Tugumalang.id – Industri hiburan Korea Selatan kembali menghadirkan konsep tak biasa lewat variety show Battle of Fates. Alih-alih kompetisi menyanyi atau memasak, program ini mempertemukan para peramal dari berbagai latar belakang praktik spiritual untuk menguji kemampuan mereka membaca takdir.
Dalam satu panggung, tradisi kuno, simbolisme mistis, hingga metode analitis bertemu. Berikut ragam jenis peramal yang menjadi sorotan dalam acara tersebut.
1. Shaman
Salah satu figur paling mencuri perhatian adalah shaman Korea atau mudang, yang berakar pada kepercayaan tradisional Korea, Muism. Praktik ini telah ada selama berabad-abad dan masih bertahan hingga kini, meski hidup di tengah masyarakat modern.
Baca Juga: Kaleidoskop Timnas Indonesia di Tahun 2025: Drama Pergantian Pelatih hingga Mimpi ke Piala Dunia yang Pupus
Shaman dipercaya mampu berkomunikasi dengan roh melalui ritual khusus yang melibatkan doa, nyanyian, serta persembahan.
Setiap shaman juga memiliki perantara komunikasi yang berbeda-beda seperti kipas lipat (buchae), pedang, lonceng tangan (mudang bangul) sesuai dengan dewa atau roh nenek moyang yang memilihnya.
Dalam konteks acara, pendekatan spiritual ini menghadirkan nuansa sakral sekaligus dramatis, memperlihatkan bagaimana tradisi lama tetap memiliki ruang di media kontemporer.
2. Tarot Reader
Berbeda dari pendekatan ritual shaman, pembaca tarot mengandalkan kartu bergambar simbolik untuk menafsirkan kondisi dan masa depan seseorang. Setiap kartu memiliki makna tertentu yang dikaitkan dengan situasi yang sedang dihadapi klien.
Baca Juga: Rekomendasi 4 Film yang Dibintangi Ariel Tatum, Bergenre Drama hingga Petualangan
Metode ini lebih fleksibel dan interpretatif, sering kali memadukan pemahaman simbol dengan intuisi pembacanya. Di layar kaca, pembacaan tarot tampil visual dan menarik, dengan simbol-simbol kartu yang menambah unsur dramatik dalam kompetisi.
3. Saju Reader
Praktik saju merupakan metode ramalan tradisional Korea yang dipengaruhi filosofi Tiongkok. Istilah saju berarti “empat pilar”, merujuk pada tahun, bulan, hari, dan jam kelahiran seseorang.
Melalui data kelahiran tersebut, peramal menganalisis keseimbangan unsur dan energi yang diyakini membentuk perjalanan hidup seseorang. Dibandingkan metode lain, saju tampil lebih sistematis dan berbasis perhitungan, sehingga memberi kesan ilmiah meski tetap berada dalam ranah metafisik.
4. Face Reader
Face reading atau fisiognomi menafsirkan karakter dan nasib seseorang melalui struktur wajah. Dalam tradisi Asia Timur, bentuk dahi, mata, hidung, hingga garis ekspresi dipercaya menyimpan makna tertentu tentang keberuntungan, kepribadian, dan masa depan.
Dalam acara ini, pembaca wajah tak hanya membutuhkan observasi visual untuk menyampaikan prediksi. Beberpa dari mereka juga memperhatikan saju atau tanggal kelahiran yang akan sangat mempengaruhi analisa mereka.
5. Pembaca Kaki
Salah satu praktik paling unik dalam program ini adalah pembacaan melalui kaki. Metode ini menilai bentuk, tekstur, dan garis pada kaki untuk memahami kondisi fisik maupun emosional seseorang. Secara konsep, praktik ini hampir sama dengan metode peramal garis tangan.
Meski terdengar tidak lazim, praktik membaca tanda-tanda tubuh memiliki akar panjang dalam berbagai tradisi Asia. Kehadirannya dalam acara menunjukkan betapa luasnya spektrum praktik ramalan yang masih dipercaya sebagian masyarakat.
Melalui Battle of Fates, berbagai metode ramalan yang jarang diketahui dipertemukan dalam format kompetisi terbuka.
Program ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana praktik spiritual tradisional dan modern bertransformasi dalam budaya populer.
Di tengah masyarakat yang semakin rasional dan digital, acara ini mengingatkan bahwa kepercayaan terhadap takdir dan upaya membacanya masih memiliki tempat sebagai keyakinan pribadi maupun tontonan publik.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
Editor: Herlianto. A





























