Jenewa, Tugumalang.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa hanya kurang dari sepertiga negara di dunia yang memiliki kebijakan nasional untuk menangani beban gangguan neurologis (penyakit otak dan saraf) yang terus meningkat. Padahal, kondisi ini menjadi penyebab lebih dari 11 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.
Dalam Laporan Status Global tentang Neurologi 2025 yang dirilis WHO hari ini, disebutkan bahwa lebih dari 3 miliar orang – atau sekitar 40% populasi global – hidup dengan gangguan neurologis.
10 Kondisi Gangguan Otak dan Syaraf Paling Mematikan di Dunia
Menurut laporan tersebut, sepuluh penyakit neurologis yang paling banyak menyebabkan kematian dan kecacatan pada tahun 2021 antara lain:
-
Stroke
-
Ensefalopati neonatal
-
Migrain
-
Penyakit Alzheimer dan demensia lainnya
-
Neuropati diabetik
-
Meningitis
-
Epilepsi idiopatik
-
Komplikasi neurologis akibat kelahiran prematur
-
Gangguan spektrum autisme
-
Kanker sistem saraf
WHO juga menyoroti ketimpangan besar antarnegara. Negara berpenghasilan rendah memiliki 80 kali lebih sedikit ahli saraf dibandingkan negara maju, padahal beban penyakit di wilayah tersebut justru lebih tinggi.
“Lebih dari satu dari tiga orang di dunia hidup dengan kondisi yang memengaruhi otaknya. Kita harus memastikan mereka mendapat layanan kesehatan yang layak,” ujar Dr. Jeremy Farrar, Asisten Direktur Jenderal WHO, sebagaimana dikutip dari laman WHO
“Banyak gangguan neurologis dapat dicegah atau diobati, tetapi akses layanan masih terbatas – terutama di daerah pedesaan dan miskin,” tambahnya.
Baca juga: Mengenal 9 Jenis Terapi untuk Anak Autisme, Bisa Menjadi Referensi Bagi Orang Tua
Fakta Penting dari Laporan WHO
-
Hanya 53% negara anggota WHO (102 dari 194 negara) yang memberikan data untuk laporan ini.
-
Hanya 32% negara (63 negara) yang memiliki kebijakan nasional untuk gangguan neurologis.
-
Hanya 18% negara (34 negara) yang memiliki dana khusus untuk penanganannya.
-
25% negara (49 negara) memasukkan gangguan neurologis dalam jaminan kesehatan universal (UHC).
Keterbatasan kebijakan dan pendanaan ini menyebabkan sistem kesehatan di banyak negara masih terfragmentasi, kekurangan tenaga ahli, dan tidak siap memenuhi kebutuhan pasien.
Selain itu, laporan WHO mengungkap bahwa:
-
Negara miskin memiliki 82 kali lebih sedikit ahli saraf dibandingkan negara kaya.
-
Hanya 46 negara yang memiliki layanan dukungan bagi pengasuh pasien, dan 44 negara yang memiliki perlindungan hukum bagi mereka.
-
Mayoritas pengasuh masih merupakan perempuan dan sering kali tidak mendapat pengakuan maupun dukungan finansial.
Baca juga: Brain Rot: Ketika Otak Lelah karena Media Sosial
Seruan Aksi Global
Sebagai tindak lanjut, WHO mengingatkan pentingnya implementasi Rencana Aksi Global Intersektoral untuk Epilepsi dan Gangguan Neurologis Lainnya (IGAP) yang diadopsi pada tahun 2022.
Rencana ini menjadi peta jalan global untuk memperkuat kebijakan, memperluas layanan kesehatan, meningkatkan sistem data, serta melibatkan pasien dan keluarga dalam penyusunan kebijakan.
WHO menyerukan agar semua negara:
-
Menjadikan gangguan neurologis sebagai prioritas nasional.
-
Menjamin akses layanan neurologi yang adil melalui sistem jaminan kesehatan universal.
-
Meningkatkan kesehatan otak sepanjang hidup, termasuk pencegahan sejak usia dini.
-
Memperkuat sistem data dan riset agar kebijakan berbasis bukti dapat diterapkan.
Tanpa langkah nyata, beban gangguan otak dan saraf akan terus meningkat dan memperparah kesenjangan kesehatan global.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: rilis WHO
redaktur: jatmiko
























