MALANG – .Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya, dr. Djoko Heri Hermanto, menegaskan pihaknya belum mendengar adanya laporan tenaga medis yang menolak vaksinasi.
”Kalau diskusi, opini-opini ada. Tapi sejauh ini tidak ada. Dengan ini, Insya Allah semua anggota IDI, para dokter di Malang, siap untuk vaksinasi,” ungkap Heri pada awak media usai vaksinasi.
Terkait jumlah total nakes yang melebihi jumlah nakes penerima vaksin ini jelas dia memang karena tidak memenuhi syarat untuk vaksinasi. Sebagai informasi, dari total sekitar 13 ribu nakes di Kota Malang, hanya 12 ribu nakes yang memenuhi syarat.
Menurut Heri, nakes yang tidak memenuhi syarat itu lantaran ada 69 orang sudah terpapar virus alias kontra-indikasi. Kedua, nakes yang sudah berumur alias berusia 60 tahun ke atas. Ketiga, karena nakes ini memiliki penyakit komorbid alias penyakit penyerta.
Lebih jauh, Djoko menilai pelaksanaan vaksinasi ini tepat lantaran dalam kondisi emergency (darurat), meski memang tingkat efikasi vaksin jenis sinovac ini baru di angka 65,3 persen. Bicara idealnya, kata Heri tentu seusai kaidah penelitian 95 persen.
”Menurut WHO tidak apa-apa vaksin itu bisa dipakai asalkan lebih dari 50 persen (efikasi). Nah, vaksin ini sudah 65,3 persen dan untuk keperluan emergency. Jadi bisa dipakai,” paparnya.
Artinya, dengan vaksinasi ini bukan berarti dapat menekan angka penularan secara massif. Kata Heri, dengan vaksin ini, sistem imunitas tubuh meningkat. Apalagi, jika vaksinasi ini sudah menyentuh semua lapisan penduduk.
”Dari sini, saya berharap angka penularan menurun sebesar mungkin karena sudah ada imunitas kelompok (herd immunity),” katanya.
Terlepas dari itu, vaksin bukan jalan akhir karena penduduk masih harus disiplin menerapkan protokol kesehatan, tidak boleh sembrono. Pasalnya, antibodi yang optimal baru terbentuk dalam 14 hari setelah vaksinasi.
”Nah makanya, untuk penurunan angka penularan itu bisa kita lihat nanti, menurun atau tidak setelah imunisasi ini,” ujarnya.
























