MALANG, Tugumalang.id – Tempe yang dijual di Pasar Kepanjen mulai mengalami penyusutan ukuran. Dengan harga yang tetap, pembeli kini mendapatkan tempe yang lebih tipis dibandingkan sebelumnya.
Salah satu penjual tempe dan tahu di Pasar Kepanjen, Widyawati, mengatakan tempe yang ia jual memang semakin tipis. Menurutnya, ukuran tersebut sudah ditentukan oleh pabrik yang memproduksi tempe.
“Kalau saya perhatikan memang lebih tipis,” kata Widyawati saat ditemui di lapaknya, Senin (8/6/2026).
Ia menjual satu papan tempe seharga Rp7 ribu. Meski harga per papan tidak berubah, ketebalan tempe mengalami pengurangan. Sementara itu, sebagian besar pembeli dinilai tidak terlalu memperhatikan perubahan tersebut.
“Pembeli sepertinya banyak yang nggak sadar karena mereka lebih memperhatikan lebar dibandingkan ketebalan,” jelas Widyawati.
Baca juga: Renyah dan Gurih! Keripik Tempe Sakeca dari Tugu Food Cocok Dijadikan Oleh-Oleh Malang

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menyebut melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar turut memengaruhi harga tempe di pasaran.
Pasalnya, sekitar 70 persen kebutuhan kedelai di Indonesia masih berasal dari impor yang transaksinya menggunakan Dollar. Per Selasa (9/6/2026), nilai tukar Rupiah terhadap Dollar telah mencapai Rp18.163.
“Ketika Rupiah terdepresiasi atau tertekan, tentu berdampak langsung terhadap perajin tahu tempe maupun produk turunannya, seperti keripik tempe,” ujar Joko.
Sebelumnya, harga kedelai berada di kisaran Rp8 ribu hingga Rp9 ribu per kilogram. Kini, harga kedelai telah menembus di atas Rp10 ribu per kilogram.
“Tentu mau nggak mau, kenaikan harga kedelai ini berdampak pada harga tempe. Input produksinya naik, maka output produksinya juga naik,” kata Joko.
Baca juga: Cara Kampung Sanan Olah Limbah Tempe Jadi Produk Bernilai
Ia menambahkan, langkah produsen maupun pedagang mengurangi ukuran tempe merupakan strategi yang terpaksa dilakukan untuk menjaga harga jual tetap terjangkau. Selain harga kedelai, biaya kemasan juga ikut terdampak oleh pelemahan Rupiah.
Menurutnya, harga plastik yang umum digunakan sebagai kemasan tempe turut mengalami kenaikan karena dipengaruhi nilai tukar Dollar.
“Melemahnya Rupiah juga memicu kenaikan harga kemasan yang kemudian mendorong kenaikan harga dari barang-barang pokok,” ujarnya.
Pada Mei 2026, inflasi di Kota Malang tercatat sebesar 0,18 persen, yang menunjukkan belum terjadi lonjakan harga yang signifikan. Meski demikian, Joko mengingatkan pemerintah daerah agar tetap mewaspadai potensi kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Agar daya beli masyarakat tidak terganggu dengan kenaikan harga ini, pemerintah daerah harus ikut berperan. Bisa dengan menyalurkan bantuan sosial agar daya beli masyarakat tidak terganggu,” kata Joko.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























