Kamis, Agustus 20, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Kuliner

Kuliner Legendaris Sate Gebug di Kayutangan, Jaga Kualitas Jadi Rahasianya Bertahan hingga 1 Abad

Redaksi by Redaksi
Agustus 3, 2024 6:02 pm
in Kuliner
Sate gebug yang kualitas rasanya terjaga sejak 1920. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Sate gebug yang kualitas rasanya terjaga sejak 1920. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Sebelum ramai dengan kuliner kekinian dan kafe-kafe yang menyediakan hidangan modern, Kayutangan dipenuhi dengan warung-warung yang menjual santapan tradisional. Salah satunya ada Warung Sate Gebug yang letaknya di ujung kawasan Kayutangan.

Sejak tahun 1920, Warung Sate Gebug menyajikan daging sapi cincang yang dilekatkan di tusuk bambu dan dibakar menggunakan arang.

READ ALSO

5 Jajanan di Matos Malang yang Menarik Dicoba, Ada Chikuro hingga Tianlala

5 Coffee Shop Unik di Malang yang Viral di TikTok, Ada Nuansa Horor dan Jepang

Rasanya gurih, manis, dan kaya bumbu. Sate ini lebih enak lagi jika disantap bersama sayur sop dan tempe goreng yang masih hangat.

Baca Juga: Kuliner Ekstrem Legendaris, Depot Sate Bu Ria Sediakan Sate Biawak yang Dipercaya Kaya Manfaat

Sate gebung yang tengah dipanggang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Sate gebung yang tengah dipanggang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Sate gebug merupakan kuliner yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Setiap harinya, mereka pun hanya menyediakan 70-100 tusuk saja.

Apabila tak mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan standar mereka, warung ini tak menjual sate di hari itu.

“Kalau nggak dapat daging has dalam (seperti) yang kami mau, (kami) nggak buka. Kalau memang kami cuma jual sop, ya jual sop. Satenya kosong gitu,” ujar Achmad Kabir, generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug.

Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Hangat, Ini Lho Warung Bakso Terdekat di Sawojajar yang Wajib Dicoba!

Konsistensi dalam menjaga kualitas dan rasa dari sate gebung merupakan rahasia dari warung hingga bisa tetap laris meski tak pernah melakukan marketing. Bahkan, ada masa-masa mereka menolak food vlogger untuk meliput warung tersebut.

Generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug, Achmad Kabir. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug, Achmad Kabir. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

“Baru-baru ini saja sate gebug bisa dibuat konten. Kalau dulu nggak mau. Memang kami hanya jual 70-100 porsi. Itu cukup, (begitu habis) kami pulang,” kata Kabir.

Sejarah Sate Gebug

Warung Sate Gebug pertama kali dibuka pada tahun 1920 oleh Mbah Wartum. Ia mengelola warung ini bersama keponakannya yang merupakan kakek dari Kabir. Sayangnya, Kabir tak mengetahui kisah atau inspirasi di balik berdirinya warung ini.

Sejak dulu, lokasi Warung Sate Gebug tidak pernah pindah. Mereka berjualan di bangunan yang letaknya dekat dengan pertigaan PLN Kota Malang. Menurut akta, bangunan tersebut merupakan toko es di tahun 1910-an.

Pemanggangan sate gebug masih tradisional menggunakan arang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Pemanggangan sate gebug masih tradisional menggunakan arang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Bahan dasar sate gebug adalah daging has dalam sapi jawa. Daging tersebut dipukul dengan menggunakan batu hingga pipih, namun tidak sampai hancur.

Setelah itu, daging dipotong kecil-kecil dan direndam dalam bumbu serta kecap selama tiga jam. Apabila bumbu sudah meresap, daging siap dipanggang menggunakan arang.

“Daging ini mentah (saat dipanggang). Banyak yang mengira sate gebug sama seperti sate komoh. Padahal kalau sate komoh dagingnya direbus dulu baru dipanggang,” jelas Kabir.

Tak Mau Komprosi Soal Kualitas dan Rasa

Warung Sate Gebug rela tidak berjualan jika tidak mendapatkan bahan yang mereka inginkan. Terdengar ekstrem, tapi itu adalah prinsip yang mereka pegang untuk menjaga konsistensi kualitas dan rasa.

Kabir mengatakan mereka hanya menggunakan daging has dalam sapi jawa. Jika menggunakan sapi jenis lain, maka teksturnya akan berbeda dengan yang biasa mereka jual. Maka, jika kebetulan stok daging has dalam sapi jawa habis, mereka tidak akan memproduksi sate gebug.

Bangunan Warung Sate Gebug yang dulunya digunakan sebagai toko es. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Bangunan Warung Sate Gebug yang dulunya digunakan sebagai toko es. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

“Sudah beberapa kali coba sapi lain. Yang bisa tertolong (mirip) cuma sapi brahma. Tapi di sini jarang ada. Kalau pakai sapi limousin teksturnya terlalu berair,” kata Kabir.

Selain daging, mereka juga cukup idealis dalam pemilihan bumbu dan kecap. Saat ini, sate gebug hanya menggunakan kecap cap laron dari Tuban. Sebelumnya, mereka mencari-cari kecap yang rasanya pas. Bahkan, sempat mencampur beberapa merek kecap agar rasanya sesuai dengan resep aslinya.

“Dulu pakai kecap yang ada di tahun 1920-an, sekarang sudah tidak bertahan. Kami pernah ganti-ganti kecap, sampai mencoba meracik sendiri. Baru sekitar 10 tahun terakhir ini kami pakai kecap cap laron dari Tuban,” tutur Kabir.

Ingin Kembangkan Sate Gebug

Sebagai penerus kepemilikan Warung Sate Gebug, Kabir ingin membuka cabang dan mengembangkan bisnisnya. Ia mengaku tawaran demi tawaran kerja sama terus berdatangan agar sate gebug bisa dijual di kota lain.

Namun, proses produksi yang masih tradisional dan banyaknya prinsip-prinsip yang harus dipertahankan membuat mereka harus menunda membuka warung di tempat lain.

“Boleh saja (buka cabang), tapi orang tua minta komitmen dari saya untuk menjaga betul-betul setiap pakem-pakemnya. Karena ini kan warung tradisional,” kata Kabir.

Sejak kecil, Kabir telah dilatih oleh orang tuanya untuk menjadi penerus warung legendaris ini. Sebelum berangkat sekolah, ia sering diajak bapaknya ke pasar baik ke Pasar Kebalen maupun ke Pasar Besar.

Ia juga dilatih merasakan bahan-bahan yang berkualitas. Kabir bahkan pernah diminta memakan merica untuk mengetahui kualitas merica tersebut.

“Bapak ambil bawang, dipotek (dipatahkan), terus saya disuruh makan. Jadi tahu bahan yang enak itu begini, yang nggak enak itu begitu,” kenang Kabir.

Warung Sate Gebug buka setiap hari kecuali hari Jumat. Mereka buka di pukul 08.00 hingga pukul 15.30. Namun, saat akhir pekan, biasanya mereka jeda satu jam di siang hari agar ada waktu tambahan untuk mempersiapkan hidangan.

“Kalau weekend biasanya kami jeda sekitar satu jam untuk masak lagi. Karena proses gepuknya masih manual semua, nggak ada yang pakai mesin,” tutup Kabir.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri

Editor: Herlianto. A

Tags: kayutangankuliner kayutanganKuliner Legendariskuliner legendaris malang kuliner malangsate gebugsate gebug malang

Related Posts

5 Jajanan di Matos Malang yang Menarik Dicoba, Ada Chikuro hingga Tianlala
Kuliner

5 Jajanan di Matos Malang yang Menarik Dicoba, Ada Chikuro hingga Tianlala

Selasa, 18 Agu 2026
5 Coffee Shop Unik di Malang yang Viral di TikTok, Ada Nuansa Horor dan Jepang
Kuliner

5 Coffee Shop Unik di Malang yang Viral di TikTok, Ada Nuansa Horor dan Jepang

Senin, 10 Agu 2026
84 Tahun Soto Pojok Jadi Langganan Peziarah Gunung Kawi
Kuliner

84 Tahun Soto Pojok Jadi Langganan Peziarah Gunung Kawi

Minggu, 9 Agu 2026
Creamy dan Segar! Rekomendasi Es Teler Jumbo di Malang yang Wajib Dicoba
Kuliner

Creamy dan Segar! Rekomendasi Es Teler Jumbo Malang yang Wajib Dicoba

Sabtu, 8 Agu 2026
6 Toko Frozen Food di Malang yang Cocok untuk Anak Kost, Dekat Kampus dan Pilihannya Lengkap
Kuliner

6 Toko Frozen Food di Malang yang Cocok untuk Anak Kost, Dekat Kampus dan Pilihannya Lengkap

Rabu, 5 Agu 2026
Sensasi Gurih Menggigit, 4 Kuliner Nasi Belut Malang yang Wajib Dicoba Pecinta Kuliner
Kuliner

Sensasi Gurih Menggigit, 4 Kuliner Nasi Belut Malang yang Wajib Dicoba Pecinta Kuliner

Minggu, 2 Agu 2026
Next Post
Mahasiswa UIN Malang sukses mengukir prestasi akademik dan riset di usia muda. /Foto: dok.UIN Malang.

Bangga! Mahasiswa UIN Malang Ukir Prestasi dan Riset di Usia Muda

BERITA POPULER

  • Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.