Oleh: M. Lutfi Khoirudin, M.Pd**
Nama H. Sujud Pribadi, S.Sos., SE, bagi kebanyakan warga Kabupaten Malang, bukanlah sosok yang asing. Figur merakyat dan kerap menyambangi (blusukan) kepada masyarakat, di desa-desa ini, pernah menjabat sebagai Bupati Malang antara tahun 2001-2010, yang menggantikan bupati sebelumnya, Almarhum Ir. Moch. Ibnu Rubianto, MBA (Akademisi Universitas Brawijaya, Cucu KH. Ridwan Abdullah, Sang Pencipta Logo NU), yang meninggal saat menjabat.
Pada saat itu, pria kelahiran Desa Glanggang Kecamatan Pakisaji ini, menjabat Wakil Bupati Malang, hasil pemilihan DPRD Kabupaten Malang, pada awal reformasi. Pada periode kedua sebagai Bupati Malang, lelaki yang akrab disapa Pak Sujud ini didampingi Politisi Partai Golkar, Rendra Kresna (sebelum berlabuh ke Partai NasDem), sebagai wakil bupatinya, yang kemudian Rendra Kresna menjadi Bupati Malang, sebelum digantikan wakilnya, Sanusi saat ini.
Pria humble yang merupakan kader PDI Perjuangan ini, memiliki 2 gelar kesarjanaan, yaitu Sarjana Sosial yang didapat dari Universitas Islam Malang (Unisma) dan Sarjana Ekonomi dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang.
Pada malam hari Selasa, (16/7/2024) sekira pukul 19.30 WIB, penulis tiba di kediaman Pak Sujud yang sangat asri dan eksklusif, di kawasan Turen, Kabupaten Malang, dengan suhu udara 17° Celcius. Penulis langsung disambut dengan sangat ramah dan hangat, serta dipersilakan masuk ke ruang tamu.
Baca Juga: MPLS Mulai, Tumbuhkan Empati
Nampak isteri beliau, Martiyani Setyaningsih (Ibu Tyas Sujud) membukakan pintu, sosok yang pernah menjabat Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang, saat suami tercintanya menjabat Bupati Malang. Dua gelas teh panas disajikan langsung oleh putra tercinta beliau, satu untuk saya dan satu untuk ayahandanya. Hawa dingin sangat terasa menusuk kulit, di kota kecamatan, yang terkenal dengan PT. Pindad ini. Namun, minuman teh yang tersaji, dapat membuat tubuh menjadi hangat, untuk berbicara sesuatu yang hangat pula.
Perbincangan antara penulis dan Bupati Malang dua periode ini, dimulai dengan membicarakan kabar masing-masing. Setelahnya, Sujud bercerita soal aktifitasnya setelah tak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Kabupaten Malang.
Kemudian Pak Sujud juga membagi pengalamannya selama memimpin Kabupaten, yang memiliki banyak pantai eksotis di sepanjang Samudera Hindia ini. Selain itu, Pak Sujud berbicara tentang nilai dan filsafat kehidupan, baik dari segi agama Islam maupun ajaran-ajaran Bung Karno (Sang Proklamator RI), maklum, walaupun beliau secara struktural tidak ada di PDI Perjuangan saat ini (partai besutan Ibu Megawati Soekarnoputri yang membesarkannya), namun secara ideologis, beliau, tetap nasionalis dan ruh perjuangannya tetaplah sesuai ajaran sang proklamator, demikian penuturan beliau.
Pria kelahiran 14 September 1965, menuturkan, setelah tidak menjabat sebagai bupati, dirinya kembali menjadi rakyat biasa. Aktifitasnya adalah berdagang dan berwirausaha, serta tetap bersosialisasi dengan masyarakat, dan memberikan sumbangsih pemikiran untuk pembangunan kabupaten yang pernah dipimpinnya.
Menurut Pak Sujud, dirinya merasa biasa dan happy dengan tidak lagi menjabat. Baginya jabatan adalah amanah yang bersifat temporer (sementara) dan pasti ada limitnya. Biarlah saat ini, orang lain yang mengemban amanah tersebut, dan merasakan menjadi pemimpin, bagi jutaan rakyat yang tersebar di 33 kecamatan itu.
Baca Juga: Merawat Sejarah dan Harmoni Budaya Kota Malang
Pak Sujud menuturkan soal penyakit yang biasa mengenai pejabat yang telah purna (selesai), yaitu: post power syndrome, yang dapat didefinisikan yaitu kondisi kejiwaan (psikis) yang umumnya terjadi pada orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan, dan menimbulkan penurunan harga diri pada orang tersebut, karena dulu terbiasa dihormati saat menjabat.
Biasanya orang yang mengalami gejala post power syndrome akan frustasi, lemah, gampang marah dan kesal pada orang lain. Menurut Pak Sujud, gejala ini tidak akan terjadi, bila seseorang siap dan meyakini bahwa jabatan bukanlah segalanya, tetapi merupakan sarana pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Bila jabatan itu berupaya terus dipertahankan dengan berbagai cara, maka gejala post power syndrome, niscaya akan terjadi pada orang tersebut. Karena sekuat apapun kita mempertahankan jabatan, pasti ada waktunya akan berakhir, karena keabadian, hanya milik Sang Khaliq.
Selama memimpin Kabupaten Malang, Pak Sujud, acapkali bersepeda motor mengunjungi desa-desa yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Malang. Pak Sujud tidak suka prinsip Asal Bapak Senang (ABS) yang dilaporkan anak buahnya, terutama para kepala dinas dan camat.
Beliau memiliki slogan / falsafah, Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe, Nrimo Ing Pandum, yang artinya: Tidak Pamrih, Kerja Keras, dan Ikhlas, dalam mengabdi. Pada masanya, ibukota Kabupaten Malang, dipindah dari Kota Malang ke Kepanjen, dengan membangun pendopo dan kantor bupati baru di kawasan Jalan Panji, yang beliau sendiri, tidak ikut menikmati, karena masa jabatannya telah usai.
Beliau juga menuturkan, bahwa yang paling berat bagi seorang pemimpin, adalah mengambil keputusan, apalagi jika itu bersifat sensitif dan menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Beliau menyatakan, jarang marah pada anak buahnya, dan cukup memberi teladan dan nasehat secukupnya.
Pak Sujud juga mengkritik partai-partai politik (parpol) saat ini, yang hanya mempertimbangkan aspek popularitas dan elektabilitas, dengan mengesampingkan aspek kapabilitas dan kapasitas (kemampuan leadership dan manajerial), dalam memilih calon pemimpin, baik itu untuk pemilihan presiden, gubernur, maupun bupati / wali kota, bahkan sampai tingkat kepala desa.
Baca Juga: Bupati Malang Tegaskan Pemberian Hibah ke UB Sudah Sesuai Aturan
Untuk falsafah nilai hidup, Pak Sujud menceritakan, bahwa presiden pertama Soekarno merangkak ketika berziarah dan mendekati Makam Nabi Muhammad SAW di Madinah, dan membuat Raja Faisal bin Abd. Aziz Al-Saud (Raja Arab Saudi saat itu), heran dan kagum. Karena itulah etika, bahwa setinggi apapun pemimpin, pasti masih ada di atasnya, sebagaimana peribahasa: “Di atas Langit Masih Ada Langit”.
”Jadi kita tidak boleh bersikap sombong (takabbur), karena sifat ini, sangat dibenci Tuhan Yang Kuasa,” tuturnya. Beliau juga berpesan kepada penerusnya siapapun, untuk berpegang pada Dedication of Life Bung Karno, 10 September 1966, yang tidak hanya diucapkan, tapi harus dihayati dan diamalkan.
Tak terasa, perbincangan saya dengan Pak Sujud Pribadi, harus berakhir. Karena waktu hampir menunjukkan pukul 23.30 WIB, dan sudah sangat larut. Rasanya waktu 3 jam lebih, tidak cukup untuk membahas banyak hal.
Penulis pamit dengan meminum sisa air teh gelas, yang sudah dingin, dan Pak Sujud berkenan mengantar penulis sampai ke luar halaman rumah, serta membukakan kunci pagarnya sendiri. Terima kasih atas sambutan hangat dan waktunya. Semoga Pak Sujud senantiasa dikarunia kesehatan prima beserta Ibu Tyas, dan puteri dan puteranya yang sudah beranjak remaja, Wassalam.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
**M. Lutfi Khoirudin, M.Pd (Youtuber, tinggal di Malang).
editor: jatmiko





























