MALANG, Tugumalang.id – Tersembunyi di dalam gang PDAM yang hanya berjarak beberapa meter dari Taman Wisata Air Wendit, berdiri sebuah perpusatakaan yang menyimpan 7 ribu buku. Perpustakaan bernama Padepokan Sastra Tan Tular tersebut berisi koleksi buku milik Prof Henricus Supriyanto.
Semasa hidupnya, Prof Henricus merupakan seorang akademisi dan budayawan yang sangat getol dalam melestarikan kesenian ludruk. Ia pun mendapatkan julukan Profesor Ludruk berkat pengabdiannya terhadap kelestarian ludruk.
Baca Juga: Pesona Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya, Tempat Belajar Mahasiswa dengan Fasilitas Lengkap dan Nyaman
Padepokan Sastra Tan Tular didirikan secara informal sejak tahun 1990-an. Padepokan ini bermula dari rumah keluarga Prof. Henricus di Jalan Simpang Bogor, Kota Malang.

“Awalnya hanya rumah biasa yang penuh buku, tapi kemudian Bapak menambah ruangan khusus di belakang rumah untuk dijadikan kantor sekaligus perpustakaan pribadi,” ujar putri sulung Prof Henricus, Anastasia Priastuti Brannan, beberapa waktu lalu.
Sejak kecil, ia kerap menyaksikan ayahnya menambah koleksi buku di rumah mereka. Menjelang akhir 1990-an, koleksi tersebut mulai dipindahkan ke rumah yang berada di Dusun Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum secara terbatas
Pada awal 2000-an, koleksi pribadi tersebut mulai dibuka secara terbatas untuk mahasiswa dan peneliti dari berbagai penjuru Indonesia. Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada (UGM) bahkan datang ke sana untuk mencari literatur dan berdiskusi langsung dengan Prof Henricus.
Baca Juga: Cerita 5 Hantu Legendaris di Kampus UB, Ada Sosok Centil Sampai Patah Hati
Guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut tak jarang mempersilakan para mahasiswa bermalam agar mereka bisa mendalami riset dengan lebih leluasa. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasi lewat melalui riset di perpustakaan ini, menyerahkan salinan karya mereka sebagai bentuk kontribusi.

“Prof Henricus tak segan ikut memberi bimbingan tentang teknik penulisan agar tulisan mereka betul-betul mudah dipahami dan semua data tersampaikan dengan gamblang,” tambah Anastasia.
Koleksi kliping majalah lawas dan penelitian mahasiswa
Salah satu keunikan Padepokan Sastra Tan Tular adalah koleksi kliping majalah-majalah lawas dan hasil penelitian mahasiswa. Kliping majalah tersebut telah dikerjakan oleh Prof Henricus sejak tahun 1970-an.
Semasa hidupnya, Prof Henricus rajin membuat kliping tentang banyak hal. Salah satu koleksi kliping yang menonjol adalah potongan berita-berita di majalah tempo yang masih tersimpan dengan rapi.

“Beliau suka sekali membuat kliping. Kliping dibuat sekitar tahun 1970an hingga awal 2023 sebelum beliau sakit pada Maret 2023,” kata Anastasia.
Seperti yang disebutkan di atas, para mahasiswa yang melakukan riset dengan menggunakan literatur di Padepokan Sastra Tan Tular menyumbangkan satu eksemplar hasil penelitian mereka di perpustakaan ini.
Tentunya ini menjadi keunikan karena hasil penelitian tersebut belum tentu bisa diakses di perpustakaan lain. Hingga saat ini, berbagai penelitian mulai skripsi hingga disertasi masih tersimpan dengan baik di sana.

Selain itu, perpustakaan ini juga menyimpan buku-buku cetakan lama yang sudah sulit ditemui di pasaran. Karya sastra lawas seperti Sitti Nurbaya dan karya-karya Pramoedya Ananta Toer bisa dengan mudah ditemukan di Padepokan Sastra Tan Tular.
Koleksi buku yang lahir dari semangat berbagi ilmu
Hingga wafatnya pada 2023, Prof Henricus berhasil mengumpulkan lebih dari 7.000 buku. Ini merupakan hasil akumulasi dari minat baca dan kecintaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.
Menurut Anastasia, ayahnya sangat mencintai buku dan memiliki semangat yang tinggi untuk berbagi ilmu, terutama dengan generasi yang lebih muda. Salah satu ungkapan yang sering disampaikan Prof Henricus adalah, “Mereka menganggap saya gila karena tidak memiliki mobil. Saya menggunakan uang saya untuk membeli buku-buku.”
Anastasia mengatakan, Prof Henricus tidak pernah memiliki mobil yang tergolong mewah semasa hidupnya. Mobil keluarga mereka pun cukup sederhana, namun berfungsi dengan baik.
“Mobil yang kami miliki adalah mobil lama yang masih berfungsi dengan baik membawa kami sekeluarga pergi bersama-sama dengan nyaman, terutama saat cuaca buruk,” kenang Anastasia.
Tan Tular, nama yang sarat makna
Nama Padepokan Sastra Tan Tular bukan dipilih secara sembarangan. Menurut Anastasia, nama ini diberikan sendiri oleh Prof. Henricus di tahun 2001 yang terinspirasi dari seorang pujangga Majapahit legendaris.
Tan Tular dikenal sebagai sosok yang tidak tertular gaya penulisan pujangga sebelumnya, simbol dari kemandirian berpikir dan kebaruan ekspresi. Semangat inilah yang ingin diwariskan Prof Henricus melalui padepokan ini.
“Nama Tan Tular sendiri merupakan sebutan yang diberikan masyarakat padanya, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui nama kecilnya,” kata Anastasia.
Setelah wafatnya Prof Henricus, keluarga meneruskan pengelolaan perpustakaan dengan dukungan dua pustakawan muda, Endah dan Nafa. Mereka merapikan katalog, menjaga koleksi, serta membuka akses lebih luas kepada publik.
Padepokan Sastra Tan Tular buka setiap hari Kamis-Minggu pukul 09.00-16.00. Perpustakaan ini dibuka dengan harapan bisa menjadi pusat kebudayaan serta wadah bagi para seniman dan budayawan untuk saling bertukar inspirasi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























