Kampanye Kesetaraan Gender melalui Buku Kisah Ketangguhan Putri Nusantara

  • Whatsapp
Prof Madya Dr Norhayati Ab Rahman. Foto: dok
Oleh: Prof Madya Dr Norhayati Ab Rahman – Jabatan Kesusasteraan Melayu Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya
Cerita rakyat sebagai produk masa lampau harus dipahami dalam konteksnya. Meskipun demikian, cerita rakyat tentu tetap dapat dihadirkan dengan pembaharuan. Inilah kiranya yang dilakukan oleh penulis ‘Kisah Ketangguhan Putri Nusantara’ yang dieditori oleh Azizatuz Zahro’.
Buku ‘Kisah Ketangguhan Putri Nusantara’ memuat empat cerita, yakni Kebijaksanaan Nyi Dasima yang ditulis oleh Azizatuz Zahro’ dan Andhika Afifah Nurjannah; Akulah Dewi Samboja, Putri Sunda yang Tangguh oleh Azizatuz Zahro’ dan Evi Eliyanah; Kisah Putri Tandampalik dan Pangeran Bone yang ditulis oleh Andhika Afifah Nurjannah dan Azizatuz Zahro’; serta Danau Toba dan Pulau Samosir oleh Andhika Afifah Nurjannah dan Evi Eliyanah. Buku yang diterbitkan oleh CV Beta Aksara bertanggal 20 November 2020 serta memiliki 52 halaman ini terdiri atas empat buah cerita.
Cerita-cerita dalam buku ini mengkampanyekan kesetaraan gender dan inklusi sosial yang tercermin dalam perilaku tokoh-tokohnya. Lewat tokoh Nyi Dasima dalam cerita Kebijaksanaan Nyi Dasima diperlihatkan perempuan sebagai pemimpin desa yang sangat prihatin dan empati terhadap penduduk desa yang dihimpit kemiskinan dan kesusahan hidup. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki kesempatan untuk berperan sebagai pemimpin, sebagaimana laki-laki, untuk berperan aktif dalam berbagai aktivitas ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, organisasi, dan lain sebagainya. Selain itu, Nyi Dasima juga dideskripsikan sebagai seorang perempuan yang mempunyai pendirian teguh, berprinsip, dan terlibat aktif dalam memutuskan nasibnya sendiri. Misalnya saja pada bagian Nyi Dasima yang secara tegas menolak lamaran Juk Seng yang baru dikenalnya. Bagian ini menunjukan bahwa perempuan juga mempunyai kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, sama seperti laki-laki. Hal terakhir yang bisa kita pelajari dari kisah Nyi Dasima adalah tentang kesetaraan gender. Tokoh-tokoh protagonis, baik laki-laki maupun perempuan, dalam kisah ini dideskripsikan sama derajatnya dan tidak ada yang lebih unggul dari yang lain.
Hal senada juga disampaikan lewat tokoh Dewi Samboja. Dewi Samboja adalah putri kerajaan di tanah Sunda. Meskipun sebagai seorang putri yang disayang kedua orang tuanya, Dewi Samboja lebih memilih sebagai putri yang bisa hidup mandiri. Sebagai perempuan yang memilih untuk mandiri, Dewi Samboja membekali dirinya dengan ilmu bela diri, belajar memasak, filsafat, dan belajar tentang pemerintahan. Hal ini mengisyaratkan bahwa perempuan juga memiliki komitmen, kesungguhan, dan kemampuan yang setara seperti laki-laki. Selain itu, Putri Dewi Samboja dicitrakan sebagai perempuan yang memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan yang tergambar dalam kepemimpinannya sebagai seorang ratu. Cerita Akulah Dewi Samboja, Putri Sunda yang Tangguh juga memuat nilai-nilai kesetaraan gender yang disisipkan ke dalam pemikiran-pemikiran Dewi Samboja. Salah satunya adalah pemikiran Dewi Samboja yang mendorong anak-anaknya harus memiliki kehidupan mandiri tanpa memandang jenis kelamin. Selain itu, Dewi Samboja digambarkan sebagai sosok putri yang bisa menumpas musuh yang mencoba untuk menduduki istana dan menyandra penduduk. Dalam cerita ini, sosok perempuan yang digambarkan sebagai pahlawan. Kepahlawanan perempuan selama ini jarang sekali diceritakan secara seimbang dengan kepahlawanan laki-laki dalam cerita-cerita anak.
Kisah Putri Tandampalik dan Pangeran Bone menceritakan tentang kisah Putri yang diasingkan karena menderita penyakit gatal-gatal. Meskipun sebagai seroang putri raja, Putri Tandampalik bersedia pergi ke luar istana karena takut penyakitnya menular ke orang lain. Setelah sembuh dari penyakitnya, Putri bertemu dengan pangeran Bone kemudian mereka saling jatuh cinta tanpa tahu asal-usul masing-masing. Tindak-tanduk Putri Tndampalik di kisah ini menyiratkan sebagai sosok perempuan yang bertanggung jawab kepada diri sendiri dan berpendirian teguh. Di akhir cerita, setelah Putri menikah dengan pangeran Bone, Putri Tandampalik diangkat sebagai seorang ratu. Putri memerintah negerinya bersama-sama dengan suami. Cerita ini ingin memberi pesan bahwa seorang perempuan dapat mengambil keputusan secara mandiri dan juga bisa terlibat aktif dalam bidang politik, sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki.
Cerita Danau Toba dan Pulau Samosir mengisahkan tentang mitologi Danau Toba dan Pulau Samosir. Kisahnya ialah tentang seorang pemuda bernama Toba yang hidup yatim piatu dan tinggal di sebuah gubuk kecil di sebuah desa. Suatu hari Toba memancing dan mendapat seekor ikan besar bersisik emas. Melihat ikan yang cantik, Toba tidak jadi memasak ikan tersebut, sebaliknya dia keluar untuk mencari makanan lain. Ketika pulang ke rumah didapati ikan tersebut telah tiada, sebaliknya ada kepingan emas dan di atas mejanya penuh dengan makanan lazat. Dari dapurnya muncul seorang perempuan, yang bercerita bahwa dia asalnya seorang putri yang dihukum menjadi ikan emas oleh dewa kerana melanggar peraturan. Singkat cerita, mereka berdua pun akhirnya meenikah dan dikaruniai seorang anak. Anak mereka sebenarnya tidak tahu asal-usul ibunya yang dari ikan. Namun Toba keceplosan mengatakannya karena marah atas kenakalan anaknya.
Sebenarnya cerita ini tidak begitu jelas dalam mengemukakan aspek kesetaraan gender dan inklusi sosial, namun menampakkan wujudnya berupa kesepakatan antara perempuan dan laki-laki dalam membina kehidupan bersama. Hal ini bisa disimpulkan dari kesepakatan awal bahwa Toba harus merahasiakan asal-usul istrinya yang berasal dari ikan. Sayangnya, Toba melanggar janjinya sehingga dia harus menerima konsekuensinya.
Cerita-cerita rakyat dalam buku ini menjadi tambah menarik dengan adanya ilustrasi dalam setiap cerita. Ilustrasi gambar yang dipakai di setiap cerita dalam buku ini mendukung isi atau tema tulisan serta relevan dengan tokoh dan latar penceritaan yang diutarakan. Selain itu, ilutrasi dalam buku ini menambah nilai estetik buku sehingga membuat pembacanya tidak mudah bosan.
Terdapat sedikit kekurangan dari buku ini yakni berasal dari judulnya Kisah Ketangguhan Putri Nusantara. Empat judul cerita rakyat yang dimuat tidak mencerminkan judulnya. Cerita-cerita dalam buku ini hanya berdasarkan latar masyarakat dan negara Indonesia saja, tidak mewakili wilayah Nusantara seluruhnya (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Selatan Thailand, dan Timur Timor). Kiranya ke depan, penulisan cerita sejenis dapat mewakili cerita dari seluruh Nusantara.(ads)
Baca Juga  Trilogi The Power of Silaturahim: Refleksi Pencapaian Sukses Berbasis Komunikasi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *