Tugumalang.id – Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933, dari keluarga santri dan ulama dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Sejak remaja ia menampakkan ketertarikan pada dunia organisasi dan jurnalistik.
Dia sempat menjadi ketua pelajar/mahasiswa di kalangan NU, dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 1960–1967.
Di ranah pers, Mahbub juga berkiprah. Dia menjadi Pemimpin Redaksi surat kabar Duta Masyarakat (1960–1970), serta aktif dalam organisasi wartawan, hingga menduduki jabatan tinggi di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Baca Juga: Bersejarah, Pelantikan IKA PMII Tingkat Rayon Pertama di Indonesia Digelar di Pesantren Rakyat
Kombinasi pengalaman sebagai santri, aktivis, politisi, dan jurnalis memberinya perspektif unik yang terekam dalam karya-karyanya.
1. Asal Usul
Asal Usul adalah kumpulan kolom dan tulisan Mahbub Djunaidi. Dalam karya ini, gaya khas Mahbub — satir, jenaka, dan kritis — sangat terasa. Tulisan-tulisannya sering mengejutkan pembaca dengan perumpamaan segar dan kritik sosial yang disampaikan dengan ringan. Sebagaimana dikatakan, Mahbub mampu membuat orang tertawa padahal isinya cukup serius.
2. Dari Hari ke Hari
Dalam Dari Hari ke Hari, Mahbub beralih ke ranah roman/novel. Versi terbaru buku ini diterbitkan oleh DIVA Press pada tahun 2018.
Buku ini sering disebut menarik dan renyah karena cara bercerita Mahbub: meskipun latar sering kali terkait realitas berat (sejarah, realitas politik, sosial), penyampaiannya ringan, jenaka, kadang satiris — mengajak pembaca melihat dengan kacamata berbeda.
3. Kolom demi Kolom
Karya Kolom demi Kolom adalah kumpulan kolom-kolom Mahbub selama periode aktifnya sebagai jurnalis/kolumnis. Di situ ia konsisten menulis dengan gaya khas: kritis terhadap kondisi sosial-politik, namun tetap menggunakan humor dan satire — sehingga meskipun topiknya berat, nuansanya tidak suram dan tetap bisa dinikmati.
Banyak pembaca menghargai kolom-kolom ini sebagai representasi jurnalisme moral ala Mahbub.
4. Humor Jurnalistik
Melalui Humor Jurnalistik, Mahbub menegaskan bahwa jurnalisme tak selalu harus kaku. Buku ini menampilkan tulisannya yang mengombinasikan fakta, kritik, dan humor — sebuah gaya yang memungkinkan pembaca merenung sekaligus terhibur. Banyak yang menyebut buku ini sebagai bukti bahwa satire dapat menjadi alat kritik sosial yang elegan.
Baca Juga: Bersejarah, Pelantikan IKA PMII Tingkat Rayon Pertama di Indonesia Digelar di Pesantren Rakyat
5. Angin Musim
Salah satu karya awal Mahbub adalah Angin Musim, sebuah novel yang ditulis pada tahun 1954. Karya ini menandai kehadiran Mahbub sebagai penulis fiksi — menunjukkan bahwa selain sebagai kolumnis dan jurnalis, ia juga menguasai narasi, karakter, dan cerita.
6. Politik Tingkat Tinggi Kampus
Karya berjudul Politik Tingkat Tinggi Kampus mengisahkan pengalaman dan pandangan Mahbub tentang dinamika politik di ranah kampus dan mahasiswa — sebuah wujud dari keterlibatannya dalam organisasi mahasiswa dan perjuangan ideologis.
Buku ini menggambarkan bagaimana perspektif keislaman, intelektual, dan aktivisme mahasiswa melebur dalam pribadi Mahbub.
Kumpulan karya-karya tersebut menunjukkan keragaman genre yang ditekuni Mahbub Djunaidi: dari kolom, esai, fiksi, hingga terjemahan.
Namun satu benang merah yang mengikat: komitmennya terhadap kritik sosial, kepekaan terhadap realitas umat, dan keyakinan bahwa pena bisa menjadi alat perjuangan — dengan cara yang elegan, satiris, tapi tetap bermartabat.
Banyak karyanya tetap relevan hingga hari ini, menjadi jembatan antara tradisi pesantren, intelektualisme, dan keterlibatan pada realitas sosial-politik Indonesia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (Magang)
Editor: Herlianto. A


















