Tugumalang.id – Langit-langit tinggi menjadi salah satu elemen desain yang kerap dijumpai pada kafe modern. Karakteristik ini menciptakan ruang yang terlihat lebih terbuka dibandingkan ruangan dengan plafon yang lebih rendah.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research menemukan bahwa tinggi langit-langit ruangan dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi.
Dalam penelitian yang dilakukan Joan Meyers-Levy dan Rui Zhu tersebut, ruangan dengan langit-langit tinggi lebih sering memunculkan perasaan bebas (freedom), sedangkan ruangan dengan langit-langit rendah lebih sering memunculkan perasaan terbatas (confinement).
Baca Juga: 5 Kafe dengan Vibes ‘Magic Hour’ dan City Light Terbaik di Kota Batu
Penelitian tersebut menemukan bahwa perasaan bebas yang muncul pada ruangan tinggi berkaitan dengan kecenderungan berpikir lebih abstrak, kreatif, dan melihat gambaran besar.
Sebaliknya, ruangan yang lebih rendah cenderung mendukung aktivitas yang membutuhkan perhatian pada detail dan ketelitian.
Dikenal Sebagai Cathedral Effect
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Cathedral Effect. Nama ini merujuk pada bangunan katedral yang umumnya memiliki ruang vertikal tinggi sehingga menciptakan kesan luas dan terbuka.
Istilah Cathedral Effect banyak digunakan untuk menjelaskan hubungan antara karakteristik fisik suatu ruang dengan proses berpikir manusia.
Konsep ini juga berkaitan dengan kajian mengenai persepsi ruang yang sebelumnya diperkenalkan oleh antropolog Amerika Edward T. Hall melalui teori proxemics, yaitu studi tentang bagaimana manusia menggunakan dan merasakan ruang di sekitarnya.
Beberapa Kafe di Malang dengan Karakteristik Serupa
Karakteristik ruang dengan langit-langit tinggi atau area yang terasa luas dapat ditemukan pada sejumlah kafe di Malang yang populer sebagai tempat bekerja, belajar, maupun berdiskusi sebagai berikut.
1. CW Coffee & Eatery – Simpang Ijen
Kafe ini memiliki area indoor yang cukup luas dengan langit-langit yang relatif tinggi dan desain industrial terbuka. Penggunaan struktur atap yang terekspos, jarak antarmeja yang tidak terlalu rapat, serta bukaan ruang yang besar membuat area di dalam kafe terasa lapang secara visual.
Karakter tersebut sering ditemukan pada ruang-ruang komunal yang digunakan untuk bekerja atau berkumpul dalam waktu cukup lama.
2. Nakoa Cafe
Nakoa memadukan area indoor, semi-outdoor, dan ruang terbuka sehingga sirkulasi ruang terasa lebih lega dibandingkan bangunan yang menggunakan banyak sekat.
Baca Juga: Rekomendasi Kafe Dekat Polinema yang Nyaman untuk Nugas dan Belajar
Transisi antara ruang tertutup dan area terbuka juga membuat pandangan pengunjung tidak langsung terhenti pada dinding atau partisi, sehingga ruang terasa lebih luas secara visual.
3. Labore Coffee Eatery
Labore memiliki area duduk yang luas dengan langit-langit tinggi pada beberapa bagian bangunan. Penataan meja yang tidak terlalu rapat serta volume ruang yang besar membuat area di dalam kafe terasa lebih terbuka.
Karakter seperti ini sering dipilih pada ruang yang ditujukan untuk aktivitas nongkrong, diskusi, maupun bekerja.
Dari luar, langit-langit tinggi mungkin hanya terlihat sebagai bagian dari desain bangunan. Namun dalam penelitian Joan Meyers-Levy dan Rui Zhu, elemen tersebut menjadi salah satu faktor yang diteliti dalam kaitannya dengan cara manusia memproses informasi di dalam suatu ruang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Nathasya Amalia/Magang
Editor: Herlianto. A


























