Jumat, Agustus 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tugu Sehat

Social Approval: Mengapa Kita Terlalu Peduli Pendapat Orang Lain?

Redaksi by Redaksi
Agustus 2, 2025 9:42 am
in Tugu Sehat
social approval

ilustrasi/pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Pernahkah kamu menahan pendapat hanya karena takut dinilai aneh? Atau memilih pakaian bukan karena suka, tapi demi terlihat “cocok” di mata orang lain? Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai social approval seeking—kecenderungan manusia untuk mencari penerimaan dan validasi dari orang lain.

Menurut kajian psikologi sosial, perilaku ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial: ingin diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok. Namun, ketika kebutuhan itu mulai mengorbankan otonomi diri, konflik internal pun muncul dan dapat berdampak serius pada kesehatan mental.

READ ALSO

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Mengapa Kita Butuh Persetujuan Sosial atau Social Approval?

Dalam dunia psikologi, ini dikenal sebagai need for approval—kebutuhan untuk merasa diterima dan dihargai. Biasanya, pola ini terbentuk sejak masa kanak-kanak saat kita mulai belajar bahwa penghargaan dan hukuman dari lingkungan (seperti orang tua dan guru) menentukan nilai diri.

Baca juga: Introvert Bukan Antisosial: Fakta, Mitos, dan Penjelasan Psikologi

Psikolog klinis Harriet Braiker dalam bukunya The Disease to Please menyebut bahwa mereka yang terjebak dalam people-pleasing syndrome sering kali hidup dengan rasa cemas karena takut mengecewakan orang lain. Mereka menggantungkan harga diri pada pujian dan validasi eksternal, bukan pada penilaian diri sendiri.

Eksperimen Konformitas Solomon Asch: Ketika Mayoritas Salah, Kita Ikut Juga

Penelitian klasik oleh psikolog Solomon Asch menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kelompok terhadap keputusan individu. Dalam eksperimennya, peserta dengan sadar mengubah jawaban yang benar demi menyesuaikan diri dengan mayoritas, meski tahu bahwa mayoritas salah.

Ini adalah bentuk konformitas sosial yang muncul karena dua pengaruh utama:

  • Normative influence: dorongan untuk diterima dan tidak dikucilkan.

  • Informational influence: keyakinan bahwa mayoritas pasti tahu yang benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa berupa mengikuti tren meski tidak sesuai kepribadian, atau menyembunyikan opini agar tak berbeda sendiri.

Baca juga: Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya

Social Identity Theory: Saat “Kita” Lebih Penting dari “Aku”

Henri Tajfel, pelopor teori identitas sosial, menjelaskan bahwa kita mendefinisikan diri bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai bagian dari kelompok. Ketika identitas kita melekat pada kelompok, kita cenderung mengejar validasi dari sesama anggota.

Itulah sebabnya kita sering merasa harus menyesuaikan gaya hidup, opini, hingga selera agar tidak dianggap asing dalam lingkungan sosial. Penolakan dari kelompok bisa memicu rasa malu, keterasingan, bahkan krisis identitas.

Self-Monitoring dan Impression Management: Hidup Seperti Aktor Sosial

Profesor psikologi Mark Snyder mengenalkan konsep self-monitoring, yaitu seberapa jauh seseorang mengatur perilakunya berdasarkan situasi sosial. Individu dengan self-monitoring tinggi sering kali tampil fleksibel dan pandai beradaptasi, namun bisa kehilangan keaslian diri.

Psikologi sosial
ilustrasi/pinterest

Sementara itu, Erving Goffman, sosiolog ternama, memperkenalkan konsep impression management, di mana seseorang “memainkan peran” agar mendapat kesan positif dari orang lain. Ini mencakup cara bicara, ekspresi wajah, hingga tindakan yang disengaja.

Meski adaptif dalam banyak situasi, kecenderungan ini jika berlebihan bisa membuat seseorang merasa tertekan, lelah secara emosional, dan mengalami kecemasan sosial.

Jadi, Haruskah Kita Peduli dengan Apa Kata Orang?

Mencari penerimaan sosial adalah hal wajar. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara menjadi bagian dari kelompok dan tetap setia pada nilai serta identitas diri sendiri.

Kunci utamanya adalah kesadaran diri (self-awareness) dan self-worth yang tidak ditentukan oleh opini orang lain. Jangan biarkan validasi eksternal menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko

Tags: KonformitasPeople PleasingPsikologi SosialSelf IdentitySocial Approval

Related Posts

Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat Jadi Kunci Hidup Sehat
Advertorial

Ahli Gizi Ungkap Manfaat Jalan Kaki dan Pola Makan Sehat

Jumat, 14 Agu 2026
Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Tugu Sehat

Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas

Jumat, 14 Agu 2026
7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C
Tugu Sehat

7 Manfaat Singkong untuk Kesehatan, Ada Serat dan Vitamin C

Senin, 10 Agu 2026
Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi
Tugu Sehat

Terlalu Sering Rebahan Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Hipertensi

Rabu, 5 Agu 2026
Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Tugu Sehat

Teh Hijau Banyak Dipilih, Ini Kandungan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Jumat, 31 Jul 2026
Duduk Terlalu Lama Bisa Berdampak Buruk, Ini Cara Sederhana Menguranginya
Tugu Sehat

Duduk Terlalu Lama Bisa Berdampak Buruk, Ini Cara Sederhana Menguranginya

Senin, 20 Jul 2026
Next Post
Arema FC

Profil Betinho, Gelandang Asal Brasil yang Jadi Amunisi Baru Arema FC

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.