Sabtu, Agustus 29, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Pesantren Attamur di Bandung Bina Anak Jalanan, Warga Kurang Mampu, hingga Pecandu Narkoba

Redaksi by Redaksi
September 1, 2022 8:43 am
in Pilihan Redaksi
pesantren attamur

Para santri saat belajar menghafalkan “wazan” bentuk-bentuk perubahan kata dalam bahasa Arab di masjid Syahida, pada Rabu (31/8/2022). Foto: Herlianto A

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tim Jelajah Jawa Bali, Mereka yang Memberi Arti melakukan ekplorasi di Bandung, Jawa Barat, pada hari kedua jelajah. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Pesantren Attamur di Cibiruhilir, Kabupaten Bandung. Pesantren yang unik karena membina anak jalanan, warga kurang mampu, hingga pengguna narkoba. Berikut catatannya.

pesantren attamur
Syamsudin (kanan) saat menerima kenang-kenangan produk PT Paragon dari CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq (kiri), di kediamannya. Foto: Herlianto A

Tugumalang.id – Salat magrib di Masjid Syahida Cibiruhilir Bandung baru saja usai, ditutup dengan doa oleh sang imam. Sejumlah anak muda belasan tahun bergegas ke pojok masjid dan bersila melingkar sembari mengeluarkan buku berwarna kuning.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Mereka lalu bersama mengiramakan bacaan tertentu dengan nada kasidah. Bacaan itu rupanya “wazan” yaitu kunci belajar shorof atau disebut juga tashrif. Shorof adalah ilmu yang mempelajari perubahan kata dalam bahasa Arab atau dikenal morfologi.

Mereka adalah para santri Pesantren Attamur, pesantren yang selama ini menjadi tempat belajar para anak jalanan, mahasiswa, dan beberapa anak tak mampu sekolah. Mereka diajari baca kitab, kebudayaan, dan tentang akhlak.

Lalu berjarak sekitar lima langkah ke sebelah kiri masjid ada aula seukuran kira-kira 20×8 meter, sejumlah anak-anak seusia sekolah dasar membaca Iqra’ yaitu bacaan untuk belajar dasar membaca Al-Qur’an. Mereka dipandu oleh salah santri Attamur yang sudah bisa baca Al-Qur’an.

Para santri ini dulunya dikumpulkan oleh Syamsuddin, pendiri pesantren anak jalanan Attamur pada tahun 2008. Hingga kini sudah ada puluhan anak jalanan yang pernah nyantri di pesantren ini. Bahkan, beberapa di antaranya merupakan pecandu narkoba.

“Saya mendirikan pesantren anak jalanan Attamur ini, dulu diberi tantangan oleh teman. Bisa nggak kamu membuat anak jalanan cium tangan,” kata Om Syamsu, demikian dia dipanggil, menirukan ucapan temannya, saat ditemui di kediamannya di dusun Cimekar, Cileunyi, Kabupaten Bandung, pada Rabu (31/8/2022) kepada tim jelajah “Jawa Bali, Mereka yang Memberi Arti” oleh Tugu Media Group dan PT Paragon Technology and Innovation.

Santri Pecandu Narkoba

Awalnya, pada tahun 2008, ada anak asal NTT kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tinggal di masjid Syahida. Untuk membayar SPP, mereka kuliahnya ngamen di jalanan bersama anak jalanan lainnya, setelah ngamen tidur di masjid.

Saat itulah, Syamsuddin meminta anak itu beserta temannya untuk berkumpul di masjid tersebut dan ngaji bersama. Sejak itu kegiatan pesantren anak jalanan itu dimulai.

Pada Januari 2008. pesantren Attamur resmi berdiri. Anak-anak jalanan dan beberapa anak tak mampu sekolah datang untuk belajar di tempat itu.

“Karena mereka anak jalanan, kalau siang saya bebasin boleh ke mana aja. Mungkin mau ngamen atau apa. Tapi kalau malam harus balik ke pondok ngaji. Mereka mau ngaji saja sudah bagus,” kata alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu.

Dalam perkembangannya, tak hanya anak jalanan yang datang ke Attamur, tetapi juga ada beberapa yang sudah menjadi pecandu narkoba. Para pecandu ini kadang kumat ingin menghisap, jika terjadi demikian, mereka dimandikan tengah malam agar sadar.

“Pecandu inikan kadang kurang sadar kalau lagi kumat. Kalau saya minta dibuatkan kopi, kadang dia nggak balik-balik dari dapur. Ternyata setelah dicek, kopinya diminum sendiri di dapur,” katanya, lalu terkekeh.

Ngaji Kitab Kuning

Di Attamur para santri tersebut diberikan jadwal yang rutin untuk belajar ngaji. Beberapa kitab yang biasanya dipelajari di antaranya Tafsir Jalalain, Safinatun Najah, Jurumiyyah, Murottal Hadis, dan Tawasul.

“Pengajarnya ada beberapa ustadz, saya biasanya ngisi tawasul pada malam Jumat,” kata pria yang pernah belajar Filsafat di UIN Syarif Hidayatulla Jakarta itu.

Beberapa kitab kuning tersebut memang biasanya dipelajari di pesantren salaf sebagai kitab dasar yang harus dikuasai oleh para santri, sebelum beranjak ke beberapa kitab lainnya yang lebih sulit.

Selain kitab kuning, para santri juga belajar hal lain, seperti kajian kebudayaan, wawasan kebangsaan, dan diskusi toleransi. Untuk itu, biasanya Attamur menghadirkan pembicara dari luar. Salah satu tokoh nasional yang pernah hadir adalah Cak Nun.

Tantangan Menghadapi Anak Jalanan

Namun demikian, Syamsuddin mengakui menghadapi anak jalanan tidak mudah. Mereka kadang menuntut dikasih uang, jika belajar ngaji dia dapat uang berapa. Karena kalau ngamen mereka sudah pasti dapat uang.

“Di Attamur mereka hanya ngaji secara gratis, tapi mereka minta uang karena biasanya ngamen dapat uang. Akhirnya mereka keluar masuk pesantren,” kata Om Syamsu.

Santri keluar masuk ini biasa terjadi, biasanya bertahan hingga 5-7 bulan setelah itu keluar. Walaupun ada juga yang bertahan hingga sukses kuliah. Tetapi baginya itu hal wajar, karena bagi seorang anak jalanan, bisa datang ke masjid belajar ngaji meskipun sebentar sudah bagus.

Karena anak jalanan yang keluar masuk itu, akhirnya Attamur membebaskan santri yang akan masuk tidak harus dari anak jalanan, orang tidak mampu dan yatim juga boleh. Saat ini, ada 20 santri dari anak jalanan dan anak tidak mampu yang belajar di pesantren tersebut.

Mereka kemudian didorong untuk melanjutkan sekolah atau kuliah. Ada beberapa yang tidak mau sekolah diikutkan kejar paket. Bagi Om Samsu, pendidikan adalah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh untuk mengubah hidupnya. “Mereka sudah tidak punya apa-apa, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah sekolah,” kata dia.

Untuk biaya sekolah, tak jarang Om Syamsu memberikan hutangan pada santrinya. Hutangan itu agar anak jalanan dapat dikontrol untuk bekerja dan semangat kuliah. Nanti setelah selesai kuliah, hutang itu dibayar. “Ya kalaupun mereka bayar, saya kembalikan untuk diberikan pada mereka,” kata dia.

Adapun untuk biaya hidup sehari-hari, para santri iuran Rp125 ribu untuk makan dan wifi dalam setiap bulannya. Walaupun yang bayar hanya 80 persennya saja. Kekurangannya ditanggung oleh Syamsuddin.

Mengapa Melakukan hal yang “Sia-sia”?

Ditanya mengapa Syamsuddin mau melakukan hal yang tidak menghasilkan uang itu? Dia menjawab, dirinya dulu pernah belajar di pesantran secara gratis yaitu di Al Masturiyah, Sukabumi. Om Syamsu ditinggal sang bapak pada saat kelas 4 SD, sehingga untuk belajar dia mengalami kekurangan.

“Saya dulu bekerja di kebun milik orang Konghuju di pelabuhan ratu,” kenangnya.

Dia bercita-cita belajar di pesantren, tetapi tak ada uang. Para teman-temannya juga nyantri di Gontor. Akhirnya pada tahun 1993, dia ditawari mondok di Al Masturiyah secara gratis asalkan membantu pesantren seperti bersih-bersih dan apapun.

“Saat itu yang mengesankan saat saya harus bersihkan kamar mandi cewek, di situ kotor. Kalau ada cewek saya pergi dulu, malu,” kenangnya.

Itulah pengalaman yang membuat Syamsuddin mau mendidik anak jalanan meskipun tidak mendapat bayaran. Baginya, apa yang dia lakukan tidak bisa dinilai dengan apapun.

“Kalau ada sekolah yang biayanya puluhan juta, itu masih murah karena masih ada nilainya. Di Attamur tak ada nilainya berapapun,” kata dia.

pesantren attamur

 

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali, tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.

Reporter: Herliyanto A

Editor: Lizya Kristanti

Tags: Bandungjelajah jawa balipesantren attamurpesantren attamur bandung

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
ahmad zakaria

Ahmad Zakaria, Mantan Anak Jalanan yang Jadi Santri, Kini Bermimpi Jadi Pengusaha Sukses

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.