MALANG, Tugumalang.id – Sebelum ramai dengan kuliner kekinian dan kafe-kafe yang menyediakan hidangan modern, Kayutangan dipenuhi dengan warung-warung yang menjual santapan tradisional. Salah satunya ada Warung Sate Gebug yang letaknya di ujung kawasan Kayutangan.
Sejak tahun 1920, Warung Sate Gebug menyajikan daging sapi cincang yang dilekatkan di tusuk bambu dan dibakar menggunakan arang.
Rasanya gurih, manis, dan kaya bumbu. Sate ini lebih enak lagi jika disantap bersama sayur sop dan tempe goreng yang masih hangat.
Baca Juga: Kuliner Ekstrem Legendaris, Depot Sate Bu Ria Sediakan Sate Biawak yang Dipercaya Kaya Manfaat

Sate gebug merupakan kuliner yang tak mudah ditemukan di tempat lain. Setiap harinya, mereka pun hanya menyediakan 70-100 tusuk saja.
Apabila tak mendapatkan bahan baku yang sesuai dengan standar mereka, warung ini tak menjual sate di hari itu.
“Kalau nggak dapat daging has dalam (seperti) yang kami mau, (kami) nggak buka. Kalau memang kami cuma jual sop, ya jual sop. Satenya kosong gitu,” ujar Achmad Kabir, generasi keempat pemilik Warung Sate Gebug.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Hangat, Ini Lho Warung Bakso Terdekat di Sawojajar yang Wajib Dicoba!
Konsistensi dalam menjaga kualitas dan rasa dari sate gebung merupakan rahasia dari warung hingga bisa tetap laris meski tak pernah melakukan marketing. Bahkan, ada masa-masa mereka menolak food vlogger untuk meliput warung tersebut.

“Baru-baru ini saja sate gebug bisa dibuat konten. Kalau dulu nggak mau. Memang kami hanya jual 70-100 porsi. Itu cukup, (begitu habis) kami pulang,” kata Kabir.
Sejarah Sate Gebug
Warung Sate Gebug pertama kali dibuka pada tahun 1920 oleh Mbah Wartum. Ia mengelola warung ini bersama keponakannya yang merupakan kakek dari Kabir. Sayangnya, Kabir tak mengetahui kisah atau inspirasi di balik berdirinya warung ini.
Sejak dulu, lokasi Warung Sate Gebug tidak pernah pindah. Mereka berjualan di bangunan yang letaknya dekat dengan pertigaan PLN Kota Malang. Menurut akta, bangunan tersebut merupakan toko es di tahun 1910-an.

Bahan dasar sate gebug adalah daging has dalam sapi jawa. Daging tersebut dipukul dengan menggunakan batu hingga pipih, namun tidak sampai hancur.
Setelah itu, daging dipotong kecil-kecil dan direndam dalam bumbu serta kecap selama tiga jam. Apabila bumbu sudah meresap, daging siap dipanggang menggunakan arang.
“Daging ini mentah (saat dipanggang). Banyak yang mengira sate gebug sama seperti sate komoh. Padahal kalau sate komoh dagingnya direbus dulu baru dipanggang,” jelas Kabir.
Tak Mau Komprosi Soal Kualitas dan Rasa
Warung Sate Gebug rela tidak berjualan jika tidak mendapatkan bahan yang mereka inginkan. Terdengar ekstrem, tapi itu adalah prinsip yang mereka pegang untuk menjaga konsistensi kualitas dan rasa.
Kabir mengatakan mereka hanya menggunakan daging has dalam sapi jawa. Jika menggunakan sapi jenis lain, maka teksturnya akan berbeda dengan yang biasa mereka jual. Maka, jika kebetulan stok daging has dalam sapi jawa habis, mereka tidak akan memproduksi sate gebug.

“Sudah beberapa kali coba sapi lain. Yang bisa tertolong (mirip) cuma sapi brahma. Tapi di sini jarang ada. Kalau pakai sapi limousin teksturnya terlalu berair,” kata Kabir.
Selain daging, mereka juga cukup idealis dalam pemilihan bumbu dan kecap. Saat ini, sate gebug hanya menggunakan kecap cap laron dari Tuban. Sebelumnya, mereka mencari-cari kecap yang rasanya pas. Bahkan, sempat mencampur beberapa merek kecap agar rasanya sesuai dengan resep aslinya.
“Dulu pakai kecap yang ada di tahun 1920-an, sekarang sudah tidak bertahan. Kami pernah ganti-ganti kecap, sampai mencoba meracik sendiri. Baru sekitar 10 tahun terakhir ini kami pakai kecap cap laron dari Tuban,” tutur Kabir.
Ingin Kembangkan Sate Gebug
Sebagai penerus kepemilikan Warung Sate Gebug, Kabir ingin membuka cabang dan mengembangkan bisnisnya. Ia mengaku tawaran demi tawaran kerja sama terus berdatangan agar sate gebug bisa dijual di kota lain.
Namun, proses produksi yang masih tradisional dan banyaknya prinsip-prinsip yang harus dipertahankan membuat mereka harus menunda membuka warung di tempat lain.
“Boleh saja (buka cabang), tapi orang tua minta komitmen dari saya untuk menjaga betul-betul setiap pakem-pakemnya. Karena ini kan warung tradisional,” kata Kabir.
Sejak kecil, Kabir telah dilatih oleh orang tuanya untuk menjadi penerus warung legendaris ini. Sebelum berangkat sekolah, ia sering diajak bapaknya ke pasar baik ke Pasar Kebalen maupun ke Pasar Besar.
Ia juga dilatih merasakan bahan-bahan yang berkualitas. Kabir bahkan pernah diminta memakan merica untuk mengetahui kualitas merica tersebut.
“Bapak ambil bawang, dipotek (dipatahkan), terus saya disuruh makan. Jadi tahu bahan yang enak itu begini, yang nggak enak itu begitu,” kenang Kabir.
Warung Sate Gebug buka setiap hari kecuali hari Jumat. Mereka buka di pukul 08.00 hingga pukul 15.30. Namun, saat akhir pekan, biasanya mereka jeda satu jam di siang hari agar ada waktu tambahan untuk mempersiapkan hidangan.
“Kalau weekend biasanya kami jeda sekitar satu jam untuk masak lagi. Karena proses gepuknya masih manual semua, nggak ada yang pakai mesin,” tutup Kabir.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A
























