Malang, Tugumalang.id – Pernahkah kamu menahan pendapat hanya karena takut dinilai aneh? Atau memilih pakaian bukan karena suka, tapi demi terlihat “cocok” di mata orang lain? Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai social approval seeking—kecenderungan manusia untuk mencari penerimaan dan validasi dari orang lain.
Menurut kajian psikologi sosial, perilaku ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial: ingin diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok. Namun, ketika kebutuhan itu mulai mengorbankan otonomi diri, konflik internal pun muncul dan dapat berdampak serius pada kesehatan mental.
Mengapa Kita Butuh Persetujuan Sosial atau Social Approval?
Dalam dunia psikologi, ini dikenal sebagai need for approval—kebutuhan untuk merasa diterima dan dihargai. Biasanya, pola ini terbentuk sejak masa kanak-kanak saat kita mulai belajar bahwa penghargaan dan hukuman dari lingkungan (seperti orang tua dan guru) menentukan nilai diri.
Baca juga: Introvert Bukan Antisosial: Fakta, Mitos, dan Penjelasan Psikologi
Psikolog klinis Harriet Braiker dalam bukunya The Disease to Please menyebut bahwa mereka yang terjebak dalam people-pleasing syndrome sering kali hidup dengan rasa cemas karena takut mengecewakan orang lain. Mereka menggantungkan harga diri pada pujian dan validasi eksternal, bukan pada penilaian diri sendiri.
Eksperimen Konformitas Solomon Asch: Ketika Mayoritas Salah, Kita Ikut Juga
Penelitian klasik oleh psikolog Solomon Asch menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kelompok terhadap keputusan individu. Dalam eksperimennya, peserta dengan sadar mengubah jawaban yang benar demi menyesuaikan diri dengan mayoritas, meski tahu bahwa mayoritas salah.
Ini adalah bentuk konformitas sosial yang muncul karena dua pengaruh utama:
-
Normative influence: dorongan untuk diterima dan tidak dikucilkan.
-
Informational influence: keyakinan bahwa mayoritas pasti tahu yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa berupa mengikuti tren meski tidak sesuai kepribadian, atau menyembunyikan opini agar tak berbeda sendiri.
Baca juga: Mengapa Kita Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikologinya
Social Identity Theory: Saat “Kita” Lebih Penting dari “Aku”
Henri Tajfel, pelopor teori identitas sosial, menjelaskan bahwa kita mendefinisikan diri bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai bagian dari kelompok. Ketika identitas kita melekat pada kelompok, kita cenderung mengejar validasi dari sesama anggota.
Itulah sebabnya kita sering merasa harus menyesuaikan gaya hidup, opini, hingga selera agar tidak dianggap asing dalam lingkungan sosial. Penolakan dari kelompok bisa memicu rasa malu, keterasingan, bahkan krisis identitas.
Self-Monitoring dan Impression Management: Hidup Seperti Aktor Sosial
Profesor psikologi Mark Snyder mengenalkan konsep self-monitoring, yaitu seberapa jauh seseorang mengatur perilakunya berdasarkan situasi sosial. Individu dengan self-monitoring tinggi sering kali tampil fleksibel dan pandai beradaptasi, namun bisa kehilangan keaslian diri.

Sementara itu, Erving Goffman, sosiolog ternama, memperkenalkan konsep impression management, di mana seseorang “memainkan peran” agar mendapat kesan positif dari orang lain. Ini mencakup cara bicara, ekspresi wajah, hingga tindakan yang disengaja.
Meski adaptif dalam banyak situasi, kecenderungan ini jika berlebihan bisa membuat seseorang merasa tertekan, lelah secara emosional, dan mengalami kecemasan sosial.
Jadi, Haruskah Kita Peduli dengan Apa Kata Orang?
Mencari penerimaan sosial adalah hal wajar. Namun, penting untuk menjaga keseimbangan antara menjadi bagian dari kelompok dan tetap setia pada nilai serta identitas diri sendiri.
Kunci utamanya adalah kesadaran diri (self-awareness) dan self-worth yang tidak ditentukan oleh opini orang lain. Jangan biarkan validasi eksternal menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko
























