MALANG, Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) terus menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas akademik dan menjaga tradisi keilmuan.
Sebanyak tujuh dosen resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar di berbagai bidang keilmuan dalam acara pengukuhan yang dihelat di Aula Rektorat Lantai 5 pada Rabu (23/09/2026).
Kegiatan pengukuhan ini dipimpin langsung oleh Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si yang juga dihadiri pimpinan kampus dan senat.
Baca Juga: Tim E-Sport UIN Malang Raih Medali Silver di PORSI JAWARA II 2026
Dalam sambutannya, Prof. Ilfi merasa bahagia karena kini jumlah Guru Besar di UIN Malang telah mencapai 90 orang dengan tambahan tujuh Guru Besar baru tersebut.

Ia berharap para Guru Besar dapat amanah memberikan dampak yang nyata dalam pengembangan keilmuan. Serta memberikan solusi nyata terhadap berbagai problem yang dihadapi masyarakat dari kacamata keilmuannya masing-masing.
“Semoga UIN Malang semakin melangit dengan dikukuhkannya tujuh Guru Besar ini. Jabatan Guru Besar ini hanyalah wadah, sedangkan sinergi dan dampak nyata adalah isinya. Jadilah Guru Besar yang berkarakter dan berdampak,” kata Prof. Ilfi.
Ada yang unik dan memikat dalam gelaran pengukuhan kali ini. Di hadapan Ketua Senat, jajaran pimpinan, serta keluarga besar UIN Malang. Prof. Ilfi membedah hakikat seorang Guru Besar menggunakan analogi gramatikal Bahasa Arab yakni Asrarun Nahwi dari bait terkenal Nadzom Ibnu Malik, Wal ismu minhu mu’rabun wa mabniyyu, lisyabahin minal huruufi mudnii.
Baca Juga: UIN Malang Dipercaya KPK Jadi Kampus Percontohan Pengendalian Gratifikasi
Secara bahasa, bait ini menjelaskan bahwa kalimat isim atau kata benda ada yang bersifat mu’rab yang bermakna fleksibel dan ada yang mabni atau terkunci. Prof. Ilfi menarik garis filosofis dan sufistik bahwa manusia digambarkan sebagai isim, sementara fi’il adalah amal perbuatannya.

“Seorang Guru Besar yang menduduki jabatan akademik tertinggi harus menjadi mu’rab. Artinya, ia harus bertransformasi secara dinamis menjadi lentera keilmuan, giat meneliti, meninggikan akhlak, dan membimbing mahasiswa dengan ketulusan,” ujarnya.
“Sebaliknya, jika seorang profesor tidak membawa perubahan apa-apa setelah dikukuhkan, maka ia bersifat mabni alias GBHN, Guru Besar Hanya Nama,” tegas Prof. Ilfi.
Prof. Ilfi juga mengingatkan di tengah arus teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif, meneliti dan menulis saja, kini tidak lagi cukup. Perguruan tinggi harus tetap menjadi oasis refleksi, ketepatan, dan kedalaman berpikir kritis di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Rektor menegaskan bahwa Guru Besar adalah fondasi ekosistem akademik yang bertugas menjaga nilai-nilai kemanusiaan, kejujuran, dan etika ilmu pengetahuan agar tidak tergerus zaman.
“Guru Besar sejati tidak hanya diukur dari seberapa banyak karya-nya, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang tercerahkan oleh ilmu dan keteladanannya,” tandasnya.
Berikut ini daftar tujuh guru besar baru UIN Malang yang baru saja dikukuhkan:
1. Prof. Dr. Bisri Mustofa: Guru Besar dalam Kepakaran Pembelajaran Sintaksis Arab;
2. Prof. Dr. H.M. Samsul Hady, M.Ag: Guru Besar dalam Kepakaran Pemikiran Islam Modern;
3. Prof. Dr. Bakhruddin Fannani, M.A: Guru Besar dalam Kepakaran Sosiologi Gerakan Islam;
4. Prof. Dr. Zaenul Mahmudi, M.A: Guru Besar dalam Kepakaran Hukum Kewarisan Islam;
5. Prof. Dr. Nurhadi, M.A: Guru Besar dalam Kepakaran Strategi Pembelajaran Bahasa Arab;
6. Prof. Dr. Mamluatul Hasanah, S.Ag, M.Ag: Guru Besar dalam Kepakaran Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab;
7. Prof. Dr. H. Ahmad Fatah Yasin, M.Ag: Guru Besar dalam Kepakaran Inovasi Pendidikan Islam.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A































