Tugumalang.id – Kampung Sanan yang dikenal sebagai sentra industri tempe di Kota Malang, berhasil mencuri perhatian publik dengan inovasi pengelolaan limbahnya yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Setiap harinya Kampung Sanan selalu memproduksi tempe hingga puluhan kilogram yang membuat limbah tempe juga ikut melimpah.
“Produksi tempe gak pernah berhenti kecuali hari raya, makanya setiap hari bisa sampai puluhan kilo bahkan kuintal,” ucap salah satu pekerja di rumah produksinya.
Warga Kampung Sanan tidak hanya berfokus pada hasil utamanya, tapi juga memanfaatkan limbah produksi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari produk makanan hingga energi.
Baca Juga: Mahasiswa PPG Prajabatan UM Gelar Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kulit Ari Kedelai di Kampung Sanan
Salah satu limbah utama yaitu sisa-sisa pengirisan tempe dari olahan keripik tempe yang dapat diolah lagi menjadi stik mendol.
“Sisa-sisa pengirisan tempe akan dikumpulkan, kemudian dikukus, dihaluskan, dibakar, lalu dicampur dengan tepung,” kata seorang produsen stik mendol.
Setelah melalui proses tersebut, adonan akan dicampur dengan bumbu-bumbu penyedap seperti bawang putih, garam, ketumbar, dan bumbu-bumbu lainnya, lalu akan dicetak dan digoreng hingga menjadi stik mendol dengan berbagai varian rasa.
Selain limbah irisan tempe, limbah tepung dari keripik tempe juga dimanfaatkan secara maksimal. Tepung halus yang tidak terpakai akan dijadikan dedak untuk pakan ayam atau bahan bakar alternatif untuk proses penggorengan.

Sementara remahan tepung yang berukuran lebih besar akan dipilah, dibumbui, dan dihangatkan untuk menjadi peyek tempe renyah yang akan dijual kepada pedagang-pedagang pecel dan rawon.
Sebelum melalui proses penggorengan, tempe akan direbus terlebih dahulu di wadah khusus. Saat proses perebusan, tempe akan mengeluarkan residu yang mengandung nutrisi.
Baca Juga: Festival Tempe Kampung Sanan, Agenda Tahunan Dinas Pariwisata Kota Malang
Residu ini dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk sapi. Di Kampung Sanan terdapat sekitar 800 sapi yang pakannya menggunakan residu dari rebusan tempe ini.
Kotoran sapi yang dihasilkan juga akan dikumpulkan dalam wadah khusus yang akan difermentasikan menjadi biogas. Biogas dari kotoran sapi ini akan disalurkan menggunakan pipa-pipa yang tersebar di rumah-rumah warga yang dapat dimanfaatkan untuk sumber listrik. Inovasi ini menciptakan siklus energi yang efisien dan berkelanjutan.
“Kotoran sapi akan dikumpulkan di wadah yang terdapat dua tabung, yang satu untuk membuang kadar airnya, yang satu untuk mengalirkan gasnya. Kemudian gas itu akan keluar lewat paralon yang disalurkan ke rumah-rumah warga,” ucap Ibu RT di Kampung Sanan.
Tak hanya itu, limbah kulit tempe yang biasanya dibuang, Kampung Sanan bisa memanfaatkannya menjadi tepung yang dapat diolah lagi menjadi berbagai produk.
Limbah kulit tempe dikumpulkan dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum digiling untuk menjadi tepung. Melalui tepung ini dapat menghasilkan produk makanan seperti kue, cemilan, puding, dan sebagainya, yang dapat dijual kembali oleh pelaku UMKM setempat.
Melalui upaya pengolahan limbah secara menyeluruh dan maksimal ini, Kampung Sanan tidak hanya menjadi sentra produksi tempe tetapi juga menjadi pionir dalam pengolahan dan pengelolaan limbah tempe yang berbasis ekonomi sirkular.
“Anggota Ibu mengolah limbah-limbah untuk dijadikan cuan cuan cuan, jadi dari hulu ke hilir tidak ada yang tersisa,” jelas Ibu Trinil selaku ketua dari komunitas GOSOYA.
Inovasi ini tidak hanya menguntungkan warga Kampung Sanan tetapi juga menguntungkan kita semua berkat inovasinya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Vio Aminno Jekaharap
Editor: Herlianto. A































