Catatan seri ke-19 yang ditulis berkat kerja sama Chatour Travel dan Tugu Media Group, kali ini lumayan panjang. Dalam umrah, mayoritas kita melakukan secara bersama-sama dengan rombongan. Kendati demikian, umrah sejatinya adalah sebuah perjalanan sunyi. Di mana do’a dan harapan, menyatu dalam hati dan pikiran kita, lalu membangun kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan penuh alpa.
Setelah tiga hari berada di Madinah, rombongan jamaah umrah Chatour Travel keberangkatan 19 Agustus 2025 akhirnya melanjutkan perjalanan ke Makkah pada Jum’at (22/8/2025). Keberangkatan dilakukan usai pelaksanaan salat Jumat di Masjid Nabawi.
Sekitar pukul 14.00 WIB, rombongan meninggalkan hotel menuju Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali untuk mengambil miqat. Sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, jamaah yang berangkat dari Madinah berniat umrah di masjid ini.
Miqat di Masjid Bir Ali: Awal Perjalanan Suci

Sebelum berangkat, jamaah sudah mengenakan kain ihram tanpa jahitan, sebagai simbol kesederhanaan dan pengingat bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah hanya dengan selembar kain putih.
Di Masjid Bir Ali, jamaah melaksanakan salat sunnah ihram dua rakaat sebelum dilantunkan niat umrah bersama oleh mutowif, Ustadz Mujib. “Kalau sudah berniat sendiri di masjid tidak masalah. Tapi lebih baik berniat lagi bersama untuk memantapkan hati,” jelasnya.
Setelah niat di bir ali tersebut, bus yang kami tumpangi kembali melaju. Kami melintasi sebuah jalan layaknya jalan tol kalau di Indonesia. Kanan dan kiri kami mayoritas adalah gurun pasir yang tandus.
Jalan selayaknya jalan tol ini, di Arab Saudi gratis. Penulis tidak pernah melihat sopir berhenti untuk melakukan pembayaran tol, baik melalui uang tunai ataupun kartu tol layaknya di Indonesia.
Baca juga: Mutowif Chatour Travel Ajarkan dua Amalan pada Jemaah agar Bisa Umrah
Perjalanan Madinah – Makkah
Sekitar dua jam berjalanan dari bir ali, kami berhenti di rest area yang banyak sekali menjual makanan. Termasuk makanan khas Indonesia. Ada juga buah-buahan yang harganya tidak terlalu mahal. Penulis sempat membeli buah-buahan Rp 100.000,-, mendapatkan cukup banyak dengan jenis buah-buahan di campur. Ada anggur, apel, dan pisang.

Di rest area ini, kami juga melaksanakan shalat ashar. Ada beberapa jama’ah yang shalat jama’ takdim saat shalat jum’at di Masjid Nabawi. Tapi, tampaknya banyak juga yang lupa untuk shalat jama’ sehingga mayoritas jama’ah turun dari bus untuk shalat ashar.
Sekitar 30 menit di rest area, bus yang kami tumpangi kembali melaju menuju Makkah. Di sepanjang perjalanan, sesekali Ustadz Mujib melantunkan talbiyah.
Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak.
Artinya: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu, aku sambut panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Selanjutnya, sekitar pukul 21.00 WIB bus yang kami tumpangi sampai ke Kota Makkah. Suasana kota yang mendapatkan julukan umm al qura ini mulai terasa dengan banyaknya gedung megah serta lampu yang terang menyala. Setelah itu, kami tiba di kamar hotel kami masing-masing. Kebetulan, dalam dua rombongan kami, ada yang tinggal di Hotel Bintang 5 yakni Hotel Pullman dan hotel bintang III Sawaed Khair. Hotel Pullman ada di titik nol kilometer masjidil haram, sedangkan Sawaed Khair berjarak kurang lebih 500 meter dari Pelataran Masjidil Haram.
Baca juga: Umrah Kian Bermakna dengan Program Tajdidun Nikah dari Chatour Travel (17)
Tawaf dan Sa’i: Perjalanan Spiritual di Masjidil Haram

Berdasarkan keputusan bersama, meski tiba sekitar pukul 21.00, kami tidak langsung melaksanakan umrah. Kita istirahat dulu, baru sekitar pukul 02.00 dini hari, kami melaksanakan umrah dengan janjian di WC 3. Ya, berbeda dengan di Madinah yang dijadikan penanda janjian adalah pintu masuk, di Makkah biasanya penanda untuk janjian adalah Toilet atau WC yang memang jumlahnya sangat banyak dan bangunannya cukup besar serta mencolok.
Kami putuskan berangkat umrah yakni tawaf dan sa’i pukul 02.00 dini hari, agar ketika selesai tawaf dan sa’i pas waktu subuh. Sedangkan ketika tawaf dan sa’i pukul 22.00 WIB, bisa jadi kita sudah selesai sekitar pukul 01.00 dini hari.”Ini jam rawan karena kita biasanya capek, tidur di hotel, dan bisa jadi subuh tidak bangun,” kata Ustadz Mujib.
Karena inilah kita mulai tawaf sekitar pukul 02.00. Suasana hati bergetar, bahkan banyak diantara kami yang meneteskan air mata ketika melihat kakbah. Apalagi, bagi yang baru pertama kali umrah, melihat kakbah adalah momen istimewa.
Baca juga: Pengusaha Lamongan Eni Windhi Umrahkan 7 Karyawan Lewat Program Pusaka Chatour Travel (11)
Kamipun membaca do’a melihat kakbah. Baru setelah itu, melaksanakan shalat sunnah dua raka’at di depan kakbah. Ketika bersujud, penulis bergumam dalam hati, terima kasih ya Allah bisa kami panggil lagi ke rumah-mu dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Ya, penulis memang umrah kali ini tidak disangka-sangka karena umrah ini terjadi berkat kerja sama Chatour Travel dan Tugu Media Group. Tahun lalu, ketika umrah bersama istri, salah satu do’a penulis adalah ingin dimudahkan umrah dan haji pada tahun-tahun selanjutnya dengan cara terbaik Allah SWT.”Dan alhamdulillah do’a itu terkabulkan,” gumam penulis.
Setelah shalat sunnah dua raka’at, kami melakukan salah satu rukun umrah yakni tawaf atau mengelilingi kakbah dalam tujuh putaran, searah jarum jam. Ketika tawaf ini, kita memang membaca do’a bersama-sama dengan rombongan. Sesekali, juga membaca talbiyah.
Meski bersama-sama dalam melantunkan do’a, sejatinya umrah adalah jalan sunyi. Ya, ketika melaksanakan thawaf, kita sedang melakukan perjalanan spiritual yang sunyi. Yakni, kita berjalan sambil berdo’a dalam hati dan pikiran kita. Kita juga kadang berperang melawan kecamuk dalam pikiran kita, yang kadang muncul bisikan-bisikan tidak baik. Harus kita perangi. Agar apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita rasakan saat tawaf benar-benar tulus mencari ridha Allah SWT.
Dalam tawaf kita meminta banyak do’a tentu saja. Apalagi, saat melintas lurus dengan multazam. Ini adalah tempat mustajab. Multazam adalah tempat antara pintu kakbah dengan hajar aswad. Banyak do’a yang kami lantunkan tentu saja, serta tidak lupa sambil bersyukur karena bisa ke tanah suci lagi.
Baca juga: Ditipu First Travel 11 Tahun Lalu, Keluarga Ini Akhirnya Berangkat Umrah Bareng Chatour Travel dengan Anak yang Istimewa (11)
Dalam sebuah putaran tawaf, tiba-tiba terbersit ingatan penulis ceramah Uztadzah Halimah Alaydrus yang populer itu. Istri saya, Sakinatun Najwa, pernah bercerita bahwa ustadzah Halimah pernah menganjurkan kenapa kita selalu meminta urusan dunia saja. Memang, urusan dunia itu penting.
Tapi, kenapa kita juga tidak semangat meminta urusan akhirat. Seperti do’a, Ya Allah SWT jadikan kami pribadi yang beriman, bertakwa, serta pribadi yang istikomah dalam ibadah. Serta pribadi yang menikmati ledzatnya ibadah, sehingga hambamu yang hina ini, semakin ketagihan beribadah.
Karena terbersit secara tiba-tiba anjuran do’a tersebut, penulis khususkan putaran terakhir di tawaf untuk meminta hal-hal yang berbau akhirat. Salah satunya, agar bisa menikmati ibadah sehari-hari seperti shalat lima waktu. Khususnya, bisa berjama’ah di Masjid saat shalat subuh, serta bisa menikmati proses ibadah subuh di masjid tersebut.
Kami menyelesaikan tawaf sekitar 50 menit tau sekitar 4 kilometer jalan kaki yang kami tempuh. Setelah tawaf, kami melaksanakan shalat sunnah tawaf dua raka’at. Lalu, mutowif kami memimpin doa secara bersama-sama.”Ya Allah ampuni dosa kami ya Allah, kalau dosa kami tidak diampuni di sini, lalu di mana lagi kami harus berdo’a ya Allah,” demikian salah satu penggalan doa mutowif.
Sa’i dan Tahalul: Meneladani Siti Hajar

Setelah selesai tawaf, kami melakukan sa’i atau lari-lari kecil dari safa dan marwah sebanyak tujuh putaran. Di tempat ini, kami meneladani keteguhan dan kegigihan istri dari Nabi Ibrahim AS yakni Siti Hajar. Ketika itu, siti hajar berlarian antara safa dan marwah mencari air untuk anaknya yakni Ismail.
Setelah berusaha penuh dengan keyakinan, akhirnya muncul air zam-zam dari dekat kaki Ismail. Inilah keajaiban, serta momen ini mengajarkan agar umat Islam selalu berbaik sangka pada rencana Allah SWT serta senantiasa ikhtiar sekuat tenaga.
Baca juga: Rombongan Chatour Travel Mengunjungi Masjid Quba, Masjid Pertama Dibangun Nabi Muhammad SAW (10)
Setelah sa’i yang kurang lebih kita laksanakan sekitar satu jam dua puluh menit, dengan berjalan kaki dan lari-lari kecil, kami menyelesaikan rukun umrah yang terakhir yakni tahalul atau memotong rambut dalam beberapa helai.
Tahalul ini menandakan selesainya umrah, artinya segala larangan ketika memakai ihram seperti berhubungan suami istri, memotong kuku, memakai sabun, parfum dan lain sebagainya sudah berakhir. Kami menyelesaikan rangkaian umrah, kurang lebih sekitar 20 menit sebelum adzan subuh berkumandang.
Umrah: Lebih dari Sekadar Ibadah Fisik
Umrah tidak hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan hati dan pikiran. Bagaimana kita melakukan penuh kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang akan kembali ke Allah SWT dengan dua helai pakaian. Serta kita makhluk yang sangat kecil, dari ribuan orang yang mengelilingi kakbah.
Kendati demikian, sai’ mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha ke sana kemari, namun untuk urusan hasil kita serahkan kepada Allah SWT. Umrah adalah perjalanan spiritual sunyi yang luar biasa.(bersambung)
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko





























