MALANG, Tugumalang.id – Sebuah rumah di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang terlihat sibukkan dengan aktivitas produksi rengginang di saat sebagian orang masih terlelap.
Setiap hari, sejak pukul 03.00 pagi, Muhammad Azmi bersama tujuh karyawannya telah berkutat memproduksi jajanan tradisional rengginang. Begitu matahari terbit, area depan rumah pun dipenuhi dengan rengginang-rengginang mentah yang dijemur hingga kering.
Sejak dirintis pada tahun 2020, Rengginang Kencana milik Azmi telah berkembang pesat. Saat ini, mereka bisa memproduksi hingga 50 kilogram rengginang setiap harinya.
Baca Juga: Yovie Perdana, Mahasiswa Unisma Terpilih Jadi Duta UMKM Jatim 2022
Usaha ini awalnya dirintis oleh orang tuanya, sebelum akhirnya dikembangkan lebih serius oleh Azmi. Sepulang dari pekerjaannya di luar negeri sebagai kru kapal, Azmi memutuskan untuk melanjutkan sekaligus mengembangkan usaha keluarga tersebut.

“Dulu pemasaran kami masih manual dari toko ke toko, sekarang kami sudah mengadopsi teknologi dan memasarkannya melalui aplikasi Shopee,” ujar Azmi.
Merambah pasar digital
Rengginang Kencana mulai berlari kencang sejak Azmi mulai menguasai penggunaan aplikasi Shopee di tahun 2022. Berbekal search engine Google, Azmi mulai belajar cara menggunakan Shopee dan terus tekun melakukan pemasaran di aplikasi tersebut.
Awalnya, hasil yang didapat jauh dari kata instan. Dalam seminggu, pesanan hanya satu atau dua paket. Bahkan dalam sebulan, jumlahnya belum tentu mencapai sepuluh. Namun, Azmi tidak menyerah. Ia terus belajar secara otodidak, perlahan memahami cara kerja platform digital tersebut.

Kerja keras itu kini membuahkan hasil. Jika dulu hanya hitungan jari, kini pesanan bisa menembus hingga 1.000 paket per hari, terutama saat momen seperti Ramadan. Dalam kondisi normal, pesanan berkisar di angka 100 per hari.
Inovasi rasa
Selain beralih ke pemasaran yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman, Azmi juga mengembangkan berbagai varian rasa rengginang. Saat masih dirintis oleh orang tua Azmi, Rengginang Kencana hanya memiliki dua rasa, yaitu terasi dan bawang.
Baca Juga: Puluhan Monyet di Wendit Masuk ke Permukiman Warga
Saat ini Rengginang Kencana menawarkan berbagai varian rasa, mulai dari bawang, terasi, udang, cumi, ketan hitam manis, dan pandan manis. Setiap bungkus rengginang memiliki berat 250 gram dan dibanderol dengan harga Rp24 ribu. “Rasa terasi yang paling laris,” kata Azmi.
Buka jaringan kemitraan
Selain memasarkan produk eceran di Shopee, Azmi juga membuka peluang kemitraan bagi reseller di seluruh Indonesia. Syaratnya, mereka harus membeli setidaknya 300 bungkus rengginang. Jika mereka menyanggupi, maka mereka bisa mendapatkan harga khusus.

“Saya atur biasanya satu kota satu reseller, biar nggak rebutan,” imbuh Azmi.
Kini, jaringan reseller Rengginang Kencana telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Sidoarjo, Surabaya, Kalimantan, hingga Papua. Total ada sekitar 10 reseller aktif yang membantu memperluas distribusi produk.
Tantangan bahan baku dan cuaca
Di balik kesuksesan Rengginang Kencana, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah fluktuasi harga bahan baku ketan yang kerap naik turun. Saat ini, harga ketan yang biasanya Rp16 ribu per kilogram naik menjadi Rp20 ribu.
Di samping itu, cuaca yang tak menentu juga menjadi tantangan bagi produksi rengginang. Saat hujan turun, produksi terpaksa dihentikan karena proses pengeringan rengginang sangat bergantung pada sinar matahari.
“Inginnya kami punya mesin pengering sendiri yang harganya puluhan juta Rupiah. Tapi modal untuk membeli mesin itu belum ada,” kata Azmi.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Azmi tetap berkomitmen menjalankan bisnisnya dengan tekun dan penuh kegigihan. Selain merasakan manfaat bagi dirinya sendiri, bisnis Rengginang Kencana juga telah memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Karyawan saya adalah tetangga-tetangga saya sendiri,” ujarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A


















