Truk Bantuan Tugu Media Peduli X Bakti BCA Nyaris Masuk Jurang

  • Whatsapp
Truk yang nyaris masuk ke jurang. Foto: Dicky Hanafi

Tugumalangid – Momen menegangkan dialami Relawan Tugu Media Peduli X Bakti BCA saat menyalurkan bantuan korban gempa Malang di Desa Sukodono dan Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, pada Selasa (25/05/2021).

Truk yang mengangkut muatan 8,5 ton itu nyaris terguling di Jalan Gledakan, Desa Sukodono. Hal itu terjadi karena medan jalan yang menanjak,berkelok, dan rusak. Sehingga, truk berjalan dengan berat. Ketika di tengah tanjakan, mesin truk mati dan tak terkendali lalu melaju ke belakang dengan kencang.

Bacaan Lainnya

Beruntung, sopir truk bisa mengambil kemudi dan mengarahkan truk hingga berhenti di tempat yang landai.

Proses pemindahan semen dari truk besar ke truk bantuan warga. Foto: Dicky Hanafi

Relawan Tugu Media Peduli, Didik, yang berada di di dalam truk, menceritakan bahwa kepala truk sempat terangkat sampai semua orang yang ada di kemudi truk terpental karena benturan dengan jalan rusak yang mengganjal laju truk.

“Tadi aku ate mencolot (mau melompat). Lah pas truknya mundur pintunya sulit dibuka karena sangking paniknya,” ungkapnya, sambil terkekeh.

Akhirnya, Tim Tugu Media Peduli memutuskan untuk berhenti dan mengurangi muatan agar truk kuat saat menanjak.

Relawan dari Desa Sukodono, Miskari, membantu mencarikan kendaraan dengan mencegat truk buah yang baru selesai mengantar salak, untuk membantu mengangkut beberapa semen yang ada di truk Tugu Media Peduli.

Rusaknya jalan di Desa Sukodono dan Srimulyo ini memang menjadi kendala serius bagi warga setempat. Jalan dan medan yang berbahaya menjadi faktor minimnya bantuan yang masuk ke wilayah tersebut.

Baca Juga  Tugu Media Group Salurkan Bantuan Bertepatan dengan Peringatan 7 Hari Meninggalnya Korban Gempa Malang

Miskari yang juga merupakan relawan dan mantan Anggota DPRD Kabupaten Malang Fraksi PKB periode 2009-2014 ini menjelaskan, jalan tersebut sempat dibangun. Namun karena tanah bergerak, jalan kembali rusak dan tidak ada tindakan dari pemerintah daerah selama bertahun-tahun.

“Dulu waktu saya di DPRD itu dapat bantuan APBD dicor dan diratakan dan gak bertahan lama. Artinya butuh penanganan khusus dari pemerintah. Kita sudah sering memberikan masukan, monggo dikaji itu gimana solusinya,” bebernya.

Selain minimnya mendapat bantuan karena jalan rusak, beberapa warga yang mendistribusikan hasil bumi menuju kota juga terhambat, mengingat daerah ini memiliki perkebunan kopi, salak, dan pisang.

Reporter: Dicky Hanafi

Editor: Lizya Kristanti

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *