Tugumalang.id – Mengorek hidung dianggap aktivitas yang jorok tetapi lumrah, padahal lebih dari itu, dapat meningkatkan risiko tinggi terkena penyakit otak alzheimer.
Hal ini diteliti oleh 12 peneliti di Universitas Griffith di Australia pada tikus-tikus. Penelitian itu dipublikasikan dalam bentuk jurnal berjudul Chlamydia pneumoniae can infect the central nervous system via the olfactory and trigeminal nerves and contributes to Alzheimer’s disease risk.
Menurut jurnal tersebut, dengan mengorek hidung, bakteri Chlamydia pneumoniae dapat melakukan perjalanan melalui saraf penciuman hidung ke otak pada tikus.
Sebagai informasi, menurut National Institute on Aging, penyakit alzheimer adalah kelainan otak yang perlahan-lahan menghancurkan daya ingat dan kemampuan berpikir seseorang, dan pada akhirnya menganggu aktivitas sehari-hari penderitanya.
Alzheimer biasanya terjadi pada lansia dengan rentang usia 60 ke atas dan penyebab paling umum dari demensia. Gejala dari penyakit ini meliputi kehilangan ingatan, masalah berbahasa, dan perilaku yang tak dapat diprediksi.
Dilansir dari Griffith News dan Science Alert, bakteri Chlamydia pneumoniae sebetulnya umum diketahui menginfeksi manusia dan menyebabkan pneumonia.
Namun, bakteri tersebut juga dapat ditemukan di otak karena bakteri itu menggunakan saraf yang membentang antara rongga hidung dan otak sebagai jalur invasi untuk menyerang sistem saraf pusat.
Sel-sel di otak kemudian merespons dengan mengendapkan protein beta amyloid yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer.
Kepala Clem Jones Center for Neurobiology and Stem Cell Research sekaligus salah satu dari penulis, Profesor James St John, berkata bahwa ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bakteri Chlamydia pneumoniae dapat masuk ke hidung dan otak, serta berpotensi bagi manusia.
“Kami yang pertama menunjukkan bahwa Chlamydia pneumoniae dapat langsung masuk ke hidung dan ke otak di mana ia dapat memicu patologi yang terlihat seperti penyakit Alzheimer. Kami melihat ini terjadi pada model tikus, dan buktinya juga berpotensi menakutkan bagi manusia,” ujarnya.
Dalam percobaannya pada tikus, saraf penciuman di hidung langsung terkena udara dan membuka jalur pendek ke otak, yang melewati sawar darah otak [struktur membran yang menyaring darah dan zat lain ke otak].
Peneliti juga terkejut dengan kecepatan bakteri tersebut bertahan di sistem saraf pusat tikus dengan infeksi yang terjadi dalam 24 hingga 72 jam. Tim peneliti pun sedang merencanakan penelitian selanjutnya dan bertujuan untuk membuktikan hal yang sama pada manusia.
Lebih lanjut, Profesor St John beserta peneliti berkata bahwa mengupil dan mencabut bulu hidung bukanlah hal yang baik dilakukan.
Potensi kerusakan yang ditimbulkan dari mengorek hidung dan mencabut bulu hidung dapat cukup fatal, karena dapat merusak jaringan pelindung hidung dan meningkatkan risiko bakteri naik ke otak manusia.
Penulis: Nurukhfi Mega Hapsari
Editor: Herlianto. A
























