Demplot yang dimanfaatkan sejak Juli 2026 itu menunjukkan metode budidaya ramah lingkungan tetap mampu menghasilkan panen maksimal. Meski penggunaan pupuk kimia dikurangi 30 persen, lahan seluas 0,6 hektare tersebut tetap menghasilkan 4 ton padi.
“Kami membuat demplot agroekologi. Di fase pertama ini (digunakan untuk belajar) mengurangi pupuk kimia dan mengurangi pestisida-pestisida kimia,” ujar Ketua Pengurus Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban Wahid Hasyim beberapa waktu lalu.
Baca juga: Sekolah Lapang Agroekologi Amartapadi Indramayu Dorong Petani Kurangi Ketergantungan Kimia
Ia menjelaskan, demplot yang berlokasi di Kecamatan Parengan tersebut tetap menghasilkan panen padi meskipun sempat mengalami keterbatasan pasokan air akibat musim kemarau. Capaian itu didukung kandungan bahan organik tanah yang cukup tinggi.
“Memasuki kemarau, kondisi padi memang kekurangan air. Tetapi masih panen dengan perolehan hasil yang normal,” ungkap Wahid.
Menurut Wahid, persoalan air menjadi salah satu tantangan utama petani di wilayah tersebut. Sebagian lahan pertanian merupakan sawah tadah hujan sehingga produktivitasnya sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Tantangan semakin besar ketika sejumlah lahan yang sebelumnya mengandalkan jaringan irigasi teknis atau HIPPA mengalami gangguan akibat kerusakan peralatan. Akibatnya, petani kembali menghadapi keterbatasan pasokan air.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, koperasi turut mengenalkan kembali metode tanam yang telah diterapkan petani sejak dahulu. Di antaranya sistem rancah serta metode tanam benih langsung atau tunda tanam sesuai kondisi musim.
Wahid menilai, pengaturan waktu tanam dan pemilihan metode budidaya dapat membantu petani memanfaatkan periode hujan secara lebih optimal. Dengan begitu, lahan tadah hujan tetap berpeluang ditanami padi hingga dua kali dalam setahun.
“Itu adalah kasuistik di salah satu demplot kami yang memulai persemaian pada bulan Juli lalu,” kata Wahid.
Demplot Agroekologi Kurangi Ketergantungan Pupuk
Dalam Sekolah Lapang Agroekologi, petani juga belajar memperbaiki kondisi tanah dengan memanfaatkan limbah peternakan dan pertanian. Mereka didorong menerapkan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia.
Wahid menjelaskan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar masih menjadi salah satu persoalan petani. Selama ini, kebutuhan pupuk, pestisida, hingga herbisida masih banyak dipenuhi melalui pembelian di toko pertanian.
Baca juga: APPOLI Boyolali Kembangkan Pertanian Organik, Berdayakan Petani hingga Pemuda
Pengembangan Sekolah Lapang Agroekologi tidak lepas dari dukungan Aliansi Petani Indonesia (API). Sekretariat Nasional (Seknas) API selama ini memberikan dukungan berupa jaringan internasional, nasional, dan regional.
“Seknas API mendorong kemampuan organisasi melalui penyaluran challenge fund serta pendampingan transisi agroekologi,” kata Wahid.
Sekolah Lapang Agroekologi yang berlangsung sejak Juli 2026 itu diikuti anggota Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban. Hingga November 2026, program tersebut telah memasuki pelaksanaan kelima dengan jumlah peserta rata-rata 25 hingga 30 orang dalam setiap kelas.
Kembangkan Usaha Benih hingga Jasa Tanam
Selain Sekolah Lapang Agroekologi, Koperasi Produsen Serikat Petani Tuban juga membangun kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan benih. Koperasi sekaligus mengembangkan pemasaran bersama setelah masa panen.
Menurut Wahid, pengelolaan benih dan pemasaran secara kolektif diharapkan memperkuat posisi petani dalam rantai produksi pertanian. Koperasi juga mengembangkan unit usaha jasa tanam untuk menjawab persoalan keterbatasan tenaga kerja.
Ia menjelaskan, regenerasi petani muda yang masih terbatas membuat ketersediaan tenaga kerja tanam semakin menjadi tantangan. Di sisi lain, tenaga kerja perempuan juga mulai menghadapi keterbatasan fisik untuk mengelola sawah atau kebun.
Melalui unit jasa tanam, koperasi menarik pemuda untuk terlibat dalam sektor pertanian. Sementara itu, para perempuan dilibatkan dalam proses persemaian.
“Dengan adanya unit usaha tanam, kami bisa melatih pemuda untuk kembali ke mekanisasi alat tanam. Kemudian ibu-ibu juga bisa terlibat membuat persemaian padi menggunakan nampan,” paparnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





































