Oleh: Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog*
MALANG, Tugumalang.id – Tanpa disadari di tengah era post truth, sebuah informasi diterima atau ditolak bukan karena benar atau salah, melainkan karena sesuai atau tidak dengan perasaan dan keyakinan pribadi setiap individu.
Di era ini, hati lebih cepat bicara daripada akal. Seseorang mudah percaya pada apa yang menyentuh emosi dan sering kali tanpa sadar, kita menjadi sangat bias.
Di sinilah media memegang peran yang sangat besar. Sebuah judul yang menyeramkan, menyedihkan, atau sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran dan iba bisa dengan mudah menggerakkan emosi pembacanya.
Baca Juga: UB Kukuhkan 5 Profesor Baru, Teliti Pertanian hingga Kesehatan Mental
Kebenaran pun perlahan kabur, sementara emosi mengambil alih. Bayangkan jika paparan itu terjadi setiap hari. Hanya dengan membaca satu tulisan, seseorang bisa terseret ke dalam amarah, kecemasan, dan berbagai perasaan berat lainnya, lalu terjebak di dalamnya tanpa tahu bagaimana keluar.
Karena itu, sebagai manusia yang memiliki nurani dan peduli pada kesehatan jiwa sesama, alangkah indahnya jika media hadir dengan kepekaan dan empati, ikut menjaga ketenangan batin masyarakat.
Batas Benar Salah yang Semakin Samar
Ada sisi lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yaitu batas antara benar dan salah yang semakin samar. Informasi yang tidak jelas, bahkan palsu, kini dengan mudah menyamar menjadi seolah-olah kebenaran.
Mungkin kita pernah mendengar kalimat, “yang penting ada berita”, bukan karena sesuatu itu penting baru jadi berita.
Baca Juga: UIN Malang Survei Kondisi Keberagaman dan Kesehatan Mental di Ma’had
Semoga ini hanya sebuah ungkapan, bukan kenyataan yang kita jalani setiap hari. Bahasa yang hiperbolis kerap menutupi isi berita yang sesungguhnya, bahkan menjauhkannya dari realitas.
Bagi penulis, mungkin itu hanyalah rangkaian kata. Namun bagaimana dengan pembacanya? Bagaimana dengan mereka yang namanya, kisahnya, dan lukanya dijadikan objek berita? Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut bahwa sesuatu yang dianggap sekadar tulisan bisa menjadi pemicu atau trigger yang membangkitkan luka lama, bahkan melukai hati orang lain.
Media sosial pun perlahan berubah menjadi ruang gema (echo chamber), tempat kita hanya mendengar suara yang sama dengan suara kita sendiri, sehingga jurang polarisasi kian melebar.
Viral atau FYP dengan jumlah tayangan yang masif sering dijadikan ukuran. Saat menerima sebuah kiriman berita, kita bertanya, apakah ini benar?, lalu jawab yang paling sering muncul adalah iya benar, hanya karena banyak yang sudah membagikan.
Maka kebenaran tak lagi berdiri di atas fakta, melainkan di atas banyaknya jumlah orang yang melihat. Apakah itu salah? wallahu a’alam bish-shawab. Namun jika kebenaran hanya diukur dari FYP dan jumlah tayangan, itu adalah kekeliruan yang sangat menyedihkan.
Lebih menyedihkan lagi, influencer kini lebih daripada para ahli. Orang berlomba-lomba menambah pengikut karena lagi dan lagi, influencer dianggap lebih layak dipercaya daripada ilmuwan.
Kesehatan Mental
Lalu, apa kaitannya dengan kesehatan mental? sangat erat. Hari ini, sebagian besar dari kita hidup berdampingan dengan media daring. Berita yang mengerikan, menakutkan, hoaks, dan berlebihan berserakan di mana-mana, tanpa saringan dan tanpa konfirmasi.
Siapa pun, kapan pun, dan dimanapun bisa membuat berita. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca berita buruk secara terus-menerus di media sosial dapat memicu kecemasan, rasa tidak berdata, bahkan depresi.
Pikiran pun lelah dan otak kesulitan membedakan mana yang valid dan mana yang manipulatif. Itu hanyalah sebagian dari persoalan mental yang bisa muncul darinya. Di balik setiap angka dan statistik itu, ada manusia yang diam-diam sedang berjuang.
Maka pada peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026 lalu, marilah kita bertanya pada diri sendiri, apakah akan menjadi penyembuh atau justru penyebab luka?. Mari menjadi kontributor kesehatan mental, bukan penyebab munculnya gangguan mental.
Mari menjadikan media sebagai ruang tang menenangkan, tidak sekadar menaikkan informasi, tetapi juga melihatnya dari berbagai sudut pandang dan memikirkan dampaknya bagi masyarakat dengan hari yang peduli.
Semoga Allah menjaga hati dan pikiran kita semua dari ketidak baikan dalam bentuk apapun, serta melindungi kita dari keburukan jenis apapun.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A
*Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026.
**Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang).
***Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.


















