Kota Batu, Tugumalang.id – Ragam kuliner unik di Kota Batu, Jawa Timur, terus bermunculan dan menarik perhatian warga maupun wisatawan. Salah satunya adalah keberadaan penjaja sate sunggi, sebutan untuk pedagang sate yang membawa dagangannya dengan cara disunggi di atas kepala sambil berjalan kaki.
Penjaja Sate Sunggi Pemandangan Unik di Kota Wisata
Keberadaan pedagang sate seperti ini menjadi fenomena tersendiri di Kota Wisata. Berbeda dengan pedagang sate pada umumnya yang menggunakan rombong khas Madura, penjaja sate sunggi menawarkan cara berjualan yang lebih tradisional sekaligus mencuri perhatian karena keunikannya.
Salah satu pedagang sate sunggi tersebut adalah Yuli (40), warga asal Sampang, Madura. Setiap hari, ia berkeliling dengan berjalan kaki menyunggi dagangannya di sekitar Alun-alun Kota Batu hingga kawasan villa di Songgoriti.
Ia mengaku sejak awal memilih cara menyunggi dagangan dibanding menggunakan motor atau rombong. Selain tidak memiliki kendaraan, cara tersebut menurutnya memberikan kepuasan tersendiri saat berjualan.
“Kalau jalan gini, bisa ketemu banyak orang dan lebih dekat dengan orang. Akhirnya ya banyak yang kenal, banyak yang nyapa. Rasanya lebih nyaman begini,” kata dia, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Panduan Menjelajahi Kota Malang: Kuliner Legendaris, Budaya, dan Wisata yang Selalu Dirindukan
Tidak seperti pedagang rombong yang biasanya membakar sate di pinggir jalan, pedagang sate sunggi lebih fleksibel dalam menempatkan dagangannya. Ia bahkan bisa membakar sate di teras rumah pelanggan, sehingga aroma bakaran lebih terasa dan menggugah selera.
“Dari dulu memang jualannya gini. Bumbunya saya bikin sendiri. Ada pembeli bilang rasanya beda. Sejak itu saya jadi semangat dan terus berdagang nyunggi kayak gini,” kata dia.
Baca juga: Dijamin Enak Pol! 6 Spot Kuliner Khas Kota Batu yang Wajib Dicoba Wisatawan
Yuli mengaku merantau ke Kota Batu sejak 2017. Ia mengontrak rumah di Kelurahan Sisir, Jalan Brantas Gang 1. Menurutnya, di Kota Batu hanya ada tiga orang yang berjualan sate dengan cara menyunggi seperti yang ia lakukan.
“Ditanya capek apa enggak pasti capek, tapi sudah biasa. Namanya kerja cari ya harus kuat. Yang penting cari rejeki barokah,” kata dia.
Soal harga, sate yang dijual Yuli tergolong relatif terjangkau. Sate ayam dibanderol Rp12 ribu per 10 tusuk, sedangkan sate kambing seharga Rp20 ribu per 10 tusuk.
“Setiap hari bisa laris bisa sepi, sudah biasa. Namanya juga usaha,” kata dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko


















