Menerawang Jodoh hingga Rezeki di Klenteng Dewi Kwan Im Gunung Kawi

  • Whatsapp
Perangkat Ciam Si.(foto: Rizal Adhi Pratama).

MALANG – Warga Kabupaten Malang mungkin sudah tidak asing lagi dengan Wisata Budaya Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonoaari, Kabupaten Malang. Biasanya warga yang berkunjung bertujuan untuk berziarah ke makam Mbah DJoego dan Mbah Iman Soedjono.

Namun, ternyata di sana kita bisa mengikuti ritual Ciam Si di Klenteng Dewi Kwan Im untuk menerawang Jodoh hingga Rezeki. Terutama saat tahun baru Imlek. Ritual ini sangat diminati para peziarah yang mampir ke Wisata Budaya Gunung Kawi.

“Minta petunjuk untuk rejeki, usaha atau karir, jodoh atau rumah tangga, kedudukan atau derajat dan kepentingan pribadi,” ucap Sholikin, Juru Kunci Ciamsi Klenteng Dewi Kwan Im Gunung Kawi pada Sabtu (13/02/2021).

Para tamu yang sedang mencoba peruntungan dengan Ciam Si.(foto: Rizal Adhi Pratama).

Sholikin menjelaskan jika Ciam Si itu sendiri berarti petuah atau petunjuk yang harus diikuti.

“Ciam Si itu berasal dari bahasa China atau Tionghoa yang artinya petunjuk atau petuah atau nasihat yang harus diikuti. Tapi caranya dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing minta kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perantara dari Mbah DJoego dan Mbah Iman Soedjono,” jelasnya.

Cara melaksanakan ritual Ciam Si sendiri cukup unik, peserta Ciam Si akan menggoyang-goyangkan bambu berisi beberapa sumpit dan menjatuhkan satu sumpit ke tanah. Di sumpit tersebut sudah tertuliskan nomor yang akan dicocokkan dengan petuah-petuah terkait rejeki, usaha atau karir, jodoh atau rumah tangga, kedudukan atau derajat orang tersebut.

“Tata caranya nanti mengambil ini (wadah bambu berisi sumpit bertuliskan petuah), dibawa ke tengah, lalu berdoa minta sama yang maha kuasa atas perantara Mbah DJoego dan mbah Iman Soedjono,” tuturnya.

Pria yang sudah 15 tahun menjadi Juru Kunci Ciamsi ini juga mengatakan jika biasanya orang-orang keturunan Tionghoa biasanya menggunakan Minyak Ciamsi sebelum melaksanakan ritual.

Baca Juga  Kampung Budaya Polowijen Tandai Bangkitnya Parwisata Tematik Kota Malang

“Tapi kalau tata cara dari Chinese, itu beli minyak dulu (sebotol seharga 25 ribu) untuk dituangkan di lampu kambang (mengambang). Filosofi minyak tersebut adalah bintang terang. Untuk terang rejeki, rumah tangga, usaha, kedudukan dan lainnya. Tapi kalau kita menurut keyakinan mau pakai itu boleh, mau langsung berdoa bagus,” ujarnya.

Namun, ia tidak membatasi apakah orang-orang yang datang untuk berdoa wajib menggunakan Minyak Ciam Si atau tidak.

“Bahkan orang China yang ke sini juga jarang pakai minyak,” tutur pria asli Desa Wonosari ini.

Ia juga tidak membatasi orang dari suku atau agama manapun untuk mengunjungi Klenteng Dewi Kwan Im untuk ikut melaksanakan Ciamsi.

“Berdoa saja tidak apa, orang Islam juga tidak apa-apa mau membaca surat Alfatihah atau lainnya bebas. Dan kalau orang jawa mau pakai minyak itu juga tidak apa-apa,” ungkapnya.

“Juga disiapkan dupa untuk sembahyang sesuai dengan keyakinan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *