Senin, November 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani

Redaksi by Redaksi
Juni 16, 2026 3:54 pm
in Ruang Cendekia
Dr Aries Munandar (kiri) dan Prof Dr H Imam Suprayogo (kanan). Foto/dok

Dr Aries Munandar (kiri) dan Prof Dr H Imam Suprayogo (kanan). Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr Aries Munandar & Prof Dr H Imam Suprayogo*

Tugumalang.id – Mengapa dunia Barat dan bangsa non-Muslim begitu perkasa menguasai sains, teknologi, dan kemakmuran material, sementara dunia Islam kerap tertinggal dalam urusan duniawi? Pertanyaan ini sering dijawab dengan apologetika usang yang mencampuradukkan sains dan agama secara serampangan.

READ ALSO

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan

Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan

Padahal, Islam sejak awal telah menggariskan pemisahan domain yang jelas: dualisme fungsional antara urusan jasmani dan ruhani. Pondasi ini ditegaskan kembali oleh guru saya, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Beliau memberi analogi sederhana yang menusuk: jasmani punya rumah, ruhani juga punya rumah.

Pelurusan Makna Insan

Langkah awal memahami dualisme ini adalah meluruskan istilah _insan_. Prof. Imam Suprayogo menekankan bahwa penyebutan kata _insan_ lebih tertuju pada aspek fisik, jasmani, atau dzahirnya.

Baca Juga: Tegaskan Kualitas Pendidikan, Unmer Malang Kukuhkan 3 Profesor Baru

Jika ditelusuri anatomi teks Al-Qur’an, kata _al-insan_ memang dilekatkan pada konotasi negatif. Manusia digambarkan ingkar, kikir, tergesa-gesa, zalim, lagi bodoh. Itu adalah deskripsi tentang sisi jasmani dan dzahir manusia yang rapuh.

Maka ketika kita bicara _insan kamil_, kita harus jujur: yang dimaksud “manusia sempurna” bukanlah kesempurnaan fisik, melainkan transformasi dari aspek jasmani menuju ruhani. Pelurusan ini penting agar kita tidak membangun sistem pendidikan di atas asumsi yang keliru tentang manusia.

Jasmani dan Ruhani Masing-Masing Punya Rumah

Prof. Imam menjelaskan, jasmani punya rumah seperti rumah tempat kita tinggal. Semua orang mesti punya rumah. Kalau tidak punya, ia disebut gelandangan dan liar. Rumah jasmani ini diurus dengan ilmu dunia, sains, teknologi, ekonomi, dan manajemen. Di sinilah berlaku hukum _“Antum a’lamu bi umuri dunyakum”_.

Sementara rumah ruhani adalah Baitullah. Ruhani butuh tempat kembali agar tidak liar dan gelandangan secara spiritual. Rumah inilah yang diakses manusia ketika shalat. Prof. Imam mengingatkan, ketika shalat seolah kita berada di Maqom Ibrahim, di Baitullah.

Maka muslim yang sedang shalat harus paham dulu kapan dan di mana ia berada. Kesadaran ini yang membuat shalat tidak jadi ritual kosong.

Shalat: Transformasi dari Insan ke Mukmin

Di sinilah titik lurusnya. Shalat bukan kegiatan mengubah dari muslim ke mukmin, melainkan perubahan dari _insan_ ke mukmin.

Sisi _insan_ yang jasmani, dzahir, dan rapuh itulah yang dididik dan ditransformasi melalui shalat. Jika dipahami esensinya dan dijalankan benar, shalat adalah kurikulum pendidikan ruhani utama untuk menaikkan kelas manusia. Dari makhluk jasmani yang rapuh menjadi mukmin yang imannya menghujam di hati dan mewujud dalam integritas tindakan.

Al-Qur’an menegaskan, shalat yang benar mencegah perbuatan keji dan munkar. Output sosialnya adalah lahirnya pribadi berakhlak mulia di ranah jasmani. Karena saat shalat, sisi _insan_ kita sedang pulang ke rumah ruhaninya, ke Baitullah.

Ruhani sebagai Rem Spiritual

Pemisahan domain ini menjelaskan mengapa bangsa Barat mampu memimpin peradaban modern. Mereka maju secara jasmani karena serius menggarap hukum-hukum kausalitas duniawi.

Tapi kemajuan jasmani tanpa rem spiritual melahirkan kerusakan. Ketika pendidikan ruhani berjalan lurus, ruhani itu menjelma menjadi kompas moral dan rem spiritual. Manusia yang bergelut dengan dunia keras penuh godaan akan terjaga.

Ruhani yang hidup melahirkan sifat wara’: mawas diri dan kehati-hatian. Dengan _wara’_, kemajuan materi tidak bertransformasi menjadi alat perusak bumi atau penindas sesama.

Penutup

Dualisme jasmani dan ruhani mengajarkan kita bersikap jujur dan proporsional. Urusan jasmani dikejar dengan hukum duniawi secara profesional. Urusan ruhani dijaga dengan jangkar Al-Qur’an dan Hadis.

Jika dualisme ini dipahami jernih, umat Islam bisa kembali unggul secara lahir dan batin. Punya rumah jasmani yang maju, dan punya rumah ruhani yang terjaga. Bukan jadi gelandangan di dunia, dan bukan jadi gelandangan di akhirat.

 

Penulis:

*Dr. Aries Musnandar_ Pemerhati Pendidikan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)
*Prof. Dr. H. Imam Suprayogo_Mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor: Herlianto. A

Tags: Baratdualismeumat Islam

Related Posts

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan
Ruang Cendekia

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan

Sabtu, 31 Okt 2026
Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan
Ruang Cendekia

Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan

Rabu, 28 Okt 2026
Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun
Ruang Cendekia

Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun

Selasa, 27 Okt 2026
65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat
Ruang Cendekia

65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat

Senin, 26 Okt 2026
Ketika AI Tak Punya Nurani: Mengapa Karakter Ulul Albab UIN Malang Makin Relevan?
Ruang Cendekia

Ketika AI Tak Punya Nurani: Mengapa Karakter Ulul Albab UIN Malang Makin Relevan?

Senin, 26 Okt 2026
Mengapa Pemimpin Nasional Harus Minimal S1? Sebuah Seruan dari Dunia Pendidikan
Ruang Cendekia

Mengapa Pemimpin Nasional Harus Minimal S1? Sebuah Seruan dari Dunia Pendidikan

Senin, 26 Okt 2026
Next Post
Yayasan Yasmine Indonesia

Launching Yayasan Yasmine Indonesia Maju: Siap Berkolaborasi dan Bersinergi untuk Pembangunan Berkelanjutan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10222026 3
Iklantm 10222026 2
Iklantm 10212026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10192026 1
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10172026 1
Iklantm 10172026 2
Iklantm 10202026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.