Oleh: Herlianto. A*
BUKAN untuk memuji Elon Musk, tetapi Starlink miliknya menjadi solusi bagi anak-anak muda pulau Masalembu pemburu sinyal. Untuk sekedar ngintip apa yang terjadi di media sosial, dan paling jauh main mobile legend (ML) meskipun beberapa menit saja. Pemilik Starlink untung besar, gen-Z tertawa meski sebentar.
Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, kumandang azan magrib sudah berlalu. Saya bergegas merapikan laptop yang sudah dicas sebelumnya dengan membayar Rp5 ribu. Saya menuju tower Telkomsel yang berada tak jauh dari rumah, jaraknya sekitar 500 meter, di Dusun Tengah, Desa Masalima.
Telkomsel satu-satunya provider telekomunikasi yang ada di Masalembu, XL pernah ingin bersaing dengan mendirikan tower juga. Tetapi sampai besi towernya berkarat belum ada kabar lebih lanjut. Di bawah tower Telkomsel ini ada semacam gubuk, orang Masalembu menyebutnya “langgar”.
Di langgar inilah, sinyal internet Starlink dapat dinikmati dengan membeli voucher senilai Rp 5 ribu untuk waktu penggunaan selama 24 jam. Saya membeli dan mencobanya. Ternyata memang bisa digunakan, kekuatannya tak jauh beda dengan internet wifi berkapasitas 10 mbps di kota-kota besar.

Selain saya, ada banyak anak-anak seusia SMA dan remaja dewasa juga menggunakan layanan tersebut. Jumlah mereka puluhan. Mereka menggunakannya untuk kepentingan komunikasi dengan kerabat, mengakses media sosial, dan sekedar bermain game, seperti mobile legend.
Baca juga: 18 Jam Menuju Masalembu, Pulau Terluar Jawa Timur
Sebenarnya ada beberapa lokasi di Masalembu yang menyediakan sinyal Starlink milik Space-X itu, tetapi tempat ini paling ramai. Alasannya, di sini menyediakan cas bagi HP pelanggannya. Maklum dekat dengan tower sehingga bisa memanfaatkan listrik dari tower yang hidup di malam hari. Sementara di siang hari tower menggunakan kekuatan tenaga surya.
Masalembu, Jawa Tahun 1950an
Masyarakat Masalembu sampai saat ini, memang belum menikmati listrik PLN. Kabar listrik akan segera hadir di pulau Tampomas II ini hanya terdengar sayup-sayup. Penerangan di sana menggunakan mesin diesel dengan satu kabel yang hidup pada jam 18.00 WIB hingga subuh. Hanya saja listrik ini, atau ardeh orang Masalembu menyebutnya, tidak bisa diandalkan karena tegangannya tidak stabil.
Selebihnya, warga Masalembu menggunakan listrik tenaga surya secara personal di rumah masing-masing. Ya, hanya sekedar untuk menerangi rumah, tidak lebih. Kondisi ini membuat banyak orang menilai kondisi Masalembu tak ubahnya pulau Jawa di tahun 1950-an.
Selang beberapa jam menggunakan internet starlink yang diambil langsung dari satelit itu, pengguna semakin ramai berdatangan di langgar tersebut. Mereka baru pulang sekitar pukul 02.00 hingga -03.00 WIB. Sebagian dari mereka merupakan pindahan dari pengguna layanan berbasis internet satelit lainnya yang terbilang sangat lemot, bahkan sekedar kirim foto lewat WA saja tidak mampu.
Baca juga: Ach Nurholis Majid, Wisudawan Terbaik UMM Asal Pulau Terpencil Masalembu
Banyak yang diuntungkan adanya internat Starlink ini, terutama bagi sang penyedia. Walaupun mereka harus merogoh uang hingga jutaan rupiah sebagai modal awal, tetapi hasil penjualan vouchernya bisa mencapai Rp 200 hingga 400 ribu dalam sehari. Sementara, bagi “kuli tinta online” seperti saya juga terbantu, terutama pengiriman berita dan kepentingan online lainnya.

Anak-anak muda Masalembu tampak sumringah saat menggunakan internet berbasis satelit Starlink itu. Mereka akan kembali lagi besok harinya ke tempat ini. Saya pun melakukan hal yang sama. Karena kalau sudah terbiasa internetan, lalu tanpa wifi meskipun sehari saja, rasanya seperti kehilangan.
Kini dikabarkan, Telkomsel sedang berupaya keras untuk menghadirkan internet 4G di Masalembu. Di beberapa titik tertentu dapat menggunakan layanan tersebut, tetapi di sebagian besar titik tidak dapat menggunakannya. Terutama yang berada agak jauh dari tower tersebut.
Saya pernah optimis pada tahun 2022 lalu, ketika pemerintah melalui Kemkominfo mulai menerapkan TV digital dan menghapus TV analog melalui program Analog Switch Off (ASO). Karena perhitungannya, TV digital dapat mengefisiensi spektrum frekuensi, yang kemudian devidennya dapat dialihkan ke wilayah-wilayah lain yang masih blank spot. Konon wilayah kepulauan menjadi salah satu sasarannya, saat itu.
Tetapi seiring berlalu, rencana mengabur, para stakeholdernya terjerat kasus korupsi. Maka, impian Masalembu memiliki sinyal internet seperti di Jawa tinggal kenangan. Karena itu, dengan terpaksa, setiap kali saya pulang ke Masalembu harus memberi tahu kepada semua teman-teman dan kolega bahwa selama di Masalembu perangkat komunikasi seperti Whatsapps dan lain-lain berada di luar jangkauan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Pemimpin redaksi Tugumalang.id
redaktur: jatmiko





























