KOTA BATU, Tugumalang.id – Kawasan Songgoriti di Kota Batu dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi dan budaya leluhur. Salah satu tradisi unik yang masih lestari hingga kini adalah Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo, sebuah agenda tahunan yang digelar setiap 1 Suro atau 1 Muharam dalam penanggalan Jawa dan Hijriah.
Tahun ini, tradisi tersebut digelar pada Senin (30/6/2025) dan memasuki pelaksanaan yang ke-17 kalinya. Masyarakat setempat bersama seniman dan budayawan mengarak sosok banteng yang menjadi simbol Empu Supo XVII, menyusuri kawasan wisata Songgoriti.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, seperti Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto, Lurah Songgokerto Dian Arsyam Ramadhan, serta perwakilan Dewan Kesenian Kota Batu. Ribuan warga dan wisatawan pun memadati sepanjang jalur arak-arakan untuk menyaksikan tradisi budaya yang sarat makna tersebut.
Simbol Kekuatan dan Keberanian Masyarakat

Empu Supo XVII, sosok simbolik dalam arak-arakan, merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan semangat perjuangan masyarakat Kota Batu. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga sebagai media edukasi dan pemersatu masyarakat lintas generasi.
Tahun ini, tema yang diusung adalah Jayati Janapada, sebuah frasa dari bahasa Sanskerta yang berarti kemenangan rakyat. Banteng (andhaka) sebagai ikon utama dalam tradisi ini juga menjadi lambang kerakyatan yang kuat, berani, dan membumi.
Ngarak Banteng Empu Supo Kolaborasi Seni Pencak Silat dan Bantengan
Sebagai bagian dari ritual, pertunjukan seni tradisional seperti pencak silat dan bantengan turut meramaikan acara. Pencak silat dipentaskan dengan gerakan indah, tegas, dan penuh filosofi. Seni bela diri ini tidak hanya menunjukkan keahlian fisik, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan simbol perlindungan dari marabahaya.
Baca juga: Angkat Budaya Lokal, Kesenian Bantengan Bantolo Warnai Festival 76 IAK di Malang
Sementara itu, seni bantengan—yang khas dari Malang Raya—menampilkan perwujudan banteng sebagai makhluk simbolis yang dipuja karena kekuatannya, sekaligus menjadi bagian dari ekspresi spiritual masyarakat.
Pelestarian Budaya yang Terus Dijaga
Tradisi Ngarak Banteng Empu Supo ini menjadi salah satu daya tarik budaya di Kota Batu yang mampu mengundang wisatawan sekaligus memperkuat identitas lokal. Pemerintah Kota Batu bersama masyarakat berkomitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya yang tak ternilai.
Sementara, banteng dengan tanduk berapi – api merupakan simbol cita – cita dari semangat rakyat kota Batu yang membara, melibas, membakar segala angkara dan kebatilan, menuju kota Batu yang bermartabat dan sejahtera.
”Event ngarak banteng 1 suro empu supo ini selain agenda tahunan juga sebagai acara kolektif antara warga lingkungan songgoriti, berbagai komunitas dan organisasi dan juga pemerintah. Tahun ini sudah ke-17 kalinya,” ungkap Ahmad Choirul Amirrudin, Humas Paguyuban Mpu Supo, Rabu (2/7/2025).
Baca juga: Kenalkan Spirit ‘SARUNGAN’, Puluhan Pelaku Seni Bantengan di Kota Batu Berbagi Takjil di Jalan
Choirul menekankan jika tujuan digelarnya event ini adalah membangkitkan kembali kecintaan warga terhadap seni tradisi leluhur. Selain itu memberikan kesan pertunjukan drama tari sebagai prototipe wisata budaya Kota Batu yang harus digaungkan.
”Total ada 60 komunitas yang berpartisipasi di event ini, 17 komunitas punya karakter dan ciri khas drama tarinya masing-masing. Ini bisa menjadi prototipe wisata budaya Kota Batu ke depannya. Apalagi, Songgoriti sangat cocok untuk itu, penginapan ada, cagar budaya dan venue yang strategis,” jelasnya.
Ia yakin jika pertunjukan ini digarap lebih serius lagi dan dikolaborasikan dengan seluruh pihak, maka daya tarik wisata Kota Batu akan semakin berwarna dan membawa dampak ekonomis pula kepada warganya. ”Sekaligus adat, tradisi dan budaya leluhur juga tetap terjaga,” imbuhnya.
Pemkot Batu Siap Dukung Tradisi Jadi Wisata Unggulan

Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menuturkan apresiasi positif atas kegiatan tersebut. Menurutnya, prosesi Ngarak Banteng ini menjadi momen penting untuk melestarikan budaya dan tradisi leluhur.
Dengan diadakannya prosesi ini, masyarakat Kota Batu dapat lebih memahami dan menghayati nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Selain itu, pihaknya berjanji akan mendukung eksistensi tradisi ini sekaligus dikembangkan menjadi obyek wisata unggulan.
”Kesenian ini saya pastikan akan menjadi binaan dari Dinas Pariwisata Kota Batu. Semoga harapannya ke depan bisa mendatangkan turis dan para wisatawan untuk berkunjung ke Kota Batu,” ujarnya.
Baca juga: Ribuan Pegiat Seni Bantengan di Kota Batu ‘Kalap Bareng’
Bantengan Jadi Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Sintiche Agustina Pamungkas menambahkan jika upaya pelestarian budaya seperti kesenian bantengan ini juga menjadi tanggung jawab mereka.
“Karena kesenian bantengan ini merupakan warisan budaya, dan kami terus dari Dinas Pariwisata turut melestarikan dan mengembangkan kesenian ini menjadi warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























