Malang, Tugumalang.id – Jalan Ijen merupakan salah satu kawasan paling ikonik dan bersejarah di Kota Malang. Terletak di jantung kota, kawasan ini menjadi saksi bisu perkembangan tata kota bergaya kolonial Belanda yang masih lestari hingga hari ini. Keindahan boulevard dengan pepohonan rindang, serta deretan rumah klasik bergaya Eropa menjadi daya tarik utama yang menjadikan Jalan Ijen sebagai simbol keanggunan kota Malang tempo dulu.
Jejak Sejarah di Balik Keindahan Jalan Ijen
Pembangunan Jalan Ijen dimulai pada awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengembangkan Malang sebagai kota peristirahatan yang nyaman dan elite. Kawasan ini dirancang khusus untuk kalangan pejabat dan warga Eropa, dengan sistem tata kota modern yang mengedepankan estetika dan kenyamanan.
Baca juga: Gardu ANIEM Jalan Ijen Boulevard Malang, Jejak Peninggalan Masa Pemerintahan Kolonial Belanda
Salah satu ciri khas Jalan Ijen adalah keberadaan pohon-pohon palem yang ditanam di tengah jalan, membentuk boulevard lebar dan simetris—gaya yang umum ditemukan di kota-kota besar Eropa. Desain ini bukan kebetulan. Jalan Ijen dirancang oleh arsitek Belanda ternama, Herman Thomas Karsten, yang dikenal sebagai pelopor konsep garden city atau kota taman di Hindia Belanda. Konsep ini memadukan arsitektur Eropa dengan nuansa tropis khas Nusantara, menciptakan harmoni antara bangunan, taman, dan ruang publik.
Transformasi Fungsi dan Nilai Sejarah
Selama pendudukan Jepang dan pasca-kemerdekaan Indonesia, banyak bangunan di sepanjang Jalan Ijen yang dialihfungsikan sebagai markas militer, kantor pemerintahan, hingga perumahan dinas. Meski mengalami perubahan fungsi, nilai historis dan arsitektural kawasan ini tetap dijaga dan dilestarikan.
Pemerintah Kota Malang telah menetapkan kawasan Jalan Ijen sebagai bagian dari cagar budaya yang harus dilindungi. Beberapa bangunan bahkan telah mendapatkan status bangunan heritage, yang berarti tidak boleh diubah bentuk aslinya secara signifikan.
Ruang Publik dan Warisan Budaya
Kini, Jalan Ijen tak hanya dikenal sebagai rute transportasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang hidup. Setiap hari Minggu pagi, kawasan ini menjadi lokasi Car Free Day, tempat warga berkumpul untuk berolahraga, rekreasi, dan menikmati suasana kota yang asri dan bersejarah.
Baca juga: Sejarah dan Fakta Unik Jalan Ijen, Jejak Peninggalan Belanda di Kota Malang
Kegiatan sosial dan budaya kerap digelar di sepanjang Jalan Ijen, menjadikannya sebagai pusat interaksi masyarakat yang tetap menyatu dengan nilai-nilai historis. Keberadaan gereja tua, museum, hingga rumah-rumah art deco memperkuat identitas kawasan ini sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Kota Malang.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Sebagai salah satu ikon kota, pelestarian Jalan Ijen menjadi tanggung jawab bersama. Upaya menjaga kebersihan, keaslian bangunan, serta penataan ruang yang konsisten dengan konsep awal, sangat penting untuk memastikan warisan kolonial ini tetap lestari dan bisa dinikmati generasi mendatang.
Jalan Ijen bukan sekadar jalan. Ia adalah monumen hidup dari masa lalu yang masih berdiri tegak di tengah modernisasi. Menelusuri Jalan Ijen berarti menyusuri lorong waktu yang mempertemukan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kota Malang masa kini.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Rafi Hara Jinan Al-Ghazy
redaktur: jatmiko





























