Kamis, Juni 11, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

MBG: Kembalikan Eksekusi ke Komite Sekolah, Jangan Birokrasi

Redaksi by Redaksi
Juni 1, 2026 12:57 pm
in Catatan
Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si. Foto/dok

Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si

Tugumalang.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah investasi strategis bagi masa depan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Namun, niat baik saja tidak cukup. Risiko terbesar MBG bukan pada kekurangan anggaran, melainkan pada model implementasi yang cenderung sentralistik dan birokratis.

READ ALSO

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Jika pemerintah pusat dan daerah memosisikan diri sebagai eksekutor utama, kita berisiko mengulang kegagalan program bantuan sosial masa lalu: kebocoran anggaran, inefisiensi logistik, dan hilangnya rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat.

Baca Juga: Diskominfo Kabupaten Malang Sediakan Call Center Pengaduan MBG

Sejarah mengajarkan bahwa program yang dikelola secara top-down rentan terhadap asimetri informasi. Birokrat di ibu kota mustahil mampu memantau kualitas harian makanan di ribuan sekolah pelosok secara akurat.

Rantai pasok yang panjang melalui vendor besar juga membuka celah praktik korupsi dan mark-up harga. Dampaknya, nilai riil gizi yang diterima anak-anak akan berkurang.

Lebih parah lagi, ketika program ini dirasakan sebagai “pemberian negara” yang dikelola sepenuhnya oleh pihak luar, masyarakat akan bersikap pasif. Tidak ada insentif moral bagi orang tua untuk ikut mengawasi, karena mereka merasa hal tersebut bukan urusan mereka.

Solusinya sederhana namun revolusioner: Desentralisasi eksekusi ke Komite Sekolah.

Pemerintah harus menggeser perannya dari “eksekutor” menjadi “regulator dan fasilitator”. Biarkan Komite Sekolah dan perwakilan orang tua yang memilih vendor lokal (UMKM atau katering setempat), mengecek bahan baku, serta mengawasi penyajian harian.

Ada tiga alasan utama mengapa pendekatan ini jauh lebih efektif:

1. Orang Tua adalah Auditor Terbaik

Orang tua memiliki insentif tertinggi untuk memastikan makanan yang disajikan bersih, bergizi, dan layak. Hal ini menyangkut kesehatan anak mereka sendiri.

Baca Juga: Mobil MBG Oleng Tabrak 3 Rumah di Donomulyo Malang, Kerugian Rp18 Juta

Keterlibatan ini menciptakan sistem penjaminan mutu (Quality Assurance) alami yang berjalan secara real-time, jauh lebih cepat dan akurat daripada laporan inspektorat yang birokratis.

2. Efisiensi dan Stimulus Ekonomi Lokal

Dana MBG akan langsung diserap oleh UMKM, petani, dan peternak di sekitar sekolah. Skema ini menciptakan efek pengganda ekonomi (multiplier effect) yang memperkuat ketahanan pangan lokal, alih-alih mengalir ke rekening korporasi besar yang hanya bertindak sebagai perantara.

3. Membangun Demokrasi Partisipatif

Keterlibatan aktif orang tua dalam pengelolaan MBG adalah bentuk nyata dari pendidikan kewarganegaraan. Masyarakat belajar mengelola anggaran publik dan bertanggung jawab langsung atas kesejahteraan komunitasnya.

Menjaga Koridor Sipil dan Akuntabilitas

Satu poin krusial yang harus ditekankan: jangan libatkan aparat keamanan dalam operasional harian. Program sosial-edukatif adalah ranah pemberdayaan sipil, bukan operasi keamanan. Keterlibatan aparat justru berisiko mematikan inisiatif lokal dan menciptakan kesan intimidasi yang tidak perlu.

Pengawasan integritas dan transparansi anggaran cukup dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital (seperti aplikasi pemantauan menu harian) serta audit acak berkala oleh inspektorat bersama LSM independen.

Indonesia bisa belajar dari kesuksesan Brasil melalui program Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE). Pemerintah Brasil mewajibkan minimal 30% dana pangan sekolah dibeli langsung dari petani keluarga lokal.

Pengawasan ketat dilakukan oleh dewan sekolah yang melibatkan orang tua murid secara aktif. Hasilnya, angka malnutrisi anak turun drastis dan pendapatan petani kecil melonjak secara signifikan.

MBG dipastikan gagal jika hanya dipandang sebagai proyek infrastruktur pangan birokratis. Program ini baru akan sukses jika bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial.

Pemerintah perlu berani mendelegasikan kewenangan. Biarkan komunitas sekolah yang memiliki sense of belonging tinggi menjadi garda terdepan. Ketika rakyat merasa memiliki program ini, mereka akan menjaganya dengan sepenuh hati. Itulah kunci utama keberlanjutan MBG.

 

*Dr. Aries Musnandar adalah dosen di Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang.
*Dr. Muhammad Effendi, M.Si, alumni Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), praktisi dan pemerhati pendidikan.

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: BirokrasiKomite Sekolahmbg

Related Posts

Sengketa tanah
Catatan

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Jumat, 5 Jun 2026
Hari Lahir Pancasila
Catatan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Senin, 1 Jun 2026
Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Momentum Hari Kebangkitan Nasional, refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib tentang kedaulatan algoritma di era digital. /Foto: Dok. Istimewa.
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Rabu, 20 Mei 2026
Tiko Ari. Foto/dok
Catatan

Hari Kebangkitan Nasional dan Tantangan Nyata Pekerja Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Rabu, 20 Mei 2026
Agama
Catatan

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (1)

Selasa, 19 Mei 2026
Next Post
Mahasiswa ITN Malang pemenang esai. Foto/dok. ITN Malang

Borong 8 Medali, Mahasiswa ITN Malang Unjuk Gigi di Malang Edu Fest 2026

BERITA POPULER

  • kedai rempah

    4 Rekomendasi Kedai Rempah di Malang yang Wajib Dicoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.