MALANG, Tugumalang.id – Toko Madjoe, toko kue legendaris di Kota Malang, telah berdiri sejak 1930 dan menjadi saksi perjalanan sejarah kuliner di kota ini. Hingga kini, toko ini tetap mempertahankan resep otentik serta perabotan lawas yang sudah ada sejak awal berdiri.
Menariknya, hampir seluruh perabotan di dalam toko masih asli, termasuk toples-toples kaca tempat menyimpan kue yang usianya hampir seabad.
“Sejak dulu jualannya seperti ini, nggak berubah sama sekali. Semua di sini adalah peninggalan, nggak ada yang baru,” ujar Charles Tedjomuljono, generasi keempat yang kini mengelola Toko Madjoe.

Resep Warisan dan Sentuhan Khas Belanda
Charles sendiri tidak mengetahui pasti asal mula resep kue di tokonya, namun ia menduga nenek buyutnya mempelajarinya dari orang-orang Belanda. Terlebih, keluarganya juga fasih berbahasa Belanda.
“Dulu, orang-orang Barat sangat suka kue kering seperti ini. Makanya resep-resepnya berasal dari sana,” tuturnya.
Baca juga: 5 Kuliner Legendaris di Lawang, Wajib Coba Saat Perjalanan Jauh
Berbagai jenis kue yang dijual di Toko Madjoe masih mempertahankan cita rasa klasik, seperti cransyes, kenari putih, almond putih, belinjo, sagon, mente, hingga speculaas dan kue jahe yang kaya rempah.
Salah satu yang menjadi ciri khas adalah kue semprit, yang masih dibuat menggunakan tepung garut, bukan tepung sagu atau tapioka seperti yang umum digunakan.
“Di pasaran, kue semprit biasanya pakai tepung tapioka atau sagu. Kalau kami tetap pakai tepung garut,” kata Charles.
Tepung garut sendiri berasal dari umbi-umbian berwarna putih seperti lobak, yang kini cukup sulit ditemukan di pasaran. Namun, demi menjaga keaslian rasa, Charles tetap mempertahankannya.
Kue Bentuk Unik dan Produksi Terbatas
Selain menjaga resep, Toko Madjoe juga dikenal dengan bentuk kue yang unik, seperti bebek, kelinci, dan leo, yang tidak hanya menarik perhatian tetapi juga menggoda selera. Dari sekian banyak jenis, cransyes dan kenari putih menjadi favorit pelanggan.
Untuk menjaga kesegaran, produksi kue di Toko Madjoe tidak dilakukan setiap hari.
“Kami hanya bikin kalau stok mulai menipis, jadi selalu fresh. Biasanya dalam seminggu sudah produksi lagi,” jelas Charles.

Baca juga: 5 Jajanan Tradisional Khas Malang Legendaris yang Wajib Dicoba
Lokasi Tak Berubah Sejak 1930
Toko Madjoe beralamat di Jalan Pasar Besar Nomor 30B, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Lokasi ini tidak pernah berubah sejak pertama berdiri.
Awalnya, keluarga Charles juga tinggal di dalam toko, namun pada 1970-an bagian depan toko terpaksa dibongkar sepanjang 3,5 meter akibat pelebaran jalan. Meski demikian, bangunan dan nuansa klasiknya tetap terjaga hingga sekarang.
Dengan usia hampir satu abad, Toko Madjoe tak sekadar tempat berjualan kue, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner Kota Malang yang terus bertahan di tengah gempuran zaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























