Malang, Tugumalang.id – Berkat kegigihan dan kolaborasi dengan Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, berhasil menyulap Pantai Banyu Meneng menjadi destinasi wisata unggulan yang kini diminati wisatawan lokal hingga mancanegara.
Pantai Banyu Meneng yang terletak di pesisir selatan Malang ini awalnya hanyalah kawasan pesisir biasa yang belum banyak dikenal publik. Namun sejak 2014, dua tokoh masyarakat, Choirul Anam (akrab disapa Inung) dan Anisdianto, mulai merintis pengembangan pantai secara mandiri bersama warga dan bermitra resmi dengan Perhutani.
Daya Tarik Pantai Banyu Meneng: Bersih, Asri, dan Ramah Wisatawan

Dengan semangat gotong royong dan izin resmi dari Perhutani, warga setempat membuka akses jalan menuju pantai dan menjaga kebersihan kawasan secara konsisten. Hasilnya, Pantai Banyu Meneng kini dikenal sebagai salah satu pantai terbersih dan terfavorit di Malang Selatan.
“Awalnya memang berat, tapi kami tetap optimis dan kompak. Kuncinya adalah kebersamaan,” ujar Anisdianto saat ditemui di lokasi pada Kamis (17/7).
Baca juga: Berenang dengan Aman di Pantai Banyu Meneng
Dalam kunjungan ke lokasi, hadir pula Kepala Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, Wakil Administratur KPH Malang Sukirno, serta Kepala Sub Seksi Agroforestri dan Ekowisata Perhutani Malang, Dwi Susilowardhani. Kelik menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian LMDH dalam membangun ekowisata yang berkelanjutan.
“Saya kagum dengan kegigihan mereka. Tidak mudah mengubah pola pikir warga dari nelayan menjadi pelaku pariwisata. Tapi mereka berhasil, dan dampaknya sangat positif bagi ekonomi masyarakat sekitar,” ungkap Kelik.
Inung menambahkan, kunci utama keberhasilan adalah perubahan mindset masyarakat. Sebelumnya, mayoritas warga menggantungkan hidup dari melaut atau mencari rumput.
“Tapi setelah diberikan pemahaman, mereka bersedia ikut membangun kawasan wisata. Alhamdulillah, hingga kini masih bertahan dan berkembang,” ujar Inung.
Jadi Sorotan Wisatawan Mancanegara

Keberhasilan LMDH tidak hanya dikenal wisatawan lokal. Pada 6 Oktober 2018, tercatat 400 wisatawan asal Eropa berkunjung ke Pantai Banyu Meneng. Kesuksesan serupa terulang saat 400 wisatawan Asia datang kemudian.
Hal ini tak lepas dari strategi promosi LMDH yang aktif mengikuti berbagai pameran wisata lewat kerja sama dengan agen perjalanan. Upaya itu dinilai sebagai langkah cerdas dan modern, meski mereka tinggal jauh dari pusat kota.
Baca juga: 30 Rekomendasi Wisata Pantai di Malang
Sebanyak 50 anggota LMDH juga terus meningkatkan fasilitas di pantai. Mulai dari pembangunan 33 unit toilet, penyediaan kano (perahu dayung), hingga pelestarian terumbu karang untuk menarik wisatawan yang gemar menyelam. Mereka bahkan mulai menerapkan penggunaan bahasa Inggris di kalangan pedagang dan pengelola.
“Kami sudah menyiapkan kursus bahasa Inggris. Ini adalah bagian dari upaya kami memberikan pelayanan maksimal bagi wisatawan asing,” ujar Inung.
Perhutani Siap Dampingi dan Dorong Konservasi
Kelik Djatmiko menyatakan bahwa Perhutani akan terus mendampingi LMDH di kawasan Pantai Banyu Meneng. Ia juga mengapresiasi inovasi yang telah dilakukan, termasuk penyediaan fasilitas tarik tunai di lokasi wisata.
“Ini bukti pemikiran maju dari teman-teman LMDH. Tidak semua tempat wisata terpikir menyediakan ATM,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa aspek konservasi tetap harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, kelestarian alam akan berdampak langsung pada kelangsungan wisata.
“Kalau alamnya terjaga, maka wisatawan akan datang, dan ekonomi warga akan ikut terangkat,” tegas Kelik.
Baca juga: Perhutani Tegas: Konservasi Penyu di Bajul Mati adalah Harga Mati
Dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) tersebut, rombongan Perhutani juga menyambangi Pantai Bengkung yang masih satu kawasan. Sebelumnya, Perhutani juga telah mendorong program konservasi di Pantai Bajul Mati, bekerja sama dengan Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) dan Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Rully Novianto
redaktur: jatmiko





























