Kamis, Oktober 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Asli Malang

Supartono, Seniman yang Bercita-cita Bangkitkan Kembali Budaya Jawa

Redaksi by Redaksi
Maret 14, 2022 6:32 pm
in Asli Malang
Supartono, Seniman pertahanankan budaya jawa.

Supartono, seniman lepas (freelance) di Museum Singhasari. Foto: Aisyah Nawangsaro

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG – Jika Anda berkunjung ke Museum Singhasari yang berada di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, hal pertama yang akan Anda lihat adalah taman dengan patung Ken Dedes, Ken Angrok, dan Dwarapala di dalamnya.

Di belakang taman, terdapat pendopo dengan replika batu Lingga-Yoni di pintu masuknya. Semua karya seni tersebut merupakan karya satu orang, yaitu Supartono atau yang biasa dipanggil Mbah Kung.

READ ALSO

Kisah Heroik Peristiwa Jalan Salak dalam Agresi Militer Belanda di Malang

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Diorama sejarah berdirinya Kerajaan Singhasari karya Supartono. Foto: Aisyah Nawangsari

Selain patung-patung di depan museum, ia juga membuat diorama atau sajian tiga dimensi sejarah berdirinya Kerajaan Singhasari (Tumapel) yang berada di ruang pamer museum.

Anda juga bisa membawa pulang karya Supartono dalam bentuk souvenir yang berupa miniatur patung Ken Dedes dan Ken Angrok serta minatur batu Lingga-Yoni.

Saat ditemui Tugu Malang, pria kelahiran Tuban ini mengenakan kaos hitam dengan tulisan “Belajar di Museum” serta topi beanie berlabel Bromo yang disemat bros Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila.

Sosok Supartono sangat rendah hati. Meski telah memiliki banyak karya, ia mengaku masih belum mengerti apa-apa dan harus banyak belajar.

Patung Dwarapala karya Supartono. Foto: Aisyah Nawangsari

“Aku iki wong ga iso opo-opo (aku ini orang yang tidak tahu apa-apa),” katanya sembari menangkupkan tangannya di dada.

Meski begitu, ia bersedia berbagi cerita dan pemikirannya, khususnya tentang budaya-budaya Jawa yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Diawali dengan kisah pembuatan patung-patung, ia mengatakan prosesnya tidak semudah yang dibayangkan orang. Ada syarat-syarat yang harus ia penuhi terlebih dahulu.

Syarat-syarat ini bersifat metafisika. Ia harus melakukan ritual untuk mendapatkan restu. Ini disebabkan patung-patung tersebut tidak boleh dibuat secara asal-asalan karena bisa mendistorsi sejarah.

“Ini kan bukan sekedar patung, ya. Patung dan relief itu adalah dokumentasinya para leluhur,” kata Supartono.

Patung Ken Arok karya Supartono. Foto: Aisyah Nawangsari

Ia juga mengandaikan pembuatan patung atau lukisan tanpa ijin sama dengan paparazzi yang mengambil gambar orang tanpa ijin. Oleh karena itu, ia hanya mengerjakan patung-patung tersebut setelah memenuhi semua syarat yang diminta.

Supartono menyadari bahwa ada syarat untuk melakukan ritual sebelum membuat patung akan sulit untuk diterima generasi muda.

Ia menyayangkan hal tersebut karena itu berarti budaya Jawa semakin tergerus oleh budaya-budaya dari luar.

Patung Ken Dedes karya Supartono. Foto: Aisyah Nawangsari

Namun ia tidak mau menyalahkan anak-anak muda ataupun teknologi dan informasi yang semakin hari semakin berkembang.

“Seharusnya generasi tua ini yang melestarikan dan mengajarkan pada anak-anak muda,” katanya.

Ia mengakui budaya Jawa yang berbau metafisika akan susah dimengerti oleh masyarakat. Apalagi jika info yang beredar hanya sepotong-sepotong, tanpa ada penjelasan.

“Sejarawan tahu tentang ritual dan cara-caranya, tapi mereka nggak mengerti apa maksudnya,” sesal Supartono.

“Budaya Jawa bisa kembali hidup juga hal-hal metafisika ini dilogikakan,” imbuh pria berusia 75 tahun ini.

Ia memberi contoh tentang penggunaan dupa saat sembahyang. Banyak yang menilai penggunaan dupa sebagai hal negatif karena berkaitan dengan memuja roh halus.

“Padahal dupa dinyalakan itu bukan untuk memuja ini itu, tapi karena ia menghasilkan bau seperti aromatherapy. Dengan bau itu, orang bisa fokus berdoa,” kata Supartono.

Dupa digunakan karena dulu minyak wangi adalah barang mewah. Golongan bangsawan bisa menggunakan minyak wangi, tapi masyarakat biasa hanya mampu menggunakan dupa.

“Orang akan mau melakukan kalau mereka paham. Kalau kita bisa menjelaskan, mungkin mereka akan meniru,” pungkasnya.

 

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: Jatmiko

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: Museum SinghasarisenimanSeniman MalangSupartono

Related Posts

Kisah Heroik Peristiwa Jalan Salak dalam Agresi Militer Belanda di Malang
Asli Malang

Kisah Heroik Peristiwa Jalan Salak dalam Agresi Militer Belanda di Malang

Minggu, 30 Agu 2026
Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah
Asli Malang

Enam Film Pendek Pelajar Tayang di ESPUTER #1, GSF Siapkan Kolaborasi dengan Sekolah

Minggu, 2 Agu 2026
Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi
Asli Malang

Rute Penerbangan Bandara Abdul Rachman Saleh Malang, Berikut Tujuan dan Maskapai yang Beroperasi

Selasa, 14 Jul 2026
Jangan Salah Terminal, Ini Fungsi Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari
Asli Malang

Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

Minggu, 12 Jul 2026
5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter
Asli Malang

5 Sentra Susu Sapi Perah di Malang, Produksi Harian Tembus Ribuan Liter

Rabu, 8 Jul 2026
Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari
Asli Malang

Jejak Peninggalan Sejarah Hindu-Buddha di Malang, Warisan Kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari

Senin, 6 Jul 2026
Next Post
Bupati Malang Lantik 17 Pejabat Fungsional di Lingkup Pemkab Malang

Bupati Malang Lantik 17 Pejabat Fungsional di Lingkup Pemkab Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.