Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Peristiwa

Mosi Tidak Percaya, Sejumlah Aremania Putuskan Gantung Syal

Redaksi by Redaksi
Oktober 25, 2022 5:27 pm
in Peristiwa
Aksi simpatik suporter gantung syal di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang, sebagai respon atas penegakan hukum peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu.

Aksi simpatik suporter gantung syal di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang, sebagai respon atas penegakan hukum peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022 itu. Foto/Rubianto

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG – Sejumlah Aremania memutuskan untuk ‘gantung syal’ atau pensiun ke tribun sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya 135 suporter dalam insiden Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lalu. Selain itu, aksi itu dilakukan sebagai bentuk mosi tak percaya terhadap penanganan hukum tragedi itu.

Aksi simbol gantung syal itu seperti dilakukan oleh komunitas suporter Blimbing. Mereka melakukan aksi simpatik dengan mengikat syal kebanggaan mereka di Jembatan penyeberangan di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

READ ALSO

Cara Andreas Eddy Susetyo Bangun Ekonomi Hijau di Pesisir Malang

Geger Antrean BBM Mengular, Wali Kota Malang Sidak SPBU Mergan

Selain itu, ekspresi kekecewaan suporter juga terlihat dari tagar ‘Sejenak Menepi’ hingga ‘Gantung Syal’ yang beredar di media sosial. Mereka seolah sudah geram melihat penegakan hukum Tragedi Kanjuruhan yang terkesan bertele-tele.

Sindu, perwakilan kelompok suporter Blimbingham, tidak ingin berpendapat terlalu jauh. Hanya saja, hingga kini, pihaknya menilai tidak ada keseriusan dari berbagai pihak, terutama dari aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini.

Sebagai contoh, pernyataan resmi atau pengakuan para tersangka pada publik terkait motif mereka menembakkan gas air mata ke arah tribun tidak ada sama sekali. Berbanding terbalik dengan institusi TNI yang sudah mengakui kesalahan anak buahnya pasca kejadian.

Di sisi lain, sambung dia, petinggi federasi juga seolah menganggap kejadian yang hingga saat ini sudah merenggut 135 nyawa ini adalah hal sepele. Bahkan, tidak terlihat respon yang memuaskan dari petinggi federasi.

“Nonton bola saja bisa ada korban meninggal segitu banyak. Gak masuk akal. Kalau kayak gini udah gak usah Arema Arema-an. Kami memutuskan untuk gantung syal sampai kasus ini diusut tuntas,” kata Sindu pada tugumalang.id, Selasa (25/10/2022).

Respon Manajemen Klub Tidak Memuaskan

Begitu juga respon dari manajemen klub yang menurutnya jauh dari kata puas. “Sampai hari ini kami belum melihat sikap konkret dari klub. Kalau berkunjung ke rumah-rumah korban, santunan dana itu kan ya kewajiban. Kami gak butuh berita proses-proses saja, kita butuh hasil. Klub harus aktif ikut usut tuntas,” paparnya.

Di situasi seperti ini, bahkan federasi seolah masih bersikukuh agar kompetisi tetap digelar kembali. Menurut dia, itu sudah di luar nalar, di mana 135 orang suporter Aremania meninggal tanpa alasan yang jelas hingga kini.

“Ini soal nyawa, kawan-kawan kami yang meninggal butuh kejelasan, butuh keadilan. Untuk kali ini, kami menghormati mereka (respect, red),” kata Sindu.

“Kalau terus-terusan begini, ya sudah. Keputusan kami sudah bulat, untuk gantung syal sampai semua ini diusut tuntas seadil-adilnya. Kawan-kawan kami yang meninggal butuh keadilan,” tegasnya.

Dunia Sepakbola Tak Aman

Keputusan yang sama juga disampaikan salah satu Aremanita asal Singosari, Rizka Farly (23). Bagi dia, dunia sepakbola yang digemarinya sejak duduk di bangku SMP itu sudah tak lagi aman. Menurut dia, peristiwa 1 Oktober itu tak seharusnya terjadi.

Rizka menuturkan sudah terlanjur mencintai Arema karena suasana tribun yang diciptakan aman sejak dia mengenal Arema. Bahkan, sejak dia menikah, masih kerap mengajak anaknya yang kini sudah berusia 4 tahun menonton Arema.

“Tapi semenjak kejadian kemarin saya jadi trauma. Saya putuskan untuk gantung syal, mungkin untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Kemarin itu saya sebenarnya ngotot untuk nonton. Untung saja saya enggak diizinin sama suami,” ucapnya.

Pendapat serupa datang dari sejumlah kelompok suporter lain. Seperti lewat tagar ‘Sejenak Menepi’. “Belum adanya perbaikan di tubuh PSSI dan para penembak gas air mata, yang sampai hari ini masih berbahagia dengan keluarga mereka setelah membantai ratusan nyawa,” begitu pernyataan dari postingan @arema_bluearmy.

Lebih lanjut, dari pernyataan tersebut mereka memutuskan untuk tidak mendukung Arema FC dalam kegiatan apapun, selain upaya penuntasan hukum dan keadilan bagi para suporter benar-benar ditegakkan.

“Mari menepi, sampai mereka tahu apa itu arti dari kemanusiaan,” timpal Iqbal Pamungkas dalam postingan tersebut.

Korban Meninggal Terus Bertambah

Seperti diketahui korban meninggal akibat insiden penembakan gas air mata di stadion itu masih terus bertambah. Terakhir, mahasiswa asal UMM, Farza Dwi Kurniawan menjadi korban meninggal ke-135. Ia meninggal saat dalam perawatan di RSSA Malang pada Minggu (23/10/2022).

Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) telah melakukan pendataan dan penanganan medis untuk korban Tragedi Kanjuruhan di sejumlah rumah sakit di Kabupaten dan Kota Malang.

Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSSA Malang telah menerima 88 orang pasien terdiri dari 20 orang jenazah, 19 orang korban luka berat dan 49 orang korban luka ringan/sedang. Dari enam orang korban yang masih dirawat, empat telah meninggal dunia dan tersisa dua orang yang masih koma.

dr Kohar, Dirut RSSA Malang dalam Laporan TGIPF mengatakan bahwa umumnya penonton dalam Tragedi Kanjuruhan mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Hal ini disebabkan oleh masifnya asap gas air mata yang dihirup oleh korban.

Namun dari hasil rekonstruksi yang digelar di Lapangan Mapolda Jatim, Surabaya, mendapati para tersangka tidak mengakui menembakkan gas air mata ke arah tribun. Merunut pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetya yang menuturkan bahwa keterangan itu sah dalam materi penyidikan.

“Secara materi penyidikan, itu penyidik yang akan menyampaikan. Kalau misal tersangka mau menyebutkan seperti itu (tidak menembak ke arah tribun), itu haknya dia, tersangka punya hak ingkar,” ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan penyidik memiliki bukti yang bisa dipertanggungjawabkan di Kejaksaan hingga pengadilan saat proses persidangan nantinya.

“Penyidik memiliki keyakinan. Dengan seluruh kesaksian kemudian alat bukti yang dimiliki penyidik, nanti penyidik akan bertanggung jawab baik di kejaksaan maupun dalam persidangan,” ucap dia.

Reporter: M Ulul Azmy

Editor: Herlianto. A

Tags: AremaniaAremania Gantung SyalHeadlineMosi Tidak PercayaSuporterSyaltragedi kanjuruhanTrahedi Kanjuruhan

Related Posts

Ekonomi hijau - Cara Andreas Eddy Susetyo Bangun Ekonomi Hijau di Pesisir Malang
Peristiwa

Cara Andreas Eddy Susetyo Bangun Ekonomi Hijau di Pesisir Malang

Jumat, 16 Okt 2026
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat sidak di SPBU Mergan (M Sholeh)
Peristiwa

Geger Antrean BBM Mengular, Wali Kota Malang Sidak SPBU Mergan

Jumat, 16 Okt 2026
Wali Kota Batu Nurochman beserta jajaran saat ziarah makam Mbah Batu jelang HUT Kota Batu ke-25. Foto: Dok.
Peristiwa

Wali Kota Batu Napak Tilas Leluhur ke Makam Mbah Batu

Rabu, 14 Okt 2026
Konflik Tetangga di Kota Batu Gara-Gara Bakar Sampah Berakhir Damai
Peristiwa

Konflik Tetangga di Kota Batu Gara-Gara Bakar Sampah Berakhir Damai

Rabu, 14 Okt 2026
Krisis BBM Kota Malang, Ini Jadwal Distribusi Pertamina
Peristiwa

Krisis BBM Kota Malang, Ini Jadwal Distribusi Pertamina

Selasa, 13 Okt 2026
Evakuasi jasad nenek sebatang kara meninggal di Pujon, Malang. Foto: Dok.
Peristiwa

Nenek Sebatang Kara di Pujon Malang Ditemukan Meninggal

Kamis, 8 Okt 2026
Next Post
Komisioner Komnas HAM saat berada di Kantor Arema FC pada 3 Oktober 2022 lalu.

Soal Penahanan 6 Tersangka Tragedi Kanjuruhan, Komnas HAM Pertanyakan Pengembangan Kasus

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.