengan bisa dipakai buat perebusan lagi, malah jadinya untung deh karena kalo ada remahan yang masih bagus, bisa dijual lagi ke tukang pecel,” jelas Roisyah, yang menunjukkan daur ulang limbah yang dilakukan oleh para pemilik IKM dapat menghasilkan keuntungan tambahan bagi mereka.
Sistem penjualan yang dilakukan kepada para pedagang pecel biasanya menggunakan sistem kontrak, sehingga pemilik IKM telah mendapatkan pelanggan tetapnya dan tidak saling berebutan dengan rumah-rumah IKM lainnya.
Selain dari sisa penggorengan, Kampung Sanan juga memanfaatkan limbah dari kulit kedelai menjadi bentuk yang dapat fungsional terhadap proses pengolahan produk-produk tempe.
Limbah dari kulit kedelai ini dibagi menjadi dua, yakni kulit kedelai yang masih kering dan kulit kedelai basah yang berasal dari sisa proses perebusan kedelai.
“Kulit kedelai kering ini ga dibuang begitu aja loh, oleh kami diolah lagi buat nantinya jadi tepung yang bisa dipakai untuk membuat produk-produk lagi seperti cookies, brownies, puding silky, dan macaroon,” ujar Trinil.
Sedangkan untuk kulit kedelai basah, akan disajikan sebagai pangan ternak yang ada di Kampung Sanan, seperti sapi dan kambing yang jumlahnya hampir 800 ekor di sana.
“Untuk makan ternak kayak sapi dan kambing disini biasanya pakai kulit kedelai basah yang dicampur sama air rebusan kedelai yang udah ga dipakai, sama biasanya dicampur lagi sama rumput atau makanan lain biar ternak-ternaknya ga bosen,” jelas salah satu peternak yang ada di sana.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Jericho Abimanyu M.S
Editor: Herlianto. A





























