Selasa, Juni 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Kassel, Kota yang Menyimpan Luka

Redaksi by Redaksi
April 20, 2026 8:04 am
in Catatan
Ini adalah Die Rampe, sebuah mahnmal karya seniman E. R. Nele yang diresmikan pada 8 Mei 1985. Foto/Didit Saleh

Ini adalah Die Rampe, sebuah mahnmal karya seniman E. R. Nele yang diresmikan pada 8 Mei 1985. Foto/Didit Saleh

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Didit Saleh*

Tugumalang.id – Sudah lebih dari seminggu saya tinggal di asrama mahasiswa, dan minggu pertama itu terasa cukup berat dengan caranya sendiri. Tidur menjadi susah karena perbedaan waktu enam jam, sementara di luar cuaca mulai menggigit karena musim gugur telah tiba dan musim dingin sudah mengintip di ujungnya.

READ ALSO

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani

Tahun Lama yang Tetap Bermakna: Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448

Ada rutinitas baru yang sebenarnya sudah saya pelajari sejak dua puluh tujuh tahun lalu tepatnya saat sekolah di pondok pesantren Sukorejo, yaitu mencuci pakaian sendiri, berbelanja di supermarket yang labelnya masih setengah teka-teki, memasak di dapur yang tidak mengenal aroma masakan Indonesia.

Di tengah semua itu, rindu datang paling keras ketika menelepon istri dan anak. Saya teringat kebiasaan kami bermain “hompimpa” setiap malam sebelum anak saya tidur. Ritual kecil yang tidak pernah “terasa penting” sampai tiba-tiba tidak bisa lagi dilakukan.

Didit Saleh berfoto dengan latar belakang Kota Kessel Jerman. Foto/Didit Saleh
Didit Saleh berfoto dengan latar belakang Kota Kessel Jerman. Foto/Didit Saleh

Untungnya istri selalu menyelipkan pengingat yang tepat sasaran di setiap percakapan bahwa tidak banyak orang yang mendapat kesempatan seperti ini untuk belajar. Kalimat itu tidak panjang, tapi cukup untuk menyalakan kembali sesuatu yang hampir padam.

Baca Juga: Berbicara di Kantor Rosa Luxemburg Stiftung

Kassel adalah kota pertama yang menyambut saya di Jerman, dan seperti semua pertemuan pertama yang jujur dan tidak berpura-pura mudah.

Lahir Kembali dari Abu

Kassel bukan kota yang cantik dalam arti yang dangkal dan mudah. Ia adalah kota yang hancur berat dalam Perang Dunia II, diratakan oleh serangkaian pengeboman yang tidak menyisakan banyak dari wajah lamanya.

Pada malam 22 Oktober 1943, sekitar lima ratus pesawat pengebom Inggris meratakan hampir seluruh pusat kota dalam waktu kurang dari satu jam. Lebih dari sepuluh ribu orang tewas malam itu, dan sekitar delapan puluh persen bangunan di pusat kota hancur.

Ada ironi yang pahit dalam pengeboman itu karena salah satu alasan utama mengapa Kassel menjadi target adalah justru karena pabrik Henschel yang berdiri di jantung kota.

Pabrik raksasa yang pada masa perang menjadi salah satu produsen senjata dan tank terpenting bagi mesin perang Nazi. Kota itu dihancurkan sebagian besar karena apa yang diproduksi di dalamnya.

Kassel yang kita lihat hari ini adalah Kassel yang dibangun di atas reruntuhan itu, dan tidak seperti beberapa kota Jerman yang memilih merekonstruksi wajah lamanya, Kassel memilih untuk membangun ke depan, dengan gedung-gedung fungsional pasca perang yang tidak selalu indah tapi selalu jujur tentang dari mana ia datang.

Kejujuran itu terasa di mana-mana. Dalam proporsi jalan-jalan yang terlalu lebar karena dirancang ulang setelah kehancuran. Dalam perpaduan antara bangunan tua yang selamat dan gedung-gedung modern yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan bom.

Baca Juga: Tembok Berlin Tidak Sepenuhnya Runtuh

Dalam cara kota ini tidak menyembunyikan luka-lukanya di balik fasad yang menawan, melainkan membiarkannya terlihat sebagai bagian dari cerita yang tidak boleh dilupakan.

Bagi saya yang baru beberapa hari tinggal di sini, Kassel mengajarkan sesuatu yang tidak segera saya pahami sepenuhnya, bahwa cara sebuah kota memperlakukan sejarahnya adalah cerminan dari cara ia memandang dirinya sendiri dan masa depannya.

Membaca dengan Cara Lain

Beberapa hari setelah tiba, seorang profesor dari kampus mengajak saya dan kolega berkeliling pusat kota Kassel. Bukan sekadar tur orientasi biasa yang memperkenalkan halte bus dan lokasi perpustakaan terdekat.

Ia menyebutnya sebuah post-colonial tour, sebuah perjalanan yang membaca kota ini melalui lensa yang berbeda, melalui pertanyaan tentang apa yang diingat dan apa yang dilupakan, siapa yang dirayakan dalam patung-patung di alun-alun dan siapa yang tidak pernah mendapat tempat di sana, bagaimana kekuasaan bekerja tidak hanya melalui senjata dan undang-undang tapi juga melalui bangunan, institusi, dan cara pengetahuan diproduksi dan disebarkan.

Perjalanan beberapa jam itu mengubah cara saya melihat Kassel dan mengubah cara saya melihat kota-kota lain yang kemudian saya kunjungi di Eropa.

Tapi sebelum tur itu berlangsung, saya sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh setiap kali berjalan di kampus tempat saya belajar, Universitas Kassel di Holländischer Platz. Ada sesuatu dalam arsitektur kampus itu yang tidak terasa seperti kampus biasa.

Universitas Kassel di Holländischer Platz. Foto/Didit Saleh
Universitas Kassel di Holländischer Platz. Foto/Didit Saleh

Beberapa gedungnya terlalu tua, terlalu industrial, dengan dinding yang tebal dan proporsi yang tidak lazim untuk bangunan akademis.

Kampus Holländischer Platz berdiri di atas bekas lahan pabrik Henschel, salah satu perusahaan industri paling penting dalam sejarah Jerman. Didirikan pada 1810 sebagai pabrik pengecoran, Henschel berkembang menjadi produsen lokomotif yang tersohor di seluruh dunia.

Pada 1837, pabrik dibangun tepat di lokasi yang kini menjadi jantung kampus universitas. Tapi sejarah Henschel memiliki babak yang jauh lebih gelap. Pada masa Perang Dunia II, pabrik ini berubah menjadi salah satu kompleks produksi senjata terbesar Jerman, memproduksi tank dan berbagai perlengkapan perang, dan mempekerjakan ribuan pekerja paksa dari berbagai negara Eropa yang diduduki Nazi dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Baca Juga: Mazhab Frankfurt, Ketika Catatan Kaki Menjadi Nyata

Justru karena kepentingannya sebagai pabrik senjata itulah Kassel menjadi target pengeboman besar Sekutu yang menghancurkan kota ini, sebuah lingkaran tragis di mana kota dihancurkan sebagian karena apa yang diproduksi di dalam tanah yang kini saya injak setiap hari untuk pergi kuliah.

Beberapa gedung asli Henschel masih berdiri hingga hari ini dan kini digunakan oleh universitas. Setiap hari, tanpa selalu menyadarinya mahasiswa berjalan masuk ke dalam gedung-gedung yang dindingnya menyimpan memori dari salah satu babak paling kelam dalam sejarah Eropa.

Sejak 2014, universitas membuat sebuah jalur yang mereka sebut Weg der Erinnerung (Jalur Peringatan), yang menghubungkan berbagai titik di kampus dan mengingatkan siapa pun yang berjalan di atasnya tentang apa yang pernah terjadi di tanah yang sama.

Di halaman kampus, di tempat yang dilewati mahasiswa setiap hari, berdiri sesuatu yang tidak mudah diabaikan tapi mungkin sering tidak diperhatikan dengan cukup seksama oleh mereka yang sudah terbiasa melihatnya.

Sebuah gerbong barang tua, gerbong kayu berwarna coklat tua tanpa jendela, gerbong asli dari Reichsbahn, kereta api era Nazi Jerman. Dari pintu gerbong itu mengalir sebuah rampa ke bawah, dan di atasnya berdiri tiga sosok berjas.

Tapi jika Anda menatap lebih lama, Anda akan menyadari sesuatu yang menggelisahkan. Di dalam jas-jas itu tidak ada manusia. Hanya jas. Hanya bentuk tubuh yang kosong. Seolah manusianya sudah hilang, sudah diambil, sudah tidak ada, tapi bekasnya masih tertinggal dalam pakaian yang mereka kenakan.

Ini adalah Die Rampe, sebuah mahnmal karya seniman E. R. Nele yang diresmikan pada 8 Mei 1985, tepat empat puluh tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Nama Rampe merujuk pada peron di kamp-kamp pemusnahan Nazi, tempat para tahanan digiring keluar dari gerbong kereta untuk menjalani nasib yang kebanyakan dari mereka tidak pernah kembali darinya.

Lokasinya di kampus ini bukan kebetulan, ia adalah titik akhir dari Jalur Peringatan yang sengaja dirancang untuk menghubungkan seluruh lapisan sejarah tempat ini, dari pabrik lokomotif yang tersohor, ke pabrik senjata yang menggunakan pekerja paksa, ke kampus universitas yang berdiri di atasnya dan memilih untuk tidak melupakan apa yang pernah terjadi di sana.

E. R. Nele sendiri adalah putri Arnold Bode, pendiri documenta, dan ia menghabiskan masa kecilnya di Kassel. Dari jendela rumah neneknya, setiap hari ia menyaksikan para pekerja paksa yang dijejal dalam gerbong dan diangkut ke pabrik Henschel.

Anak kecil yang menyaksikan itu tumbuh menjadi seniman yang tidak bisa melupakan apa yang dilihatnya, dan Die Rampe adalah cara ia mengolah trauma yang bertahun-tahun disimpan menjadi sesuatu yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan oleh siapa saja yang berdiri di depannya.

Saya berdiri di sana cukup lama, menatap jas-jas kosong yang turun dari gerbong itu. Ada sesuatu dalam kekosongan itu yang lebih keras dari teriakan mana pun.

Justru karena tidak ada manusianya, justru karena yang tersisa hanya bekasnya, kosongnya itu terasa seperti sebuah pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab dengan sempurna, ke mana perginya manusia-manusia itu, dan bagaimana kita memastikan bahwa kekosongan itu tidak terulang lagi.

Dari kampus, post-colonial tour membawa kami ke depan Naturkundemuseum im Ottoneum, sebuah gedung tua yang berdiri dengan tenang di pusat kota. Dari luar ia terlihat seperti museum biasa, dengan arsitektur yang membawa kita ke abad-abad yang lalu.

Profesor kami tidak mengajak kami masuk. Kami berdiri di depannya, dan ia mulai bercerita tentang apa yang tersimpan di dalam, dan lebih penting lagi, tentang bagaimana ia tersimpan di sana dan mengapa itu penting untuk dipertanyakan.

Museum ini lahir di masa Eropa sedang berada di puncak ekspansi kolonialnya. Dan seperti banyak museum sejarah alam di seluruh Eropa, koleksinya tidak bisa dilepaskan dari konteks itu. Hewan-hewan yang diawetkan, artefak-artefak, bahkan dalam beberapa kasus sisa-sisa manusia, banyak di antaranya berasal dari wilayah-wilayah di luar Eropa yang saat itu berada di bawah kekuasaan atau pengaruh kolonial.

Cara objek-objek itu dikumpulkan, diklasifikasikan, dan dipamerkan mencerminkan cara pandang tertentu tentang dunia, sebuah cara pandang yang menempatkan Eropa di pusat dan segala sesuatu yang lain sebagai objek yang perlu dipelajari dan dikategorikan dari sudut pandang yang dianggap universal tapi sesungguhnya sangat partikular.

Ini yang kemudian terhubung dengan apa yang para ilmuwan menyebut sebagai scientific racism (rasisme ilmiah). Bukan dalam arti bahwa setiap orang yang pernah bekerja di museum ini adalah rasis dalam arti yang kasar dan personal, melainkan dalam arti yang lebih sistemik dan lebih sulit dilihat.

Bahwa sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengorganisir pengetahuan tentang manusia dan alam bukan sistem yang netral, ia lahir dari konteks kekuasaan tertentu, melayani kepentingan tertentu, dan menghasilkan hierarki tertentu yang menempatkan beberapa kelompok manusia di atas kelompok yang lain.

Ilmu pengetahuan, kata profesor kami, tidak pernah sepenuhnya bebas dari konteks sosial dan politiknya. Yang kita anggap sebagai fakta objektif sering kali adalah cerminan dari siapa yang memiliki kekuasaan untuk mendefinisikan apa yang dianggap sebagai fakta.

Bagi saya yang datang dari Indonesia, negeri yang pernah menjadi bagian dari sistem kolonial yang dibicarakan itu, penjelasan tersebut bukan hanya sebuah kuliah akademis.

Ia terasa seperti sebuah kunci yang membuka sesuatu yang selama ini saya rasa ada tapi belum bisa saya artikulasikan dengan jelas, bahwa banyak dari cara kita di Global South dilihat dan diperlakukan dalam sistem global hari ini tidak bisa dilepaskan dari warisan cara pandang yang diproduksi di tempat-tempat seperti ini, oleh orang lain, untuk kepentingan orang lain, tanpa banyak melibatkan suara kita sendiri.

Di sinilah Kassel memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak kota lain, yaitu tradisi documenta. Sejak 1955, setiap lima tahun Kassel menjadi pusat dunia seni kontemporer melalui pameran yang dikenal sebagai salah satu ruang paling kritis dan paling berani dalam dunia seni global.

Documenta bukan sekadar pameran dalam arti dekoratif, ia adalah ruang di mana pertanyaan-pertanyaan tentang dunia diajukan melalui bahasa seni yang seringkali menggelisahkan dan tidak nyaman.

Bahwa museum seperti Ottoneum dan tradisi documenta bisa berdiri di kota yang sama adalah sesuatu yang terasa seperti ketegangan yang produktif, antara warisan yang perlu dikritisi dan seni yang terus mengajukan kritik itu.

Di Antara Pohon dan Bayang-bayang Sejarah

Tapi Kassel bukan hanya tentang luka dan pertanyaan yang berat. Ia juga menyimpan keindahan yang muncul dari tempat yang tidak terduga, keindahan yang justru terasa lebih dalam karena datang setelah semua yang berat itu.

Suasana Kota Kassel di Jerman. Foto/Didit Saleh
Suasana Kota Kassel di Jerman. Foto/Didit Saleh

Orangerie Kassel terbentang di sepanjang tepi Sungai Fulda dengan megah dan tenang, sebuah taman barok yang dibangun pada abad ke-17 dan ke-18 sebagai bagian dari kompleks istana Landgrave Hessen-Kassel.

Ketika musim gugur datang, taman ini berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa. Pohon-pohon oak dan linden berjejer di sepanjang jalur setapak yang memanjang ke kejauhan, daunnya berubah menjadi warna-warna yang terasa seperti kebakaran yang tenang, kuning keemasan, oranye tua, merah yang menyala di tepinya.

Cahaya matahari musim gugur yang datang dari sudut yang rendah menerobos di antara pepohonan dan jatuh di permukaan kanal dengan cara yang membuat segalanya terasa seperti lukisan yang belum selesai.

Saya berjalan di sana dengan perasaan yang campuran antara kagum dan sesuatu yang lebih dekat ke rasa syukur, bahwa di kota yang baru beberapa pekan saya kenal ini, ada sudut seperti ini yang diam-diam menunggu untuk ditemukan, bahwa kota yang tampak keras dan dingin dari permukaannya menyimpan kelembutan seperti ini di dalamnya.

Kunjungan ke Bergpark Wilhelmshöhe datang di musim dingin, dan pengalaman itu berbeda lagi. Bergpark Wilhelmshöhe adalah taman pegunungan yang luasnya mencapai lebih dari 240 hektar dan diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO, sebuah perpaduan antara alam dan arsitektur yang dirancang dengan ambisi yang sangat besar.

Di puncaknya berdiri Monumen Herkules, sebuah struktur piramidal dengan patung Herkules di puncaknya yang dari kejauhan terlihat seperti seorang raksasa yang sedang mengawasi seluruh kota di bawahnya.

Di musim dingin, salju menutupi seluruh lereng taman dan danau-danau kecil di dalam kawasan itu membeku, airnya berubah menjadi es yang putih dan tenang.

Saya berdiri di atas salah satu danau yang membeku itu, merasakan dinginnya udara yang masuk ke paru-paru, dan melihat ke sekeliling, ke pepohonan yang gundul, ke gazebo putih kecil di kejauhan, ke langit abu-abu yang diam di atas segalanya. Ada keheningan di tempat itu yang membuat pikiran bergerak lebih lambat dan lebih dalam.

Di bawah bukit, menghadap ke hamparan taman yang luas, berdiri Schloss Wilhelmshöhe dengan fasadnya yang megah, kolom-kolom besar dan batu berwarna coklat kemerahan yang memantulkan langit yang berubah-ubah di setiap musim.

Bangunan ini menyimpan lapisan sejarah yang tidak sederhana. Setelah Perjanjian Tilsit pada 1807, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya Jérôme Bonaparte sebagai Raja Westphalia dengan Kassel sebagai ibu kotanya.

Istana ini berganti nama menjadi Napoléonshöhe dan menjadi kediaman resmi sang raja selama enam tahun, sebelum kerajaan itu bubar ketika Napoleon kalah pada 1813 dan Jérôme meninggalkan Kassel selamanya.

Perempuan yang Mengubah Konstitusi

Di Scheidemannplatz, di pusat kota Kassel, berdiri sebuah patung perunggu ukuran penuh seorang perempuan. Ia tidak berdiri di atas alas tinggi yang berjarak dari pejalan kaki yang melintas.

Ia berdiri langsung di atas permukaan trotoar yang sama, di ketinggian yang sama, sejajar dengan siapa pun yang kebetulan lewat atau berhenti untuk memperhatikannya.

Ia melangkah maju dengan kepala sedikit mendongak dan berkas-berkas dokumen di bawah lengannya, dengan ekspresi yang terasa seperti seseorang yang sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang penting dan tidak mau terlambat. Di bawah kakinya terukir namanya, Dr. Elisabeth Selbert.

Patung Dr. Elisabeth Selbert. Foto/Didit Saleh
Patung Dr. Elisabeth Selbert. Foto/Didit Saleh

Perempuan ini lahir di Kassel pada 1896 dan meninggal di kota yang sama pada 1986, dan di antara dua tanggal itu ia menorehkan sesuatu yang masih terasa dalam kehidupan setiap perempuan di Jerman hingga hari ini.

Sebagai salah satu dari empat perempuan yang dikenal sebagai Mütter des Grundgesetzes, Ibu-Ibu Konstitusi Jerman, ia berjuang keras untuk memasukkan kalimat yang sederhana tapi bertenaga ke dalam Pasal 3 Ayat 2 Konstitusi Jerman, Männer und Frauen sind gleichberechtigt, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang setara.

Kalimat itu awalnya ditolak oleh dewan konstituante. Selbert tidak menyerah. Ia berkeliling negeri, berbicara kepada publik, menggerakkan perempuan-perempuan dari berbagai kota untuk mengirimkan surat kepada dewan yang menolaknya. Dan akhirnya kalimat itu masuk ke dalam konstitusi, mengubah sejarah dengan cara yang kita masih rasakan akibatnya hari ini.

Kisah Selbert adalah kisah tentang kegigihan yang tidak glamor. Ia tidak lahir dari keluarga bangsawan dan tidak memiliki koneksi yang membuka semua pintu.

Ia belajar hukum sebagai ibu dari dua anak ketika sudah berumur tiga puluhan, menghadapi profesor yang memintanya keluar dari ruang kuliah ketika topik yang dibahas dianggap tidak pantas untuk telinga perempuan. Ia masuk ke profesi hukum hanya beberapa hari sebelum rezim Nazi menutup pintu itu sepenuhnya bagi perempuan.

Ia menghidupi keluarganya seorang diri ketika suaminya ditangkap oleh Nazi. Dan kemudian ia masuk ke ruang paling penting dalam sejarah demokrasi Jerman dan berjuang dengan suara dan argumennya untuk sesuatu yang seharusnya sudah menjadi hak semua orang sejak lama.

Ada sesuatu yang terasa tepat dalam cara patung itu ditempatkan, langsung di atas trotoar, tanpa alas yang memisahkan, seolah ia tidak ingin dipuja dari kejauhan melainkan ingin berjalan bersama, di atas permukaan yang sama, menatap ke arah yang sama.

Aku adalah Orang Asing

Tidak jauh dari tempat patung Elisabeth Selbert berdiri, di sebuah alun-alun di pusat kota Kassel, berdiri sebuah obelisk yang tingginya sekitar enam belas meter. Dari kejauhan ia terlihat seperti monumen kenegaraan biasa, serius dan formal.

Tapi ketika saya mendekat dan membaca tulisan yang terukir di permukaannya, saya terdiam. Tulisan itu bukan dalam bahasa Jerman. Ia ditulis dalam huruf Arab yang mengalir indah di permukaan batu itu, dan di bawahnya dalam bahasa Jerman, Inggris, dan Turki.

Bunyinya dalam bahasa Indonesia adalah sesuatu seperti ini, aku adalah orang asing dan kalian menerimaku. Sebuah kutipan dari Injil Matius 25:35, kata-kata yang usianya dua ribu tahun tapi yang pada hari itu, di alun-alun kota Jerman tempat saya sedang belajar hidup sebagai orang asing, terasa sangat baru dan sangat mendesak.

Ini adalah Das Fremdlinge und Flüchtlinge Monument, Monumen Orang Asing dan Pengungsi, karya seniman Nigeria-Amerika Olu Oguibe yang pertama kali dibuat untuk documenta 14 pada 2017 dan kemudian dipertahankan secara permanen di Kassel.

Ini adalah Das Fremdlinge und Flüchtlinge Monument, Monumen Orang Asing dan Pengungsi, karya seniman Nigeria-Amerika Olu Oguibe. Foto/Didit Saleh
Ini adalah Das Fremdlinge und Flüchtlinge Monument, Monumen Orang Asing dan Pengungsi, karya seniman Nigeria-Amerika Olu Oguibe. Foto/Didit Saleh

Oguibe menciptakan monumen ini sebagai pernyataan solidaritas terhadap para pengungsi dan migran yang pada tahun-tahun itu mengalir ke Eropa dalam jumlah besar, manusia-manusia yang meninggalkan rumah bukan karena pilihan melainkan karena tidak ada pilihan lain, karena perang, karena konflik, karena bencana yang tidak mereka undang.

Memilih kutipan dari Injil dan menulisnya pertama-tama dalam bahasa Arab adalah sebuah keputusan yang cerdas dan berani sekaligus, mengingatkan Eropa yang sedang berdebat tentang batas-batas dan identitas bahwa kata-kata tentang menyambut orang asing bukan sesuatu yang asing bagi tradisi mereka, ia ada dalam kitab suci yang menjadi salah satu fondasi peradaban mereka sendiri.

Dan menariknya, Kassel bukan baru hari ini belajar menyambut orang asing. Lebih dari tiga ratus tahun sebelum obelisk itu berdiri, Landgrave Karl von Hessen-Kassel membuka pintu kota ini bagi ribuan pengungsi Hugenot yang terusir dari Prancis setelah Edikt Nantes dicabut pada 1685.

Komunitas Hugenot itu membawa serta keahlian industri, tradisi kerajinan, dan semangat intelektual yang turut membentuk wajah kota ini selama berabad-abad.

Sebuah kota yang pernah menyambut pengungsi Hugenot, yang kemudian hampir seluruhnya rata dengan tanah dalam perang yang dipicu oleh kebencian dan kekuasaan, dan yang kemudian berdiri kembali dan meletakkan monumen tentang menyambut orang asing di jantung kotanya. Itu bukan kebetulan. Itu adalah sebuah pilihan tentang siapa mereka dan siapa yang ingin mereka jadikan.

Bahwa monumen ini lahir dari documenta adalah bagian dari benang merah yang menghubungkan banyak hal di kota ini, antara tradisi seni kritis dan pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan yang tidak pernah berhenti diajukan.

Saya berdiri di bawah obelisk itu dengan perasaan yang aneh dan sangat personal. Karena pada saat itu, saya sendiri adalah orang asing di kota ini.

Saya yang belum sepenuhnya paham bahasa di sekelilingnya, yang masih harus berpikir dua kali sebelum membuka mulut di depan umum, yang membawa dalam dirinya seluruh jarak antara Indonesia dan Jerman, antara segala yang akrab dan segala yang belum dikenal, antara suara istri dan anak yang hanya bisa didengar dari layar kecil dan keheningan kamar asrama yang belum terasa seperti rumah.

Dan kalimat itu, yang sudah berusia dua ribu tahun, terasa seperti sebuah pengingat bahwa menjadi orang asing bukan kondisi yang harus disembunyikan atau ditanggung sendiri dalam diam. Bahwa ada tradisi panjang dalam sejarah manusia yang menyambut bukan menolak, yang membuka pintu bukan menutupnya.

Kassel, kota pertama yang menyambut saya di Jerman, mengajarkan saya banyak hal dalam waktu yang singkat. Tentang luka yang tidak disembunyikan. Tentang kampus yang berdiri di atas bekas pabrik senjata dan memilih untuk tidak melupakannya.

Tentang ilmu pengetahuan yang tidak pernah netral. Tentang seni yang berani mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Tentang perempuan yang tidak menyerah.

Dan tentang kalimat dalam bahasa Arab di permukaan obelisk yang tinggi di pusat kota, yang mengingatkan siapa pun yang berdiri di bawahnya bahwa menyambut orang asing bukan kemurahan hati yang pilih-pilih, melainkan sebuah kewajiban yang sudah lama tertulis, jauh sebelum batas-batas negara ada dan jauh sebelum kita mulai mendebatkan siapa yang berhak ada di mana.

 

*Penulis adalah alumni Unisma Malang dan sedang studi di Universität Kassel

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: JermanKasselUnisma

Related Posts

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani
Catatan

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani

Selasa, 16 Jun 2026
Tahun Lama yang Tetap Bermakna: Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448
Catatan

Tahun Lama yang Tetap Bermakna: Muhasabah Menyambut Tahun Baru Hijriah 1448

Minggu, 14 Jun 2026
Sengketa tanah
Catatan

Sengketa Tanah: Kenapa Bisa Terjadi dan Bagaimana Cara Melindungi Hak Anda?

Jumat, 5 Jun 2026
Hari Lahir Pancasila
Catatan

Refleksi Hari Lahir Pancasila: Zainal Habib Soroti Kedaulatan Digital dan Keadilan Sosial

Senin, 1 Jun 2026
Dr. Aries Musnandar & Dr. Muhammad Effendi, M.Si. Foto/dok
Catatan

MBG: Kembalikan Eksekusi ke Komite Sekolah, Jangan Birokrasi

Senin, 1 Jun 2026
Abdul Hamid. Foto/dok
Catatan

Menolak Kolaborasi Sesat: Refleksi Lempar Jumrah dan Krisis Integritas di Era Modern

Selasa, 26 Mei 2026
Next Post
Salah satu aplikasi untuk meningkatkan fokus belajar yang bernama Forest. (Foto: Pinterest)

Sering Terdistraksi? Ini Rekomendasi Aplikasi untuk Fokus Belajar

BERITA POPULER

  • layanan gratis

    6 Layanan Gratis di Kota Malang yang Bisa Dimanfaatkan Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kafe dengan Cathedral Effect di Kota Malang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.