Tugumalang.id – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Batu, Jawa Timur selama setahun terakhir semakin melonjak drastis. Angkanya diketahui menyentuh angka 7,26 persen. Angka TPT ini didominasi lulusan SMA.
Diketahui, angka tersebut naik hampir dua kali lipat dibanding periode sebelumnya sebesar 3,84 persen. Lonjakan pengangguran terbuka yang signifikan ini mempertegas adanya gap yang kian lebar antara pembekalan dari bangku sekolah dan kebutuhan riil dunia industri.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mengungkapkan bahwa keterbatasan keterampilan teknis (hard skill) menjadi sandungan utama bagi para lulusan SMA umum.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Malang Turun Jadi 5 Persen
Berbeda dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memprioritaskan praktik vokasional, kurikulum SMA sejatinya didesain untuk penguasaan ilmu umum dan persiapan kuliah.
“Lulusan SMA umum relatif tidak mendapat pembekalan keterampilan vokasional spesifik seperti lulusan SMK,” ujar Herlina, Kamis (15/10/2026).
Ketika tuntutan pasar kerja mengarah pada spesialisasi tertentu, sambung dia, para lulusan SMA terpaksa gigit jari. Mereka kalah bersaing dengan pelamar kerja lain yang mengantongi kompetensi teknis matang.
Masa transisi setelah lulus kerap dihabiskan untuk menunggu lowongan, mengikuti sertifikasi, atau bersiap masuk perguruan tinggi yang dalam radar statistik ketenagakerjaan, masa tunggu ini tetap dihitung pengangguran.
Kondisi sebaliknya justru dialami kelompok lulusan SMK. Keterampilan praktis yang relevan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) berhasil menekan angka pengangguran terbuka mereka.
Baca Juga: Angka Pengangguran Terbuka dan Kemiskinan Kota Batu Turun Drastis
BPS mencatat TPT lulusan SMK turun menjadi 3,68 persen dari sebelumnya 5,53 persen. Sementara itu, TPT untuk lulusan tingkat diploma berada di angka 6,37 persen.
Perbedaan tajam ini membuktikan bahwa faktor penentu terserapnya tenaga kerja di Kota Batu bukan sekadar tingginya jenjang pendidikan, melainkan kesesuaian (link and match) keterampilan dengan kebutuhan pasar.
Ia menambahkan persoalan ini semakin kompleks ketika Kota Batu dihantam gelombang angkatan kerja baru. Dalam tempo setahun, jumlah angkatan kerja melonjak drastis dari 128.470 orang menjadi 142.486 orang.
Artinya, ada sekitar 14 ribu pencari kerja baru yang masuk ke pasar kerja lokal. Arus deras pencari kerja ini otomatis mengerek jumlah total penganggur terbuka di Kota Batu menjadi 5.024 orang, bertambah 357 orang dari tahun sebelumnya.
”Ketika jumlah pencari kerja bertambah sementara kompetensi tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pasar, lembar ijazah saja tidak lagi cukup untuk membuka pintu dunia kerja,” tegas Herlina.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi Pemkot Batu dalam meracik strategi ketenagakerjaan. Kota Batu yang bertumpu pada sektor pariwisata, jasa, perdagangan, dan industri kreatif sebenarnya memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang besar. Namun, potensi ini akan sia-sia jika kompetensi warga lokal tidak selaras dengan tuntutan industri tersebut.
Penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja terarah dan sertifikasi kompetensi harus segera diakselerasi. Reduksi angka pengangguran terbuka di Kota Batu tidak bisa hanya bergantung pada penciptaan lapangan kerja baru, tetapi juga menuntut sinergi erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha.
”Tanpa jembatan penghubung antara keterampilan dan kebutuhan industri, lulusan sekolah akan terus terjebak dalam situasi pengangguran terbuka,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















