Malang, Tugumalang.id – Pernahkah Anda menjumpai anak yang mudah marah, gemar membantah, dan seakan selalu menolak mengikuti aturan? Banyak orang menganggapnya sebagai fase “nakal” yang akan berlalu dengan sendirinya. Namun, perilaku tersebut bisa saja menjadi tanda Oppositional Defiant Disorder (ODD) atau gangguan menentang dan pembangkangan.
Baca juga: 36 Anak Jadi Korban Kekerasan di Kota Malang
Artikel ini merangkum penjelasan dari jurnal ilmiah karya Ghosh, Ray, dan Basu (2017) berjudul Oppositional Defiant Disorder: Current Insight, yang diterbitkan dalam Psychology Research and Behavior Management. Pembahasan meliputi pengertian ODD, gejala, penyebab, dampak, hingga strategi penanganan berdasarkan bukti ilmiah.
Apa Itu Oppositional Defiant Disorder (ODD)?
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), ODD adalah gangguan perilaku yang ditandai pola marah berulang, mudah tersinggung, membantah figur otoritas, serta perilaku dendam yang konsisten selama minimal enam bulan.
Gejala ODD terbagi menjadi tiga kelompok utama:
Mood Marah/Iritabel
Mudah tersinggung atau cepat marah.
Kehilangan kesabaran dalam situasi sehari-hari.
Melampiaskan emosi melalui kata-kata kasar atau perilaku fisik seperti membanting barang.
Perilaku Menentang/Argumentatif
Sering membantah perintah orang dewasa.
Menolak mematuhi aturan.
Menyalahkan orang lain atas kesalahan sendiri.
Perilaku Dendam atau Membalas
Menyimpan kemarahan dan membalas perlakuan orang lain, baik secara langsung maupun terselubung.
Muncul setidaknya dua kali dalam enam bulan.
Meski mirip dengan Conduct Disorder (CD), ODD adalah gangguan yang berbeda. Tidak semua anak dengan ODD akan berkembang menjadi CD, sehingga deteksi dini sangat penting untuk mencegah masalah perilaku yang lebih berat.
Dampak ODD terhadap Kehidupan Anak
Penelitian Ghosh menegaskan bahwa dampak ODD tidak hanya memengaruhi perilaku sehari-hari, tetapi juga hubungan sosial dan prestasi akademik. Beberapa di antaranya:
Sulit menjalin pertemanan positif karena cenderung memprovokasi atau mendominasi.
Konflik berkepanjangan dengan guru dan orang tua akibat sikap membantah.
Isolasi sosial karena penolakan dari teman sebaya (peer rejection).
Jika tidak diintervensi, ODD dapat memicu kegagalan akademik dan meningkatkan risiko gangguan mood atau kecemasan pada masa remaja.
Penyebab ODD: Faktor Genetik dan Lingkungan
ODD biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor biologis dan lingkungan. Ghosh et al. (2017) mencatat bahwa sekitar 60% kasus ODD dipengaruhi faktor genetik.
Faktor lingkungan yang berperan antara lain:
Pola asuh yang tidak konsisten.
Lingkungan rumah penuh konflik.
Paparan kekerasan atau stres berat.
Tinggal di lingkungan sosial yang penuh tekanan.
Kombinasi kerentanan genetik dan lingkungan buruk dapat memperbesar risiko anak mengalami ODD. Sebaliknya, pengasuhan positif dan dukungan sosial dapat menjadi pelindung yang kuat.
Cara Menangani ODD: Strategi yang Terbukti Efektif
Kabar baiknya, ODD bisa ditangani dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based). Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain:
Parent Management Training (PMT)
Melatih orang tua memberikan respon konsisten dan positif, memberi pujian saat perilaku baik, serta memberikan konsekuensi adil saat anak melanggar aturan.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Membantu anak mengubah pola pikir negatif, mengelola emosi, dan meningkatkan keterampilan sosial.
Terapi Keluarga Strategis
Memperbaiki pola komunikasi dan peran dalam keluarga untuk menciptakan suasana rumah yang harmonis.
Pendekatan Berbasis Sekolah
Melibatkan guru dalam memberikan penguatan positif dan strategi kelas yang mendukung perubahan perilaku anak.
Kesimpulan
Oppositional Defiant Disorder bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan gangguan perilaku yang memerlukan perhatian khusus. Dengan deteksi dini, pendekatan konsisten dari orang tua dan guru, serta terapi berbasis bukti, anak dengan ODD tetap memiliki peluang besar untuk berkembang sehat secara emosional dan sosial.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Risma Elina (Magang)
redaktur: jatmiko





























