Napoli merupakan kota di wilayah Italia bagian selatan. Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, kota tersebut memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan kesenjangan sosial yang cukup besar.
Banyak masyarakat kelas pekerja membutuhkan makanan yang murah, praktis, dan mengenyangkan. Pizza pun menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Makanan ini dijual oleh pedagang kaki lima maupun toko-toko kecil. Bentuknya sederhana, berupa adonan roti pipih dengan topping minyak zaitun, bawang putih, keju, dan tomat.
Saat itu, pizza identik dengan kehidupan masyarakat biasa. Harganya terjangkau dan bisa disantap tanpa peralatan makan yang rumit. Karakter tersebut membuat pizza mudah diterima masyarakat Napoli.
Migrasi Orang Italia Membawa Pizza ke Amerika

Penyebaran pizza ke berbagai belahan dunia tidak lepas dari gelombang migrasi masyarakat Italia. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, banyak orang Italia meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari kehidupan baru, terutama ke Amerika Serikat.
Sebagian besar imigran berasal dari wilayah Italia selatan, termasuk Napoli. Mereka membawa kebiasaan makan, resep keluarga, dan tradisi memasak ke negara tujuan.
Baca juga: Morebite Pizza Pasar Dinoyo: Sensasi Lezat Pizza Homemade di Tengah Ramainya Kuliner Malang
Di Amerika Serikat, pizza mulai dikenal melalui komunitas imigran Italia. Salah satu kota yang menjadi pusat perkembangannya adalah New York. Pada 1905, Gennaro Lombardi memperoleh lisensi untuk mengoperasikan usaha pizza di New York yang kemudian dikenal sebagai Lombardi’s.
Dari lingkungan komunitas Italia-Amerika, pizza perlahan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Makanan ini kemudian mengalami penyesuaian dengan selera lokal, ketersediaan bahan, dan perkembangan industri makanan.
Pizza gaya New York, misalnya, dikenal dengan ukuran besar dan potongan lebar yang relatif tipis. Sementara itu, Chicago mengembangkan deep-dish pizza dengan lapisan adonan lebih tebal dan isian melimpah.
Popularitas Pizza Meningkat Setelah Perang Dunia II
Popularitas pizza semakin meningkat setelah Perang Dunia II. Tentara Amerika yang pernah bertugas di Italia mengenal makanan tersebut dan ikut memperkenalkannya ketika kembali ke negara asal.
Pada saat bersamaan, pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakat mendorong perkembangan bisnis makanan cepat saji. Pizza yang sebelumnya banyak ditemukan di restoran keluarga mulai diproduksi dalam skala lebih besar.
Baca juga: 4 Tradisi Kuliner Dunia yang Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Di berbagai negara, pizza kemudian berkembang dengan karakter lokal. Jepang mengenal pizza dengan topping seafood dan mayones. Sementara itu, sejumlah negara Asia mengadaptasinya dengan bahan-bahan yang lebih dekat dengan kebiasaan makan masyarakat setempat.
Globalisasi membuat pizza menjadi makanan lintas budaya. Resep dasarnya tetap sama seperti di tempat asalnya, tetapi variasi topping, tekstur, ukuran, hingga cara penyajiannya terus berkembang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko





































