Pada Selasa, 1 April 2025, Kota Malang merayakan hari jadinya yang ke-111. Sebagai salah satu kota terbesar di Jawa Timur, Malang memiliki identitas yang kuat sebagai kota pendidikan, kota UMKM dan kuliner, serta kota wisata. Namun, di balik gemerlapnya julukan-julukan tersebut, masih ada satu persoalan yang terus menghantui warga setiap tahunnya: banjir.
Keberadaan banjir di Kota Malang memang paradoksal. Berada di ketinggian sekitar 440-667 meter di atas permukaan laut, semestinya Malang tidak mengalami masalah banjir yang lazim terjadi di daerah dataran rendah, seperti halnya Surabaya, atau kota-kota di pesisir pantai utara Jawa Timur.
Kenyataannya, genangan air kerap menghantui warga saat musim penghujan tiba. Bahkan melumpuhkan beberapa titik strategis Kota Malang. Salah satu faktor yang memperburuk kondisi ini adalah adanya air kiriman dari gunung-gunung di sekitar Kota Malang, seperti Gunung Arjuno, Gunung Kawi, dan Gunung Bromo. Aliran air yang berasal dari wilayah-wilayah pegunungan ini memperparah beban drainase kota, menyebabkan air meluap ke berbagai area.
Baca juga: Kepastian Pembangunan Pasar Besar Kota Malang Diputuskan Juni 2025
Seiring dengan pergantian kepemimpinan pasca-Pilkada 2024, Wahyu Hidayat kini menjabat sebagai Wali Kota Malang. Publik tentu menaruh harapan besar pada kepemimpinannya untuk membawa perubahan nyata bagi kota ini, termasuk dalam menyelesaikan persoalan banjir yang kerap berulang setiap musim penghujan.
Tampaknya, solusi penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri oleh Pemkot Malang, melainkan perlu ada kerja sama dengan Pemkot Batu yang berada di sebelah barat. Kota Batu, yang terletak di dataran tinggi, berkontribusi terhadap aliran air yang menuju Malang, sehingga koordinasi dalam pengelolaan lingkungan dan tata air menjadi hal yang mendesak.
Serta dengan Pemkab Malang, yang sebagian sungai-sungai kecil di Kabupaten Malang mengarah ke kota Malang. Seperti Sungai Metro, yang mengalir dari wilayah Batu ke Kabupaten Malang, lalu bermuara di Sungai Brantas di Kota Malang. Lalu Sungai Amprong, yang berasal dari lereng Gunung Semeru dan melewati Kabupaten Malang sebelum bergabung dengan Sungai Brantas. Sungai Bango, salah satu anak sungai yang berada di sekitar Kota Malang dan bermuara ke Sungai Brantas. Sungai Lesti, mengalir dari wilayah selatan Kabupaten Malang dan sebagian airnya masuk ke sistem Sungai Brantas.
Kota Pendidikan, Tapi Tak Mampu Menyelesaikan Banjir?
Sebagai kota pendidikan, Malang menjadi rumah bagi berbagai perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, hingga berbagai institusi pendidikan tinggi swasta lainnya. Kota ini telah melahirkan banyak akademisi, insinyur, dan ahli lingkungan. Namun, muncul pertanyaan besar: mengapa sebuah kota yang disebut sebagai “kota pendidikan” masih kesulitan mengatasi banjir yang sudah menjadi masalah klasik?
Baca juga: Atasi Banjir, Wali Kota Malang Turun Tangan Normalisasi Drainase di Suhat
Di sinilah pentingnya menjembatani antara dunia akademik dan kebijakan publik. Sejauh ini, berbagai riset dari kampus-kampus di Malang telah banyak membahas isu tata kelola lingkungan, drainase perkotaan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim. Namun, tanpa sinergi yang kuat antara akademisi dan pemerintah, hasil penelitian tersebut hanya akan berakhir sebagai tumpukan dokumen di perpustakaan kampus. Atau jangan-jangan para pejabatnya enggan menerima kontribusi para akademisi itu.
Banjir yang terjadi di Kota Malang bukan sekadar persoalan curah hujan yang tinggi, melainkan juga berkaitan dengan tata kelola kota yang kurang optimal. Urbanisasi yang pesat dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah banyak ruang terbuka hijau menjadi kawasan permukiman dan komersial. Sayangnya, pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mengestimasi bahwa sekitar 22.000 mahasiswa baru datang ke Kota Malang setiap tahunnya. Dengan demikian, total jumlah mahasiswa baru yang masuk ke Kota Malang pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 59.910 mahasiswa. Angka ini belum termasuk mahasiswa baru di perguruan tinggi swasta dan mahasiswa baru yang diterima melalui jalur seleksi lainnya. Sedangkan yang keluar meninggalkan Kota Malang kurang dari angka itu.
Tampaknya, Wali Kota Malang, harus memikirkan secara jitu dan jeli dengan ledakan demografi tiap tahun. Mungkin juga menghitung secara detail, berapa bungkus makanan yang mengandung bahan baku plastik, setiap individu di Kota Malang. Lalu menghubungkannya kemampuan daya tampung tempat penampungan sampah sementara, dan berapa yang dibuang secara liar ke selokan-selokan di Kota Malang.
Kota UMKM dan Kuliner, Terhambat oleh Banjir
Malang juga dikenal sebagai kota UMKM dan kuliner. Ribuan pelaku usaha kecil dan menengah mengandalkan kota ini sebagai ladang penghidupan mereka. Namun, setiap kali banjir melanda, perekonomian rakyat pun ikut terdampak. Para pedagang kaki lima di kawasan Alun-Alun Kota, Pasar Besar, hingga sentra kuliner seperti Jalan Soekarno-Hatta kerap mengeluhkan dagangan mereka rusak akibat genangan air.
Sebagai kota yang mengandalkan sektor UMKM dan kuliner sebagai pilar ekonomi, Malang perlu lebih serius dalam mengantisipasi dampak banjir terhadap para pelaku usaha. Peningkatan infrastruktur drainase, pembangunan sumur resapan, hingga penataan ruang hijau menjadi langkah-langkah yang harus segera dilakukan. Setidaknya Wali Kota tidak lagi menggantungkan saluran air lama, hingga perlu membuat terobosan untuk membuat saluran baru. Dari sini perlu kebijakan ekstrem. Termasuk membongkar semua bangunan di atas saluran air.
Baca juga: 254 Rumah Warga Terdampak Banjir di Kota Malang
Kota Wisata, Tapi Kehilangan Daya Tarik Akibat Genangan
Selain sebagai kota pendidikan dan UMKM, Malang juga merupakan destinasi wisata favorit di Jawa Timur. Keindahan alam serta warisan budaya yang dimiliki kota ini menarik wisatawan dari berbagai daerah. Namun, bagaimana mungkin wisatawan merasa nyaman jika hujan deras dapat menyebabkan genangan di berbagai titik kota?
Kawasan wisata seperti Kayutangan Heritage, Alun-Alun Tugu, hingga area sekitar Stasiun Kota Baru kerap menjadi langganan genangan air. Jika situasi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin citra Malang sebagai kota wisata akan semakin menurun.
Solusi dan Harapan
Kini, setelah 111 tahun berdiri, Kota Malang seharusnya sudah lebih siap dalam mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Revitalisasi Sistem Drainase Sistem drainase di Kota Malang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Banyak saluran air yang tersumbat oleh sampah dan sedimentasi, sehingga tidak mampu mengalirkan air hujan dengan baik. Perbaikan dan modernisasi drainase mutlak diperlukan. Dari sini perlu kebijakan ekstrem.
- Pembangunan Sumur Resapan dan Ruang Terbuka Hijau Pemerintah harus menggalakkan pembangunan sumur resapan di berbagai titik strategis. Selain itu, ruang terbuka hijau harus diperbanyak untuk mengurangi dampak limpahan air hujan yang langsung menuju ke jalanan dan pemukiman warga.
- Sinergi Pemerintah dan Akademisi Pemerintah Kota Malang perlu lebih banyak melibatkan para akademisi dan ahli lingkungan dalam mencari solusi terhadap persoalan banjir. Dengan adanya kolaborasi ini, kebijakan yang diambil akan lebih berbasis riset dan data.
- Kerja Sama dengan Pemkot Batu Mengingat salah satu penyebab banjir adalah air kiriman dari daerah pegunungan di sekitar Kota Malang, perlu ada koordinasi yang lebih erat antara Pemkot Malang dan Pemkot Batu, serta Pemkab Malang.f Pengelolaan daerah resapan air, reboisasi hulu sungai, serta sistem pengendalian air harus dilakukan secara bersama-sama.
- Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat Masyarakat juga harus dilibatkan dalam upaya pencegahan banjir. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga lingkungan, serta ikut serta dalam program penghijauan harus terus ditingkatkan. Tampaknya kebijakan 1 RT dapat Rp50 juta pada tahun 2026, harus ada muatan kebersihan lingkungan, sampah, dan modernisasi saluran air di setiap RT.
Kesimpulan
Perayaan hari jadi ke-111 Kota Malang seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga warga kota. Kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi kota yang lebih baik, tetapi tantangan seperti banjir harus segera diselesaikan.
Sebagai kota pendidikan, Kota Malang harus mampu membuktikan bahwa ilmu dan riset yang dihasilkan tidak hanya berakhir di ruang akademik, tetapi juga bisa diimplementasikan dalam kebijakan nyata. Kota UMKM dan wisata juga harus mendapatkan perlindungan yang lebih baik agar tidak terdampak oleh permasalahan lingkungan yang berulang setiap tahun.
Kini, di bawah kepemimpinan Wali Kota Wahyu Hidayat, harapan masyarakat tertuju pada langkah konkret yang akan diambil dalam menuntaskan masalah ini. Sebuah kota yang berusia 111 tahun seharusnya sudah cukup matang dalam mengelola permasalahan mendasarnya. Jika tidak, maka julukan “kota pendidikan, Kota Wisata, dan Kota Kuliner” yang disandang Kota Malang hanya akan menjadi sekadar slogan tanpa bukti nyata.
Selamat ulang tahun ke-111, Kota Malang. Semoga semakin maju dan benar-benar layak menjadi kota pendidikan, UMKM, kuliner, dan wisata yang bebas dari masalah banjir.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: jatmiko (redaktur tugumalang.id)