Malang, Tugumalang.id – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) RI Teuku Riefky Harsya meminta Festival Mbois 2026 memberikan dampak ekonomi dan kesejahteraan bagi pegiat ekonomi kreatif di Kota Malang dan sekitarnya.
Teuku Riefky menyampaikan hal itu saat mengunjungi langsung Festival Mbois 2026 di Stadion Gajayana, Kota Malang, Sabtu (22/8/2026) malam.
Festival Mbois 2026 tengah menghadapi tantangan menjelang pelaksanaannya. Kritik dari berbagai kalangan menghujam panitia setelah mural ikonik “Malang The Glory Land” yang menginspirasi Aremania hilang karena ditindih mural Festival Mbois bertuliskan “Malang Menyala Bersama”.
Imbas insiden tersebut, sejumlah grup band, konten kreator hingga MC mengundurkan diri dari rangkaian festival. Kini, pelaku UMKM dan pegiat ekraf yang menyewa booth dihantui sepinya pengunjung.
Teuku Riefky mengapresiasi gagasan Festival Mbois yang memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif. Dia mengingatkan, UNESCO telah menganugerahi Kota Malang sebagai kota kreatif dunia di bidang media arts dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada Oktober 2025.
Baca juga: Mural Malang The Glory Land Hilang, Sejumlah Band Mundur dari Festival Mbois
“Ini juga bagian dari aktivasi Kota Malang sebagai kota media arts UNESCO. Ini tak boleh berhenti karena creative city network yang diterima Kota Malang adalah awal untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan,” tuturnya.
Menurut dia, Kota Malang memiliki talenta-talenta bagus dengan dukungan komunitas, pemerintah, dan berbagai elemen lain. Karena itu, dia meminta Festival Mbois 2026 benar-benar memberikan dampak kesejahteraan bagi pegiat ekonomi kreatif di Kota Malang dan sekitarnya.
“Terpenting adalah ini bisa memberikan dampak ekonomi, dampak PDRB, dampak kesejahteraan bagi pegiat ekonomi kreatif bahkan terhadap lapangan pekerjaan,” ucapnya.
Kota Malang juga memiliki Malang Creative Center (MCC) yang telah menjadi ruang kreatif dan menampung ribuan kegiatan sejak didirikan. Penggunaan Stadion Gajayana Malang sebagai ruang pengembangan ekonomi kreatif juga dinilai positif.
“Tetapi bagaimana kita semua bisa mengayomi dan mendukung para pegiat ekonomi kreatif. Kami percaya dengan potensi akar budaya daerah dan kearifan lokalnya yang diberikan sentuhan inovasi, kreativitas dan teknologi akan memberikan nilai tambah bahkan dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Ekraf, terdapat 27,4 juta pekerja ekonomi kreatif di Indonesia. Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan Gen Z dan Milenial. Lalu, 58 persen di antaranya juga merupakan kalangan perempuan.
“Artinya, lapangan kerja di sektor ekonomi kreatif itu inklusif untuk generasi muda dan perempuan,” ungkapnya.
Baca juga: Aremania Kecewa Mural Ikonik Malang The Glory Land Hilang Ditimpa Mural Festival Mbois
Di sisi lain, angka pengangguran terbuka Indonesia mencapai sekitar 7,5 juta orang. Dari angka tersebut, 82 persen di antaranya berasal dari kelompok Gen Z dan Milenial.
“Kalau lapangan pekerjaan yang diminati oleh Gen Z dan Milenial adalah ke sektor ekraf, ini dapat menurunkan angka pengangguran terbuka di daerah,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko





























