Puasa Mengajarkan Kejujuran

  • Whatsapp
Ustadz Abdul Adzim Irsad.

Oleh : Abdul Adzim Irsad*

Jujur salah satu sifat khusus Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berhasil membawa risalah Islamiyah karena beliau jujur. Karena kejujurannya, semua masyarakat Makkah, tidak bisa mencari celah keburukan Rasulullah SAW. Karena memang Rasulullah SAW terlahir tanpa cela, baik fisik maupun sifatnya. Namanya saja “Muhammad” yang artinya orang yang terpuji. Kadang Alquran menyebutnya dengan “Ahmad” yang artinya “paling terpuji”.

Seorang pendakwah (mengajak ke jalan Allah) akan mendapat pengakuan serta follower yang banyak nan setia, ketika memiliki sifat jujur. Apa yang diucapkan Rasulullah SAW selaras dengan prilakunya. Makanya, Rasulullah SAW mendapat apresiasi dari masyarakat kota Makkah yang notabene masih dinamisme dan politeisme.

Sebagian masyarakat Makkah masih membenci Muhammad karena Rasulullah SAW dianggab pembawa agama baru, namun dalam hati mereka tetap mencintai dan merindui pribadi Muhammad yang terpuji. Mereka tidak punya alasan satupun membenci Muhammad, karena kesempurnaan budi pekertinya.

Bulan puasa adalah momentum paling tepat membangun karakter jujur terhadap diri sendiri dan kepada Allah SWT. Jujur dalam berpuasa berarti menjaga komitmen puasa sejak fajar hingga matahari tenggelam (magrib).

Dalam kondisi lapar dan haus, orang bisa saja makan dan minum ditempat yang sepi seperti, di kantor, pasar, tempat kerja tanpa ada orang yang melihatnya. Namun karena mengerjakan puasa atas dasar iman kepada Allah SWT, walaupun kondisi lapar dan dahaga, tetap komitmen tidak makan dan tidak maum demi menjaga kejujuran kepada Allah SWT.

Komitmen ini sebenarnya bukan pada masalah lapar dan dahaga, namun juga komitmen menjaga lisan dengan tidak berbicara kasar dan kotor, apalagi membincangkan keburukan sesama. Membincangkan keburukan sesama, bukan hanya dosa kepada orang yang diprebincangkan, namun juga doa kepada Allah SWT. Juga komitemen di dalam menjaga tangan dari menulis status tidak yang baik di medsos, seperti; IG, twitter, FB, Titktok. Jangan asal posting, namun postinglah sesuatu yang bermanfaat dan penting”. Karena status yang tidak penting bisa mengurangi kualitas puasa.

Baca Juga  Meniti Jalan Wali di Bulan Suci Ramadhan

(QS. Yasin: (36:65) menerangkan yang artinya “pada hari ini (kiamat), Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” Potensi lisan berbohong sangat besar, dan tangan akan berbicar dengan jujur atas kebohongan liasan. Potensi tangan berbohong nyaris tidak bisa, sehingga kekal akan berbicara apa adanya, dan kali menjadi saksi.

Kejujuran akan mengantarkan pada kesuksesan dan keberhasilan. Rasulullah SAW dengan modal jujur mampu menjadi seorang pengusaha yang sukses sewaktu masih muda. Bahkan, Khadijah ra, tetarik bekeja sama dengan Muhammad waktu itu. Wal hasi, bisnis Khadjih mendapat keuntungan yang luar biasa. Jujur dalam apap-pun, yang menguntungan. Dan puasa salah satu sarana dari langit mengajarkan jujur lahir dan batin.

Jujur menjadi karakteristik umat Rasulullah SAW, dimana Alquran menegaskan “wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah SWT, dan jadilah kalian orang-orang yang jujur (QS. Al-Taubah (9:119). Ayat ini menegaskan “tidak orang yang ber-iman berdusta”. Apalagi berdusata dengan menggunakan ayat-ayat Alquran untuk kepentingan pribadi. Orang yang bertaqwa, pasti akan menghindari sifat dusta, karena bertaqwa itu berarti melaksanakan perintah Allah SWT dan berusaha kerasa meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Orang pendusta termasuk sangat rendah martabatnya, Allah SWT berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung (QS. Yunus (10:69). Pembohong itu tidak akan sukses dalam hal apa-pun dalam hidupnya, mulai berbisnis, pejabat, pengajar, peneliti, jurnalistik. Karena bohong itu berarti menentang nilai-nilai Alquran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umat. Bulan puasa merupakan momentum paling baik untuk mengajarkan sifat-sifat jujur kepada diri sendiri. Sesungguhya setiap apa yang dikerjakan manusia, pasti akan terekam.

Baca Juga  Hukum Memanjakan Birahi di Bulan Suci

Rasulullah memberikan nasehat kepada orang yang jujur “Wajib bagi kalian untuk jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan takutlah kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta dan memilih berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (HR.Muslim).

*Dosen Universitas Negeri Malang (UM)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *