Oleh: Dr Aries Munandar & Prof Dr H Imam Suprayogo*
Tugumalang.id – Mengapa dunia Barat dan bangsa non-Muslim begitu perkasa menguasai sains, teknologi, dan kemakmuran material, sementara dunia Islam kerap tertinggal dalam urusan duniawi? Pertanyaan ini sering dijawab dengan apologetika usang yang mencampuradukkan sains dan agama secara serampangan.
Padahal, Islam sejak awal telah menggariskan pemisahan domain yang jelas: dualisme fungsional antara urusan jasmani dan ruhani. Pondasi ini ditegaskan kembali oleh guru saya, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Beliau memberi analogi sederhana yang menusuk: jasmani punya rumah, ruhani juga punya rumah.
Pelurusan Makna Insan
Langkah awal memahami dualisme ini adalah meluruskan istilah _insan_. Prof. Imam Suprayogo menekankan bahwa penyebutan kata _insan_ lebih tertuju pada aspek fisik, jasmani, atau dzahirnya.
Baca Juga: Tegaskan Kualitas Pendidikan, Unmer Malang Kukuhkan 3 Profesor Baru
Jika ditelusuri anatomi teks Al-Qur’an, kata _al-insan_ memang dilekatkan pada konotasi negatif. Manusia digambarkan ingkar, kikir, tergesa-gesa, zalim, lagi bodoh. Itu adalah deskripsi tentang sisi jasmani dan dzahir manusia yang rapuh.
Maka ketika kita bicara _insan kamil_, kita harus jujur: yang dimaksud “manusia sempurna” bukanlah kesempurnaan fisik, melainkan transformasi dari aspek jasmani menuju ruhani. Pelurusan ini penting agar kita tidak membangun sistem pendidikan di atas asumsi yang keliru tentang manusia.
Jasmani dan Ruhani Masing-Masing Punya Rumah
Prof. Imam menjelaskan, jasmani punya rumah seperti rumah tempat kita tinggal. Semua orang mesti punya rumah. Kalau tidak punya, ia disebut gelandangan dan liar. Rumah jasmani ini diurus dengan ilmu dunia, sains, teknologi, ekonomi, dan manajemen. Di sinilah berlaku hukum _“Antum a’lamu bi umuri dunyakum”_.
Sementara rumah ruhani adalah Baitullah. Ruhani butuh tempat kembali agar tidak liar dan gelandangan secara spiritual. Rumah inilah yang diakses manusia ketika shalat. Prof. Imam mengingatkan, ketika shalat seolah kita berada di Maqom Ibrahim, di Baitullah.
Maka muslim yang sedang shalat harus paham dulu kapan dan di mana ia berada. Kesadaran ini yang membuat shalat tidak jadi ritual kosong.
Shalat: Transformasi dari Insan ke Mukmin
Di sinilah titik lurusnya. Shalat bukan kegiatan mengubah dari muslim ke mukmin, melainkan perubahan dari _insan_ ke mukmin.
Sisi _insan_ yang jasmani, dzahir, dan rapuh itulah yang dididik dan ditransformasi melalui shalat. Jika dipahami esensinya dan dijalankan benar, shalat adalah kurikulum pendidikan ruhani utama untuk menaikkan kelas manusia. Dari makhluk jasmani yang rapuh menjadi mukmin yang imannya menghujam di hati dan mewujud dalam integritas tindakan.
Al-Qur’an menegaskan, shalat yang benar mencegah perbuatan keji dan munkar. Output sosialnya adalah lahirnya pribadi berakhlak mulia di ranah jasmani. Karena saat shalat, sisi _insan_ kita sedang pulang ke rumah ruhaninya, ke Baitullah.
Ruhani sebagai Rem Spiritual
Pemisahan domain ini menjelaskan mengapa bangsa Barat mampu memimpin peradaban modern. Mereka maju secara jasmani karena serius menggarap hukum-hukum kausalitas duniawi.
Tapi kemajuan jasmani tanpa rem spiritual melahirkan kerusakan. Ketika pendidikan ruhani berjalan lurus, ruhani itu menjelma menjadi kompas moral dan rem spiritual. Manusia yang bergelut dengan dunia keras penuh godaan akan terjaga.
Ruhani yang hidup melahirkan sifat wara’: mawas diri dan kehati-hatian. Dengan _wara’_, kemajuan materi tidak bertransformasi menjadi alat perusak bumi atau penindas sesama.
Penutup
Dualisme jasmani dan ruhani mengajarkan kita bersikap jujur dan proporsional. Urusan jasmani dikejar dengan hukum duniawi secara profesional. Urusan ruhani dijaga dengan jangkar Al-Qur’an dan Hadis.
Jika dualisme ini dipahami jernih, umat Islam bisa kembali unggul secara lahir dan batin. Punya rumah jasmani yang maju, dan punya rumah ruhani yang terjaga. Bukan jadi gelandangan di dunia, dan bukan jadi gelandangan di akhirat.
Penulis:
*Dr. Aries Musnandar_ Pemerhati Pendidikan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)
*Prof. Dr. H. Imam Suprayogo_Mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Editor: Herlianto. A


















