Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Seberapa Banyak Kita Harus Bicara?

Redaksi by Redaksi
November 1, 2022 1:38 pm
in Catatan
Akhmad Mukhlis, dosen Psikologi PIAUD UIN Malang dan Anggota Asosiasi PPIAUD Indonesia.

Akhmad Mukhlis, dosen Psikologi PIAUD UIN Malang dan Anggota Asosiasi PPIAUD Indonesia. Foto/dok.TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Akhmad Mukhlis*

Tugumalang.id – Selama minggu pertama kelas dibuka selepas pandemi, saya menemukan hal sama hampir pada semua kelas. Jauh dari ekspektasi saya yang berharap antusiasme mahasiswa, saya malah menemukan kelas-kelas yang hening dan sepi. Saat di kantor, saya menanyakan fenomena tersebut pada beberapa rekan kerja. Pendapat mereka hampir senada, namun rekan kerja lebih menyoroti keheningan kelas tersebut terjadi pada kelas-kelas baru. Kelas dimana mereka belum pernah tatap muka, entah itu mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama yang terhalang aturan pandemi.

READ ALSO

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Saat dihadapkan dengan situasi baru dan orang-orang baru, kita sering berpikir apa yang harus kita lakukan agar diterima dengan baik dalam lingkungan tersebut. Fenomena yang saya tulis di awal tulisan sedikit menunjukkan bahwa sebagain dari kita merasa tidak aman dengan kemampuan percakapan saat pertama kali bertemu dengan orang dan situasi baru.

Sebagian besar dari kita percaya bahwa menjadi tenang dan pendiam adalah pilihan terbaik agar mendapatkan kesan positif. Ini adalah kepercayaan, semacam tradisi dan tentu saja itu (menjadi pendiam) sekaligus menghindarkan kita pada resiko dan masalah.

Kesan pertama adalah penting, entah itu kita sadari atau tidak. Baik saat pertama bertemu dengan orang baru atau wawancara kerja, apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya dapat berdampak besar pada sikap yang akan dibentuk orang lain terhadap diri kita. Namun, apakah benar dengan menjadi pendiam atau sedikit berbicara adalah hal terbaik untuk mendapatkan kesan positif?

Riset Terbaru

Bagaimana kita membentuk kesan positif saat pertama kali bertemu dengan orang adalah tema yang banyak dikaji dalam berbagai keilmuan, terutama psikologi. Hampir semua budaya menyarankan untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, bahkan ada pepatah “diam itu emas.”

Namun, apakah itu berarti kita menjadi pendiam? Inilah yang coba diungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Quinn Hirschi, Dan Gilbert dan Tim Wilson melalui artikel ilmiah yang diterbitkan bulan juli 2022 dalam Personality and Social Psychology Bulletin. Hasil penelitian cukup mengejutkan, bahwa keyakinan untuk tidak banyak bicara dalam sebuah percakapan dengan orang baru justru membuat orang cenderung tidak menarik dan tidak disukai.

Studi yang dilakukan dengan 116 peserta tersebut menemukan bahwa kebanyakan orang berpikir bahwa mereka harus berbicara sekitar 45% saat bertemu dengan orang baru untuk memunculkan kesan disukai. Namun, nyatatanya setelah dilakukan beberapa sesi yang secara acak menugaskan orang untuk berbicara selama 30%, 40%, 50%, 60% atau 70% dari waktu dalam percakapan dengan seseorang yang baru, ditemukan bahwa mitra percakapan lebih menyukai orang yang berbicara lebih banyak.

Temuan penelitian tersebut nyatanya juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susan Sprecher, seorang dosen Illinois State University dan kedua koleganya tahun 2012. Dalam penelitian tersebut, Sprecher secara acak menugaskan sepasang peserta untuk berperan sebagai pembicara dan pendengar. Setelah terlibat dalam interaksi 12 menit, pendengar lebih menyukai pembicara daripada pembicara menyukai pendengar.

Hal tersebut karena pendengar merasa lebih mirip dengan pembicara, sebaliknya pembicara tidak merasakan hal serupa. Dengan lebih banyak berbicara, pendengar akan punya kesempatan lebih banyak mempelajari lawan bicaranya dan kesempatan untuk menemukan kesamaan antara mereka berdua terbuka lebar. Itulah mengapa bahwa seseorang yang berbicara lebih dengan orang baru disebut menarik daripada mereka yang cenderung pasif.

“Dengan lebih banyak berbicara, pendengar akan punya kesempatan lebih banyak mempelajari lawan bicaranya dan kesempatan untuk menemukan kesamaan antara mereka berdua terbuka lebar.”

Mengapa secara ilmiah justru ditemukan sebaliknya dengan apa yang kita yakini? Quinn Hirschi yang juga merupakan dosen University of Virginia menyatakan temuan ini berdasar pada dua alasan utama. Pertama adalah bias keengganan (reticence bias) dimana orang percaya bahwa mereka akan disukai dalam percakapan jika mereka berbicara kurang dari separuh waktu dan membiarkan lawan bicara mendominasi pembicaraan.

Faktanya, orang yang memonopoli percakapan seringkali dinilai egois dan tidak peduli. Tapi sekali lagi ini bukan berarti kita harus diam dan tidak mengambil porsi bicara, karena penelitian menyebut orang yang pasif cenderung dianggap membosankan atau penyendiri. Kesan terbaik terjadi saat pembicaraan terjadi seimbang antara kedua orang tersebut.

“Faktanya, orang yang memonopoli percakapan seringkali dinilai egois dan tidak peduli. Tapi sekali lagi ini bukan berarti kita harus diam dan tidak mengambil porsi bicara, karena penelitian menyebut orang yang pasif cenderung dianggap membosankan atau penyendiri.”

Hal kedua yang bisa kita ambil dari penelitian tersebut adalah fenomena halo ignorance.  Psikologi sosial telah lama mengetahui bahwa orang cenderung membentuk kesan global (the halo effect) yang memandang pasangannya sebagai hal yang menarik dan menyenangkan atau sebaliknya.

Secara khusus, banyak orang percaya bahwa jika mereka ingin disukai, maka mereka akan cenderung menjadi pendiam. Sebaliknya, jika mereka ingin orang lain berpikir bahwa mereka menarik, mereka akan berbicara lebih banyak. Secara garis besar peneliti menyebut seseorang sering tidak meyadari (halo ignorance) bahwa saat dua orang baru berbicara, keduanya membentuk kesan kepada lawan bicaranya masing-masing.

Dan, seperti yang telah kita lihat dari hasil penelitian, orang tidak menyukai mereka yang berbicara terlalu banyak atau terlalu sedikit. Jadi strategi terbaik untuk mendapatkan teman dan membuat orang berkesan dengan kita secara positif adalah dengan menjaga keseimbangan antara mendengar dan berbicara.

Mendefinisikan “Diam Itu Emas” Secara Ilmiah

Penelitian ilmiah dapat membantu kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang banyak hal, termasuk tentang kepercayaan kita saat menjalin interaksi sosial dengan orang baru. Kita tahu bahwa kepercayaan terhadap pepatah dan cara kita mendefinisikannya secara subjektif membawa kita menjadi cenderung pasif saat bertemu orang baru.

Diam itu emas membawa kita cenderung malu-malu dan takut dianggap tidak sopan saat berinisiatif membuka percakapan. Nyatanya, secara ilmiah kita tidak harus menjadi seperti yang kita pikirkan saat berbicara.

Pengetahun ilmiah membawa kita menjadi lebih percaya diri dan berpengetahuan tentang cara membuat kesan pertama yang baik. Dan sepertinya memang kita harus berbicara lebih banyak daripada biasanya dalam percakapan dengan orang baru untuk lebih ‘berkesan’, bukan?

*Dosen Psikologi FITK UIN Malang dan Anggota Asosiasi PPIAUD Indonesia

Tags: BicaraKuliah Pasca PandemiUIN Malang

Related Posts

Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Agama
Catatan

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Selasa, 19 Mei 2026
Prophetic Intelligence
Catatan

Prophetic Intelligence: Menyatukan Ideologi dan Strategi Politik PKB di Era Gen Z

Selasa, 12 Mei 2026
Sains dan Agama
Catatan

Paradigma Baru: Mengakhiri “Perang Dingin” antara Sains dan Agama

Minggu, 10 Mei 2026
Next Post
Para pemain Bayern Munchen saat merayakan gol ketiga yang dicetak oleh Benjamin Pavard.

Bayern Munchen Kirim Barcelona ke Europa League

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.