Pasca-Gempa Malang, Masjid Sabilul Huda di Desa Srimulyo Minim Bantuan

  • Whatsapp
Kondisi Masjid Sabilul Huda pasca-gempa Malang. Foto: Dicky

Tugumalang.id – Gempa Malang berkekuatan 6,1 magnitudo pada bulan April lalu, berdampak pada rumah bahkan fasilitas umum di wilayah Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Salah satunya Masjid Sabilul Huda, yang terletak di Dusun Purwosari, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit.

 

Bacaan Lainnya

Masjid terbesar di Desa Srimulyo ini mengalami kerusakan cukup serius namun belum tersentuh pembangunan.

 

Pantauan relawan Tugu Media Media Peduli di lapangan, pada Selasa (25/05/2021), masjid yang teletak di wilayah Jengger R T 11 RW 07, Dusun Purwosari, ini mengalami banyak retakan di tembok dalam dan luar masjid yang terkesan akan roboh. Selain itu, tembok di sekeliling masjid sudah ada yang roboh dan belum ada penanganan.

Kondisi Masjid Sabilul Huda pasca-gempa Malang. Foto: Dicky

Kepala Takmir Masjid Sabilil Huda, Burhan, mengatakan masjid tersebut minim donatur untuk kebutuhan material yang masuk, sehingga belum bisa melakukan pembangunan.

 

“Iya betul, kan mau dibangun, kalau dibongkar dan bahaya gak cukupkan (material) jadi macet pembangunannya,” sebutnya.

 

“Masih banyak yang dibutuhkan untuk masjid ini. Seperti beton eser, atap merah, pasir, koral. Untuk tenaga pembangunan kita siap dari swadaya masyarakat,” lanjutnya.

Dia mengatakan, bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah juga belum nampak secara fisik. Bantuan nyata yang telah diberikan donatur adalah dari Dewan Masjid Kecamatan Dampit, dari Desa Srimulyo, dan dari Tugu Media Group.

 

“Yang terbesar bantuan baru dari Dewan Masjid Kecamatan Dampit dan dari njenegan ( Tugu Media Peduli),” ungkapnya.

Baca Juga  Cara Warga Terdampak Gempa Malang Mendapat Bantuan Bedah Rumah dari APERSI Jatim

 

Dia mengatakan, Desa Srimulyo minim bantuan karena akses menuju desa tersebut sangat sulit dilalui kendaraan besar dengan muatan.

 

Relawan dari Desa Srimulyo, Yulianto, mengungkapkan bahwa beberapa donatur memilih membatalkan dan putar balik karena kondisi jalan yang membahayakan. “Jalan di situ itu sangat menjadi hambatan di kita,” sebutnya.

 

Reporter: Dicky

Editor: Lizya Kristanti

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *