Malang, Tugumalang.id – Semangat berdampak dan bergerak menandai akhir 2025 sekaligus menjadi pembuka awal 2026 bagi ribuan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebanyak 2.582 mahasiswa resmi diberangkatkan mengikuti program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang tersebar di wilayah Malang Raya, Jombang, Kediri, hingga Probolinggo.
Pelepasan dilakukan secara simbolis oleh Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ilfi Nurdiana, dengan penyematan jas almamater kepada dua perwakilan mahasiswa. Momentum pemberangkatan berlangsung serentak pada 23 Desember 2025 di lapangan utama kampus.
KKM menjadi ajang darma mahasiswa sekaligus ruang pembelajaran nyata untuk menumbuhkan peran sebagai penggerak perubahan di tengah masyarakat. Program berbobot 2 SKS ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya hadir, tetapi turut belajar bersama warga, menguatkan potensi lokal, serta mendorong terwujudnya perubahan yang berkelanjutan.
Melalui koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Malang, mahasiswa telah dibekali keterampilan pengembangan masyarakat secara multidisipliner. Bekal akademik yang telah ditempuh hingga 100 SKS kini diuji melalui praktik langsung di lapangan. Mahasiswa didorong bermitra dengan masyarakat untuk merancang dan menjalankan program pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan setempat.
Baca juga: UIN Malang Susun Modul KKM Berdampak, Pengabdian Dimulai dari Suara Masyarakat
Arah Berdampak dan Bergerak
Mahasiswa KKM diterjunkan untuk berperan aktif dalam pengabdian kepada masyarakat melalui berbagai skema. KKM Reguler dan Mandiri diarahkan pada penguatan sumber daya manusia di desa-desa Kabupaten Malang. Sebagian kelompok mengusung pengarusutamaan gender melalui KKM unggulan Pusat Studi Gender dan Anak.
Kelompok lain fokus pada pendampingan UMKM melalui KKM unggulan Halal Center, khususnya membantu proses sertifikasi halal. Ada pula mahasiswa yang ditugaskan mengembangkan kehidupan sosial yang moderat, toleran, dan inklusif. Mereka ditempatkan di desa-desa multikultur dan multiagama untuk mentransformasi serta membranding desa toleransi beragama sebagai model kerukunan bangsa.
Menariknya, sekitar dua ratus mahasiswa bergerak ke sejumlah masjid di Kota Malang guna mengampanyekan penguatan keluarga sakinah. Program ini merespons tingginya angka perceraian dan pernikahan usia anak. Melalui inisiatif “pojok keluarga” atau family corner, masjid didorong menjadi pusat pemberdayaan keluarga. Inovasi ini menjadi bagian dari KKM Reguler yang dikelola Pusat Pengabdian kepada Masyarakat.
Mahasiswa KKM juga diarahkan terlibat dalam pendampingan psikososial berbasis pesantren. Langkah ini menjawab berbagai persoalan kesehatan mental yang muncul, mulai dari kekerasan, pelecehan, perundungan, hingga tantangan adaptasi santri. Sejumlah mahasiswa ditempatkan di pesantren untuk mendorong pemberdayaan mental santri secara holistik.
Selain itu, mahasiswa turut menyisir madrasah swasta yang membutuhkan penguatan tata kelola dan kualitas pendidikan. Pusat Studi Gender dan Anak juga mengawal kelompok mahasiswa yang bermitra dengan Sekolah Rakyat dan Pusat Pemberdayaan Keluarga di Malang Raya, termasuk membantu peningkatan tata kelola Rumah Sae (Sehat, Aman, dan Empati) di Kabupaten Probolinggo.
Dari Masalah ke Pengelolaan Potensi Berdampak
Selama 40 hari masa pengabdian, mahasiswa diharapkan tidak semata-mata berfokus pada penyelesaian masalah. Mereka dibekali pendekatan pengelolaan aset masyarakat agar mampu menggali potensi lokal secara berkelanjutan.
Mahasiswa tidak diarahkan pada aktivitas pembangunan fisik seperti pengecatan atau proyek infrastruktur, karena kebutuhan tersebut telah ditopang anggaran pemerintah daerah. Sebaliknya, mereka dilatih berbagi keahlian akademik yang dipadukan dengan kearifan dan keterampilan masyarakat.
Pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi landasan utama. Mahasiswa belajar dari masyarakat, dan masyarakat belajar dari mahasiswa. Dari sinilah solusi diharapkan lahir secara organik, berbasis kekuatan dan mentalitas masyarakat sendiri. Peran mahasiswa ditegaskan sebagai mitra keilmuan dan mitra pemberdayaan, bukan sebagai pemberi bantuan finansial atau penyelesai masalah secara instan.
Dengan semangat berdampak dan bergerak, ribuan mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata sekaligus pengalaman belajar yang bermakna, baik bagi masyarakat maupun bagi pembentukan karakter mahasiswa itu sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat, Mohammad Mahpur
redaktur: jatmiko





























