Sabtu, Juli 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Kuliner

Kuliner Legendaris Sate Gebug di Kayutangan, Jaga Kualitas Jadi Rahasianya Bertahan hingga 1 Abad

Redaksi by Redaksi
Agustus 3, 2024 6:02 pm
in Kuliner
Sate gebug yang kualitas rasanya terjaga sejak 1920. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Sate gebug yang kualitas rasanya terjaga sejak 1920. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang.id – Sebelum ramai dengan kuliner kekinian dan kafe-kafe yang menyediakan hidangan modern, Kayutangan dipenuhi dengan warung-warung yang menjual santapan tradisional. Salah satunya ada Warung Sate Gebug yang letaknya di ujung kawasan Kayutangan.

Sejak tahun 1920, Warung Sate Gebug menyajikan daging sapi cincang yang dilekatkan di tusuk bambu dan dibakar menggunakan arang.

READ ALSO

Perbedaan Matcha dan Green Tea, Ketahui Proses Pengolahan hingga Kandungan Nutrisinya

Gurih Sedap, 3 Kuliner Nasi Liwet di Malang yang Rasanya Bikin Nagih

Rasanya gurih, manis, dan kaya bumbu. Sate ini lebih enak lagi jika disantap bersama sayur sop dan tempe goreng yang masih hangat.

Baca Juga: Kuliner Ekstrem Legendaris, Depot Sate Bu Ria Sediakan Sate Biawak yang Dipercaya Kaya Manfaat

Sate gebung yang tengah dipanggang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Sate gebung yang tengah dipanggang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Sate gebug merupakan kuliner yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Setiap harinya, mereka pun hanya menyediakan 70-100 tusuk saja.

Apabila tak mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan standar mereka, warung ini tak menjual sate di hari itu.

“Kalau nggak dapat daging has dalam (seperti) yang kami mau, (kami) nggak buka. Kalau memang kami cuma jual sop, ya jual sop. Satenya kosong gitu,” ujar Achmad Kabir, generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug.

Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Hangat, Ini Lho Warung Bakso Terdekat di Sawojajar yang Wajib Dicoba!

Konsistensi dalam menjaga kualitas dan rasa dari sate gebung merupakan rahasia dari warung hingga bisa tetap laris meski tak pernah melakukan marketing. Bahkan, ada masa-masa mereka menolak food vlogger untuk meliput warung tersebut.

Generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug, Achmad Kabir. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug, Achmad Kabir. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

“Baru-baru ini saja sate gebug bisa dibuat konten. Kalau dulu nggak mau. Memang kami hanya jual 70-100 porsi. Itu cukup, (begitu habis) kami pulang,” kata Kabir.

Sejarah Sate Gebug

Warung Sate Gebug pertama kali dibuka pada tahun 1920 oleh Mbah Wartum. Ia mengelola warung ini bersama keponakannya yang merupakan kakek dari Kabir. Sayangnya, Kabir tak mengetahui kisah atau inspirasi di balik berdirinya warung ini.

Sejak dulu, lokasi Warung Sate Gebug tidak pernah pindah. Mereka berjualan di bangunan yang letaknya dekat dengan pertigaan PLN Kota Malang. Menurut akta, bangunan tersebut merupakan toko es di tahun 1910-an.

Pemanggangan sate gebug masih tradisional menggunakan arang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Pemanggangan sate gebug masih tradisional menggunakan arang. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Bahan dasar sate gebug adalah daging has dalam sapi jawa. Daging tersebut dipukul dengan menggunakan batu hingga pipih, namun tidak sampai hancur.

Setelah itu, daging dipotong kecil-kecil dan direndam dalam bumbu serta kecap selama tiga jam. Apabila bumbu sudah meresap, daging siap dipanggang menggunakan arang.

“Daging ini mentah (saat dipanggang). Banyak yang mengira sate gebug sama seperti sate komoh. Padahal kalau sate komoh dagingnya direbus dulu baru dipanggang,” jelas Kabir.

Tak Mau Komprosi Soal Kualitas dan Rasa

Warung Sate Gebug rela tidak berjualan jika tidak mendapatkan bahan yang mereka inginkan. Terdengar ekstrem, tapi itu adalah prinsip yang mereka pegang untuk menjaga konsistensi kualitas dan rasa.

Kabir mengatakan mereka hanya menggunakan daging has dalam sapi jawa. Jika menggunakan sapi jenis lain, maka teksturnya akan berbeda dengan yang biasa mereka jual. Maka, jika kebetulan stok daging has dalam sapi jawa habis, mereka tidak akan memproduksi sate gebug.

Bangunan Warung Sate Gebug yang dulunya digunakan sebagai toko es. Foto: Aisyah Nawangsari Putri
Bangunan Warung Sate Gebug yang dulunya digunakan sebagai toko es. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

“Sudah beberapa kali coba sapi lain. Yang bisa tertolong (mirip) cuma sapi brahma. Tapi di sini jarang ada. Kalau pakai sapi limousin teksturnya terlalu berair,” kata Kabir.

Selain daging, mereka juga cukup idealis dalam pemilihan bumbu dan kecap. Saat ini, sate gebug hanya menggunakan kecap cap laron dari Tuban. Sebelumnya, mereka mencari-cari kecap yang rasanya pas. Bahkan, sempat mencampur beberapa merek kecap agar rasanya sesuai dengan resep aslinya.

“Dulu pakai kecap yang ada di tahun 1920-an, sekarang sudah tidak bertahan. Kami pernah ganti-ganti kecap, sampai mencoba meracik sendiri. Baru sekitar 10 tahun terakhir ini kami pakai kecap cap laron dari Tuban,” tutur Kabir.

Ingin Kembangkan Sate Gebug

Sebagai penerus kepemilikan Warung Sate Gebug, Kabir ingin membuka cabang dan mengembangkan bisnisnya. Ia mengaku tawaran demi tawaran kerja sama terus berdatangan agar sate gebug bisa dijual di kota lain.

Namun, proses produksi yang masih tradisional dan banyaknya prinsip-prinsip yang harus dipertahankan membuat mereka harus menunda membuka warung di tempat lain.

“Boleh saja (buka cabang), tapi orang tua minta komitmen dari saya untuk menjaga betul-betul setiap pakem-pakemnya. Karena ini kan warung tradisional,” kata Kabir.

Sejak kecil, Kabir telah dilatih oleh orang tuanya untuk menjadi penerus warung legendaris ini. Sebelum berangkat sekolah, ia sering diajak bapaknya ke pasar baik ke Pasar Kebalen maupun ke Pasar Besar.

Ia juga dilatih merasakan bahan-bahan yang berkualitas. Kabir bahkan pernah diminta memakan merica untuk mengetahui kualitas merica tersebut.

“Bapak ambil bawang, dipotek (dipatahkan), terus saya disuruh makan. Jadi tahu bahan yang enak itu begini, yang nggak enak itu begitu,” kenang Kabir.

Warung Sate Gebug buka setiap hari kecuali hari Jumat. Mereka buka di pukul 08.00 hingga pukul 15.30. Namun, saat akhir pekan, biasanya mereka jeda satu jam di siang hari agar ada waktu tambahan untuk mempersiapkan hidangan.

“Kalau weekend biasanya kami jeda sekitar satu jam untuk masak lagi. Karena proses gepuknya masih manual semua, nggak ada yang pakai mesin,” tutup Kabir.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri

Editor: Herlianto. A

Tags: kayutangankuliner kayutanganKuliner Legendariskuliner legendaris malang kuliner malangsate gebugsate gebug malang

Related Posts

matcha dan green tea
Kuliner

Perbedaan Matcha dan Green Tea, Ketahui Proses Pengolahan hingga Kandungan Nutrisinya

Jumat, 3 Jul 2026
Rekomendasi 3 nasi liwet di Malang yang wajib dicoba untuk merasakan cita rasa khas kuliner Nusantara. /Foto: Pinterest/Damian De
Kuliner

Gurih Sedap, 3 Kuliner Nasi Liwet di Malang yang Rasanya Bikin Nagih

Rabu, 1 Jul 2026
Ayam lodho di Kota Malang
Kuliner

4 Rekomendasi Ayam Lodho di Malang yang Gurih Pedas dan Wajib Dicoba

Minggu, 28 Jun 2026
Tempat makan
Kuliner

7 Tempat Makan Legendaris di Pasar Besar Malang, Bertahan Puluhan Tahun

Sabtu, 27 Jun 2026
Cafe vintage di Malang
Kuliner

Rekomendasi 4 Cafe Vintage di Malang, Nongkrong Bernuansa Tempo Dulu

Jumat, 26 Jun 2026
Rekomendasi ayam goreng di Malang yang cita rasanya sudah melegenda dan wajib dicoba oleh para pecinta kuliner. /Foto: Pinterest/Sarieayu
Kuliner

Rekomendasi Ayam Goreng di Malang yang Gurihnya Bikin Nagih

Kamis, 25 Jun 2026
Next Post
Mahasiswa UIN Malang sukses mengukir prestasi akademik dan riset di usia muda. /Foto: dok.UIN Malang.

Bangga! Mahasiswa UIN Malang Ukir Prestasi dan Riset di Usia Muda

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Festival Budaya di Malang yang Digelar Rutin Setiap Tahun, Wajib Masuk Daftar Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Edi Purwanto, Santri dan Penggerak NU Asal Malang Terpilih Jadi Komisioner KI Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.