Tugumalang.id – Pasar buku bekas Velodrome, Kota Malang, kian kehilangan peminat. Alih-alih dipenuhi pengunjung yang mencari bacaan, kawasan ini justru lebih ramai oleh warga yang nongkrong diwarung coffe sekitar atau berlatih sepeda.
Pantauan tim Tugumalang.id di lokasi pada Rabu (27/8/2025), suasana pasar buku bekas di sebelah kiri bangunan Velodrome Sawojajar, Kota Malang, tampak lengang.
Baca Juga: Berburu Majalah Bekas di Pasar Velodrome Malang, Surga bagi Pecinta Literasi Lawas
Deretan ruko yang dulunya ramai oleh penjual buku, kini sebagian besar sudah tutup. Hanya tinggal beberapa pedagang saja yang masih bertahan membuka lapaknya.
Tauhid, akrab disapa Rizky (39), salah satu pedagang buku bekas, mengaku kondisi ini sudah berlangsung lama. Rizky yang asli Malang ini sudah menekuni usaha jual-beli buku sejak SMP dengan ikut berjualan di kawasan Stasiun Kota Baru.
Namun, sejak tahun 2008 ketika para pedagang dipindahkan ke area Velodrome, pembeli semakin berkurang.
Baca Juga: Cara Mengelola Uang Versi Buku ‘The Psychology of Money’
“Kalau di stasiun dulu lumayan ramai. Orang yang nunggu kereta kadang beli buku. Sejak pindah ke sini, apalagi setelah Covid, pembeli jarang sekali datang. Kadang sehari sama sekali tidak ada yang beli, alih-alih beli yang hanya sekedar nanya buku aja sudah sangat jarang sekali,” ungkapnya
Ia bahkan mengaku dalam setahun pernah hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp50 ribu dari hasil berjualan. Meski begitu, Rizky tetap bertahan dengan tekad dan niat untuk melanjutkan usahanya menjual buku bekas dan demi literasi.
Selain menjual buku pelajaran sekolah, novel, dan bacaan anak-anak dengan harga Rp5.000 hingga Rp150.000 dan juga menyimpan koleksi buku antik yang sudah jarang ditemui.
Buku-buku tua itu kerap menjadi incaran kolektor, meski peminatnya tidak seramai dulu. “Ada beberapa buku antik yang masih saya dan penjual lainnya simpan,” ujarnya.
“Harapannya, meskipun buku bekas, semoga nanti ada masanya pasar ini kembali ramai. Kalau bisa ada perhatian dari pemerintah agar tempat ini tetap hidup. Saya ingin anak-anak muda tidak kehilangan minat membaca buku fisik,” tambahnya.
Kini, sisa pedagang yang masih bertahan hanya bisa menggantungkan harapan pada sedikit pembeli yang datang. Mereka berusaha menjaga denyut pasar buku ini, meski perlahan kian redup.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Pasar Buku Bekas Velodrome akan semakin kehilangan pedagang dan perlahan menghilang.
Padahal, keberadaannya menyimpan sejarah panjang literasi rakyat dan menjadi saksi peralihan zaman dari buku fisik menuju era digital.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Yuliana Elvita Sari (Magang)
Editor: Herlianto. A





























