Kegiatan bertajuk “Pahlawan Keluarga Menuju Pulih” itu digelar di markas ASC di kawasan Blimbing, Kota Malang. Acara tersebut menjadi wadah bagi para penyintas stroke untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, serta bertukar informasi mengenai pengobatan dan pemulihan.
Berbagai kegiatan digelar dalam acara tersebut. Mulai sharing session antarpeserta, terapi electric stimulation, olahraga bersama, rekreasi ringan, hingga pembagian paket sembako.
Baca juga: Mahasiswa Polinema Kembangkan Alat Bantu Pemulihan Stroke Berbasis Robotik
Suasana kekeluargaan terlihat ketika para peserta saling berbagi cerita tentang perjalanan panjang menghadapi stroke dan menjalani masa pemulihan. Kebersamaan itu menjadi sumber semangat bagi mereka untuk terus berjuang menjalani kehidupan meski dihadapkan dengan berbagai keterbatasan.

Ketua ASC Mutianik mengungkapkan, komunitas tersebut lahir dari kebutuhan emosional dan psikologis para penyintas untuk saling menguatkan. Berawal dari rasa senasib sepenanggungan, mereka menemukan saudara baru yang memahami beratnya perjuangan selama masa pemulihan.
“Dengan sesama teman penderita stroke, itu kita seperti menemukan saudara. Kami ingin memberi pesan bahwa kita tidak sendirian. Dengan kebersamaan ini, kita saling memberikan semangat untuk bisa pulih bersama,” ungkapnya.
Komunitas yang dibentuk sejak tujuh tahun lalu itu kini berkembang dan menaungi sekitar 50 anggota yang tersebar di wilayah Malang Raya. Berbagai kegiatan rutin digelar untuk menjaga semangat anggota, seperti olahraga pagi, jalan kaki bersama, kontrol kesehatan rutin, hingga terapi mandiri secara kolektif.
“Kegiatannya itu bisa terapi dan sharing. Soalnya pemulihan setiap orang berbeda-beda. Kalau saya sendiri, pemulihan saya lakukan dengan tetap aktif bekerja, jalan kaki pagi hari, olahraga, serta terapi dan kontrol rutin,” jelas Mutianik.

Ia menambahkan, terapi yang dijalankan selama ini sebagian besar merupakan inisiatif mandiri para anggota. Kegiatan dilakukan bersama-sama dalam suasana kekeluargaan tanpa mengabaikan pentingnya dukungan medis.
Pengurus ASC juga tidak hanya memperhatikan anggota yang bisa hadir dalam kegiatan. Mereka turut menjangkau anggota lain yang kondisinya masih terbatas dan harus menjalani pemulihan di rumah.
“Perjuangan bersama ini nyata. Ada bapak-bapak yang belum bisa bekerja, ada yang belum bisa berjalan, bahkan ada yang hanya bisa berbaring di rumah. Jika ada yang seperti itu, kita selalu datangi langsung untuk memberikan support agar mereka tetap semangat,” ujar Mutianik.
Anggota ASC Keluhkan Minimnya Sosialisasi KPD
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang turut hadir untuk memberikan sosialisasi mengenai akses Kartu Penyandang Disabilitas (KPD). Kehadiran petugas Dinsos disambut antusias oleh anggota ASC yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan.
Mutianik menyampaikan, perhatian dan sosialisasi pemerintah mengenai KPD selama ini masih dirasa kurang maksimal. Hingga kini, sebagian besar anggota ASC belum memiliki kartu tersebut. Padahal, KPD dinilai penting bagi para penyintas yang sebagian besar merupakan kepala keluarga dan tulang punggung keluarga yang terkendala stroke.
“Selama ini sosialisasi KPD itu kurang. Kita semua sampai hari ini belum punya KPD, mengurusnya seringkali seolah dipersulit, padahal itu penting bagi kita semua yang rata-rata merupakan pejuang keluarga tapi terkendala stroke,” ungkapnya.

Bagi para penyintas, KPD bukan sekadar kartu identitas tambahan. Kartu tersebut diharapkan dapat mempermudah akses berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai transportasi publik, kesempatan kerja yang inklusif, hingga keringanan dalam mengurus administrasi pendidikan anak-anak mereka.
Berharap Ada Kemudahan Akses bagi Penyintas Stroke Malang
Melalui momentum Hari Pahlawan, ASC berharap sosialisasi dari Pemerintah Kota Malang tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Mereka ingin ada tindak lanjut nyata agar para penyintas bisa memperoleh hak dan akses layanan yang dibutuhkan.
ASC juga mendesak adanya kemudahan birokrasi dan keberpihakan pemerintah. Dengan begitu, para penyintas stroke yang selama ini menjadi pahlawan keluarga tetap memiliki kesempatan mendapatkan pekerjaan layak serta bantuan berkelanjutan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko





































